Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 976 tentang Perintah merapikan barisan shalat dan berdiri dekat imam

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan pentingnya merapikan dan meluruskan barisan shalat, serta tidak saling berselisih dalam posisi. Rasulullah ﷺ juga memerintahkan agar orang-orang yang berakal dan berilmu (ulul ahlam wan nuha) berdiri paling dekat dengan beliau, lalu diikuti oleh generasi setelah mereka. Tujuannya adalah menjaga keteraturan, persatuan hati, dan keteladanan dalam shalat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 976) dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, melalui jalur Sufyan bin ‘Uyainah, dari Al-A’masy, dari ‘Umarah bin ‘Umair, dari Abu Ma’mar, dari Abu Mas’ud. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim (no. 432) dan lainnya dengan makna serupa.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِيِّ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاَةِ وَيَقُولُ "لاَ تَخْتَلِفُوا، فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، لِيَلِيَنِي مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ"

Terjemahan: “Rasulullah ﷺ biasa membelai bahu kami (untuk memastikan barisan lurus) saat shalat, sambil berkata: ‘Jangan saling berbeda (dalam barisan) agar hati kalian tidak berselisih. Hendaklah yang berdiri paling dekat denganku adalah orang-orang yang berakal dan berilmu, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.’”

Dalil Al-Qur’an yang mendukung pentingnya persatuan dan keteraturan:

QS. Ash-Shaff [61]: 4

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

Terjemahan: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.”

Ayat ini menunjukkan bahwa keteraturan barisan adalah perkara yang dicintai Allah, dan ini mencakup barisan dalam shalat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Anjuran meluruskan barisan shalat

Rasulullah ﷺ secara langsung membelai bahu para sahabat untuk memastikan barisan lurus dan rapat. Ini menunjukkan bahwa perkara ini bukan sekadar sunnah ringan, tetapi mendapat perhatian khusus dari beliau. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa meluruskan barisan adalah bagian dari kesempurnaan shalat dan menjaga kekhusyukan.

  1. Larangan berselisih dalam barisan

Sabda beliau “لاَ تَخْتَلِفُوا” (jangan saling berbeda) berarti jangan saling mendahului atau mundur, jangan membiarkan celah, dan jangan berselisih pendapat dalam penempatan. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa perselisihan dalam barisan dapat menyebabkan perselisihan hati, karena zhahirnya amal mempengaruhi batin.

  1. Prioritas tempat shalat

“لِيَلِيَنِي مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى” — yang dimaksud ulul ahlam adalah orang-orang yang berakal matang, dan an-nuha adalah orang-orang yang memiliki pemahaman dan ilmu. Mereka didahulukan berdiri di shaf pertama karena mereka lebih mampu mengikuti gerakan imam dengan benar, lebih memahami fiqih shalat, dan dapat menggantikan imam jika terjadi sesuatu. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (kitabnya) menyebutkan bahwa ini juga agar mereka dapat mengingatkan imam jika lupa.

  1. Tingkatan shaf

“ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ” menunjukkan bahwa shaf pertama lebih utama, lalu shaf berikutnya. Ini bukan berarti melarang orang biasa di shaf pertama, tetapi memberikan prioritas kepada ahli ilmu dan akal. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma’ad menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar orang-orang yang dekat dengan imam adalah mereka yang paling siap menerima koreksi dan paling memahami tata cara shalat.

  1. Perbedaan pendapat ulama

Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa makruh hukumnya bagi orang yang tidak berilmu untuk maju ke shaf pertama jika ada orang berilmu yang lebih berhak. Namun Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa shaf pertama tetap utama bagi siapa saja yang datang lebih awal, kecuali jika ada kebutuhan mendesak. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah menggabungkan keduanya: shaf pertama utama, tetapi orang berilmu lebih utama untuk berada dekat imam, terutama dalam shalat berjamaah yang membutuhkan keteladanan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melihat seseorang yang selalu berusaha maju ke shaf pertama padahal ia tidak memiliki ilmu yang cukup. Umar pun menegurnya dengan lembut dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengajarkan bahwa yang berhak dekat dengan imam adalah orang-orang yang berakal dan berilmu.” Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fathul Bari sebagai contoh penerapan hadits Abu Mas’ud ini. Hikmahnya: kita diajarkan untuk menempatkan orang sesuai dengan keahliannya, dan dalam ibadah pun demikian.

Kesimpulan Praktis

  • Luruskan dan rapatkan barisan shalat, jangan biarkan ada celah.
  • Jangan saling mendahului atau berselisih dalam penempatan shaf.
  • Berikan kesempatan kepada orang yang berilmu dan berakal untuk berada di shaf terdekat dengan imam.
  • Shaf pertama lebih utama, tetapi keutamaan ini lebih sempurna jika diisi oleh ahli ilmu.
  • Jagalah persatuan hati dengan menjaga keteraturan dalam shalat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?