Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 899 tentang Bacaan tasyahhud dan larangan salam kepada selain Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang lafaz tasyahhud dalam shalat. Hadits ini mengajarkan kita adab yang sangat agung: jangan mengucapkan salam kepada Allah, karena Allah-lah sumber keselamatan (As-Salam) dan Dia tidak membutuhkan salam makhluk-Nya. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ, kepada diri kita sendiri, dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh. Lafaz tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ ini dikenal dengan Tasyahhud Ibnu Mas'ud dan merupakan salah satu bacaan tasyahhud yang paling sahih dan masyhur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pelaksanaan Shalat dan Sunnahnya, Bab Apa yang Dikatakan dalam Tasyahhud, no. 899. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahih mereka, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits (bagian inti):

قَالَ كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ ـ ﷺ ـ قُلْنَا السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ قَبْلَ عِبَادِهِ السَّلاَمُ عَلَى جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَعَلَى فُلاَنٍ وَفُلاَنٍ ‏.‏ يَعْنُونَ الْمَلاَئِكَةَ ‏.‏ فَسَمِعَنَا رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ فَقَالَ ‏"‏ لاَ تَقُولُوا السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلاَمُ فَإِذَا جَلَسْتُمْ فَقُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِنَّهُ إِذَا قَالَ ذَلِكَ أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ‏.‏ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ‏"‏

Terjemahan ringkas: "Ketika kami shalat bersama Nabi ﷺ, kami mengucapkan: 'Salam sejahtera bagi Allah dari hamba-hamba-Nya, salam sejahtera bagi Jibril dan Mikail dan si fulan dan si fulan' (maksudnya para malaikat). Maka Rasulullah ﷺ mendengar kami dan bersabda: 'Janganlah kalian mengucapkan salam sejahtera bagi Allah, karena Allah adalah As-Salam. Ketika kalian duduk (dalam shalat) ucapkanlah: At-Tahiyyatu lillahi was-salawatu wat-tayyibatu; as-salamu 'alayka ayyuhan-Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuhu; as-salamu 'alayna wa 'ala 'ibadillahis-salihin. Karena jika kalian mengucapkan itu, maka akan sampai kepada setiap hamba yang saleh di langit dan di bumi. (Kemudian katakanlah:) 'Ashhadu an la ilaha illallah wa ashhadu anna Muhammadan 'abduhu wa Rasuluhu.'"

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

"Dialah Allah, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera (As-Salam)..." (QS. Al-Hasyr [59]: 23)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah As-Salam, sumber keselamatan dan kesejahteraan, sehingga tidak pantas bagi hamba untuk mengucapkan salam kepada-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits terpenting dalam bab tasyahhud. Mari kita pahami beberapa poin pentingnya:

1. Latar Belakang (Asbab al-Wurud) Hadits

Para sahabat, sebelum diajarkan tasyahhud yang benar, terbiasa mengucapkan salam kepada Allah dan para malaikat secara langsung di dalam shalat. Mereka berkata, "Salam sejahtera bagi Allah, salam sejahtera bagi Jibril, Mikail, dan kepada si fulan." Ini adalah kebiasaan yang tidak salah secara niat, tetapi tidak tepat dalam adab. Nabi ﷺ kemudian meluruskan dengan sabda yang sangat agung.

2. Makna "Jangan Ucapkan Salam kepada Allah"

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini adalah larangan adab dan pengagungan terhadap Allah. Allah adalah As-Salam, yaitu Dzat yang Mahaselamat dari segala kekurangan dan aib, dan Dia-lah sumber keselamatan. Mengucapkan "Salam sejahtera bagi Allah" seolah-olah mendoakan keselamatan bagi-Nya, padahal Allah tidak membutuhkan doa makhluk-Nya. Ini adalah bentuk adab yang sangat tinggi dalam beribadah.

