Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini dikenal sebagai hadits Jibril yang mengajarkan tiga tingkatan agama: Islam (rukun lahiriah), Iman (keyakinan batiniah), dan Ihsan (tingkat tertinggi dengan kesadaran selalu diawasi Allah). Hadits ini juga menerangkan bahwa ilmu tentang hari kiamat termasuk hal gaib yang hanya diketahui Allah, serta menyebut tanda-tandanya. Pelajaran utamanya adalah pentingnya mempelajari dan mengamalkan agama secara menyeluruh.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ dalam hadits:
<p>إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۚ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۚ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
(QS. Luqman [31]: 34)
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan; dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok; dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 10) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan lainnya dengan redaksi serupa.
Rujukan ulama dalam daftar:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (kitab al-Iman, bab “Ma‘a al-Islam wa al-Iman wa al-Ihsan”) menjelaskan bahwa hadits ini menjelaskan tingkatan agama dan bahwa Jibril datang dalam bentuk manusia untuk mengajarkan para sahabat.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari (kitab al-Iman) juga membahas hadits ini secara panjang lebar, menekankan bahwa Islam, Iman, dan Ihsan saling berkaitan.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam (syarh hadits ke-2 yaitu hadits Jibril) menguraikan secara rinci makna ihsan dan perbedaan antara Islam dan Iman.
- Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan hadits dengan sanad lain dari sahabat ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk hadits yang sangat agung karena mencakup inti ajaran Islam: Islam, Iman, dan Ihsan, serta tanda-tanda kiamat dan ilmu gaib.
1. Makna Islam
Nabi ﷺ menjawab: "Kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa di bulan Ramadhan." Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Islam adalah amal lahiriah yang terdiri dari lima rukun. Imam Ibnu Rajab menambahkan bahwa Islam adalah penyerahan diri kepada Allah dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Pertanyaan tentang Islam ini muncul pertama kali karena para sahabat sudah mengetahui dasarnya, tetapi Jibril ingin mengajarkan bahwa Islam adalah fondasi utama.
2. Makna Iman
Nabi ﷺ menjawab: "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan engkau beriman kepada kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya." Imam an-Nawawi mengatakan bahwa iman adalah keyakinan batin yang mencakup enam rukun. Ibnu Hajar menegaskan bahwa iman harus mencakup keyakinan kepada takdir baik dan buruk, sebagaimana disebut dalam hadits lain. Perlu dicatat bahwa dalam hadits ini disebut “pertemuan dengan-Nya” dan “kebangkitan” yang merupakan inti dari hari akhir.
3. Makna Ihsan
Nabi ﷺ bersabda: "Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." Ibn Rajab dalam syarahnya menerangkan bahwa ihsan adalah tingkatan tertinggi dan inti dari agama. Artinya, seorang hamba beribadah dengan penuh kesadaran bahwa Allah selalu hadir dan mengawasinya. Imam an-Nawawi mengutip bahwa ihsan lebih khusus dan lebih tinggi dari iman – setiap muhsin adalah mukmin, tetapi tidak setiap mukmin mencapai derajat ihsan.
4. Tanda-tanda Kiamat dan Ilmu Gaib
Ketika ditanya kapan kiamat terjadi, Nabi ﷺ menolak memberikan waktu pastinya, lalu menyebut tiga tanda:
- Budak wanita melahirkan tuannya (tanda perubahan sosial dan hilangnya nilai-nilai).
- Orang yang telanjang, miskin, dan bodoh menjadi penguasa bumi.
- Para penggembala kambing bersaing dalam mendirikan bangunan tinggi.
Kemudian Nabi ﷺ membacakan ayat Luqman [31]: 34 yang menegaskan bahwa ilmu kiamat adalah hak prerogatif Allah. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa tanda-tanda ini adalah peringatan agar kita selalu waspada dan mempersiapkan diri.
5. Pelajaran dari Kedatangan Jibril
Setelah lelaki itu pergi, Nabi ﷺ meminta para sahabat memanggilnya kembali tetapi tidak ditemukan. Beliau bersabda, "Ini adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kalian agama ketika kalian tidak bertanya." Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan keutamaan bertanya tentang urusan agama, serta adab para sahabat yang tidak ingin memberatkan Nabi. Kisah ini juga mengajarkan bahwa ilmu bisa diperoleh dengan berbagai cara, termasuk melalui perantara malaikat yang menjelma.
Pendapat Ulama tentang Perbedaan Islam dan Iman
Imam Ahmad dan Imam al-Bukhari berpendapat bahwa Islam dan Iman memiliki makna yang saling terkait. Dalam hadits ini, ketika ditanya “apa itu islam” Nabi menyebutkan amal lahir, dan ketika ditanya “apa itu iman” beliau menyebutkan keyakinan batin. Namun dalam dalil lain keduanya bisa digunakan secara bergantian. Imam an-Nawawi memilih pendapat bahwa iman adalah pembenaran hati, sedangkan islam adalah amal perbuatan, dan keduanya tidak bisa dipisahkan.
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari sahabat ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu bahwa suatu hari datang seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya dan hitam rambutnya, tidak tampak bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Laki-laki itu duduk di hadapan Nabi ﷺ lalu menanyakan tentang Islam, Iman, Ihsan, dan kiamat. Setelah lelaki itu pergi, Nabi ﷺ bertanya kepada ‘Umar, "Tahukah kamu siapa yang bertanya?" ‘Umar menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Nabi ﷺ bersabda, "Dia adalah Jibril, datang mengajarkan agama kalian." (HR. Muslim no. 8)
Hikmah dari kisah ini: Para sahabat merasa segan bertanya karena takut dianggap kurang ajar atau tidak sopan. Maka Jibril datang dalam bentuk manusia untuk memberi contoh cara bertanya yang baik. Ini mengajarkan kita bahwa bertanya tentang agama adalah perkara yang mulia, dan hendaknya kita selalu bersemangat menuntut ilmu tanpa rasa malu yang berlebihan.
Kesimpulan Praktis
- Islam harus diamalkan dengan melaksanakan shalat, zakat, puasa, dan menjauhi syirik.
- Iman harus diyakini dengan hati melalui enam rukun, termasuk takdir dan hari akhir.
- Ihsan adalah derajat tinggi dengan beribadah seolah-olah melihat Allah, atau setidaknya sadar bahwa Allah melihat kita.
- Ilmu tentang kiamat adalah rahasia Allah; kita hanya mengetahui tanda-tandanya dan harus selalu bersiap.
- Jangan ragu bertanya tentang masalah agama dan jangan merasa malu untuk belajar dari para ulama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.