Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang keyakinan yang benar terhadap takdir Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ meniadakan keyakinan jahiliyah bahwa penyakit menular dengan sendirinya, atau adanya tanda-tanda sial, atau burung tertentu yang membawa kabar buruk. Semua itu terjadi semata-mata karena takdir dan kehendak Allah. Ketika seorang Badui bertanya tentang unta yang berkudis menulari unta lainnya, Nabi ﷺ dengan tegas menjelaskan bahwa yang pertama kali terkena kudis pun juga atas takdir Allah, bukan karena penularan semata.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Hadid [57]: 22
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."
Hadits terkait:
Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada 'adwa, tidak ada thiyarah, tidak ada hamah, dan tidak ada shafar." (HR. Bukhari no. 5757, Muslim no. 2220)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan hadits-hadits tentang 'adwa ini secara panjang lebar. Beliau menyebutkan bahwa para ulama bersepakat bahwa penyakit tidak menular dengan sendirinya secara alami, melainkan atas izin dan takdir Allah. Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah juga membahas masalah ini dalam Majmu' al-Fatawa dengan menjelaskan bahwa penularan penyakit adalah sebab yang Allah tetapkan, namun sebab tersebut tidak berjalan kecuali dengan izin Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung tiga perkara yang ditiadakan oleh Nabi ﷺ:
Pertama: 'Adwa (penularan). Yaitu keyakinan orang-orang jahiliyah bahwa penyakit menular dengan sendirinya secara alami tanpa campur tangan Allah. Nabi ﷺ meniadakan keyakinan ini. Namun perlu dipahami dengan benar: Nabi ﷺ tidak meniadakan fakta bahwa penyakit bisa berpindah dari satu makhluk ke makhluk lain. Yang ditiadakan adalah keyakinan bahwa penularan itu terjadi dengan sendirinya, terlepas dari takdir Allah.
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa hadits ini tidak menafikan adanya penularan secara medis, tetapi menafikan keyakinan jahiliyah yang menganggap penularan itu berjalan sendiri tanpa izin Allah. Beliau berkata bahwa Allah ﷻ menjadikan sebab-sebab, namun sebab itu tidak berjalan kecuali dengan kehendak-Nya.
Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang unta yang berkudis menulari unta lainnya, beliau menjawab dengan pertanyaan balik: "Siapa yang membuat unta pertama terkena kudis?" Ini menunjukkan bahwa jika penularan terjadi secara alami, maka unta pertama pun seharusnya tidak terkena kudis karena tidak ada yang menularinya. Namun karena Allah menakdirkan unta pertama terkena kudis, maka demikian pula Allah menakdirkan unta-unta lainnya terkena kudis. Semua terjadi dengan takdir Allah.
Kedua: Thiyarah (merasa sial karena sesuatu). Yaitu keyakinan bahwa ada benda, hewan, atau kejadian tertentu yang membawa kesialan. Misalnya merasa sial melihat burung tertentu, atau merasa sial karena ada orang buta datang, dan semacamnya. Ini adalah keyakinan syirik karena menganggap makhluk bisa mendatangkan bahaya atau manfaat di luar kehendak Allah.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa thiyarah termasuk perbuatan syirik kecil karena mengandung ketergantungan hati kepada selain Allah. Namun jika seseorang merasa sial lalu berserah diri kepada Allah dan tidak mengurungkan niatnya karena rasa sial tersebut, maka itu tidak sampai pada tingkat syirik besar.
Ketiga: Hamah. Yaitu keyakinan jahiliyah bahwa burung hantu atau sejenisnya yang terbang membawa kabar kematian seseorang. Mereka percaya bahwa jika ada burung tertentu hinggap di rumah seseorang, maka akan ada yang meninggal. Ini juga keyakinan batil yang ditiadakan oleh Nabi ﷺ.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa semua keyakinan ini adalah batil dan termasuk perbuatan jahiliyah. Islam datang untuk membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Allah.
Poin penting: Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits lain yang memerintahkan kita untuk menghindari orang yang sakit kusta atau menjauhi daerah yang terkena wabah. Karena dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda: "Larilah dari orang yang terkena kusta seperti kamu lari dari singa." (HR. Bukhari). Para ulama menjelaskan bahwa perintah menghindar ini adalah bentuk mengambil sebab, bukan karena meyakini penularan alami. Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa mengambil sebab tidak bertentangan dengan tawakkal kepada Allah, bahkan itu bagian dari tawakkal.
Story Telling
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menceritakan bahwa di kalangan para sahabat dan tabi'in, mereka memahami hadits ini dengan pemahaman yang benar. Disebutkan bahwa ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu hendak memasuki Syam dan saat itu sedang terjadi wabah tha'un (wabah pes), beliau bermusyawarah dengan para sahabat. Ada yang berpendapat tetap masuk dan ada yang berpendapat kembali. Akhirnya Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu menyampaikan hadits Nabi ﷺ: "Jika kalian mendengar wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika wabah terjadi di daerah kalian, maka janganlah kalian keluar darinya." Maka Umar pun kembali dan tidak memasuki Syam.
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami hadits tentang peniadaan 'adwa tidak bertentangan dengan perintah mengambil sebab dan menghindari bahaya. Keduanya berjalan beriringan: hati yakin bahwa yang menetapkan takdir adalah Allah, namun badan tetap berusaha menjaga diri sesuai perintah syariat.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, tidak ada yang berjalan sendiri di luar kehendak-Nya, termasuk penyakit dan penularannya.
- Jangan pernah merasa sial karena melihat sesuatu, mendengar suara tertentu, atau mengalami kejadian yang dianggap membawa kesialan. Ini adalah keyakinan yang dilarang dalam Islam.
- Tetap mengambil sebab dengan menjaga kesehatan, menghindari bahaya, dan mematuhi protokol kesehatan, karena ini bagian dari syariat dan tidak bertentangan dengan tawakkal.
- Jika tertimpa musibah atau penyakit, bersabarlah dan yakini bahwa itu semua telah ditetapkan Allah dengan hikmah yang agung.
- Jangan menyandarkan hati kepada selain Allah dalam urusan bahaya dan manfaat, karena hanya Allah yang mengatur segala sesuatu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.