3. Makna "At-Tahiyyatu lillah"

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa at-tahiyyat adalah semua bentuk penghormatan, pengagungan, dan kerajaan yang abadi. Semua itu hanyalah milik Allah semata. Tidak ada satu pun makhluk yang berhak atas penghormatan mutlak ini. Ini adalah pengakuan bahwa segala pujian, doa, dan ibadah hanyalah untuk Allah.

4. Hikmah Salam kepada Nabi ﷺ dan Hamba yang Saleh

Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk mengucapkan, "As-salamu 'alayka ayyuhan-Nabiyyu..." (Semoga keselamatan atasmu wahai Nabi). Ini adalah bentuk penghormatan kepada beliau. Para ulama menjelaskan bahwa salam ini tetap diucapkan meskipun beliau telah wafat, karena para nabi hidup di alam barzakh dan ruh beliau dikembalikan untuk menjawab salam. Adapun ucapan "As-salamu 'alayna wa 'ala 'ibadillahis-salihin" (Semoga keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh) adalah doa untuk diri sendiri dan seluruh hamba yang saleh, baik di langit maupun di bumi.

5. Keutamaan Tasyahhud Ibnu Mas'ud

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits ini, dan para ulama sepakat akan keabsahannya. Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan mayoritas ulama memilih lafaz tasyahhud ini sebagai lafaz yang paling utama karena diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas'ud. Namun, perlu diketahui bahwa ada beberapa lafaz tasyahhud lain yang sahih dari Nabi ﷺ, seperti Tasyahhud Ibnu Abbas dan Tasyahhud Abu Musa al-Asy'ari. Semuanya boleh diamalkan, dan yang terbaik adalah yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.

6. Pelajaran Adab yang Sangat Agung

Hadits ini mengajarkan kita bahwa dalam beribadah, kita harus tunduk sepenuhnya pada tuntunan Nabi ﷺ. Para sahabat tidak merasa keberatan ketika kebiasaan mereka diluruskan. Mereka langsung menerima dan mempraktikkan apa yang diajarkan Nabi ﷺ. Ini adalah teladan dalam ittiba' (mengikuti) sunnah di atas segalanya.

Story Telling

Suatu ketika, para sahabat yang mulia, termasuk Abdullah bin Mas'ud, terbiasa mengucapkan salam kepada Allah dan para malaikat di dalam shalat mereka. Mereka melakukannya dengan niat yang baik, ingin menghormati Allah dan makhluk-makhluk-Nya yang mulia.

Namun, ketika Nabi ﷺ mendengar ucapan mereka, beliau tidak marah, tetapi dengan lembut meluruskan. Beliau bersabda, "Janganlah kalian mengucapkan salam sejahtera bagi Allah, karena Allah adalah As-Salam."

Bayangkan kelembutan Nabi ﷺ dalam mengajarkan umatnya. Beliau tidak membiarkan kesalahan kecil ini berlanjut, karena adab kepada Allah adalah perkara yang sangat agung. Beliau kemudian mengajarkan lafaz yang sempurna, yang mengandung pujian kepada Allah, salam kepada Nabi, dan doa untuk seluruh hamba yang saleh.

Dari sini kita belajar bahwa ilmu dan adab harus berjalan beriringan. Para sahabat adalah generasi terbaik karena mereka tidak pernah merasa cukup dengan amalan mereka sendiri; mereka selalu menunggu bimbingan dari Nabi ﷺ. Semoga kita termasuk umat yang senantiasa mengikuti sunnah beliau dalam setiap detail ibadah.

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan dan amalkan Tasyahhud Ibnu Mas'ud dalam shalat, karena ini adalah lafaz yang paling sahih dan diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
  2. Jangan mengucapkan salam kepada Allah dalam bentuk apa pun, karena Allah adalah As-Salam dan tidak membutuhkan doa makhluk-Nya.
  3. Pahami makna tasyahhud agar shalat kita lebih khusyuk dan penuh penghayatan.
  4. Teladani sikap para sahabat yang langsung menerima bimbingan Nabi ﷺ tanpa ragu.
  5. Sebarkan ilmu ini kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita dengan cara yang lembut dan penuh hikmah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?