Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 742 tentang Pembangunan masjid di atas tanah wakaf tanpa bayaran

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang bagaimana Nabi ﷺ membangun Masjid Nabawi di Madinah di atas tanah milik Bani Najjar yang di dalamnya terdapat pohon kurma dan kuburan orang-orang musyrik. Beliau menawarkan untuk membeli tanah tersebut, namun Bani Najjar dengan mulia menolak mengambil harga dan justru menghibahkannya untuk kepentingan Islam. Hadits ini mengajarkan tentang keutamaan membangun masjid, adab bertransaksi yang baik, semangat pengorbanan para sahabat, serta bolehnya shalat di tanah yang sebelumnya terdapat kuburan orang musyrik setelah kuburan tersebut diurus sesuai syariat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits terkait:

Hadits riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Masjid dan Jamaah, Bab Di Mana Diperbolehkan Membangun Masjid, nomor 742, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 428) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 524) dengan redaksi yang semakna.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. At-Taubah [9]: 108

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

"Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih berhak engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersuci."

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk tentang hukum membangun masjid di atas tanah yang terdapat kuburan. Beliau menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hal ini, namun yang terkuat adalah bolehnya selama kuburan tersebut telah dipindahkan atau diurus sesuai ketentuan syariat. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga menjelaskan dalam Syarh Riyadhush Shalihin bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya membangun masjid di tempat yang sebelumnya terdapat kuburan orang musyrik, karena kuburan mereka tidak memiliki kehormatan yang sama dengan kuburan kaum muslimin.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

Pertama: Keutamaan membangun masjid. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya pahala orang yang membangun masjid dan membantu pembangunannya. Nabi ﷺ sendiri ikut serta dalam pembangunan Masjid Nabawi, bahkan beliau ikut memindahkan batu dan tanah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat shahih. Ini menunjukkan bahwa membangun masjid bukanlah pekerjaan yang hina, melainkan ibadah yang mulia.

Kedua: Adab transaksi yang baik. Nabi ﷺ tidak serta-merta mengambil tanah Bani Najjar, tetapi menawarkan untuk membelinya dengan harga yang pantas. Ini menunjukkan bahwa dalam muamalah, seorang muslim harus menjaga hak orang lain dan tidak mengambil sesuatu tanpa kerelaan pemiliknya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini adalah teladan dalam kejujuran dan keadilan dalam bertransaksi.

Ketiga: Kemuliaan akhlak para sahabat. Bani Najjar menolak mengambil harga tanah tersebut, bahkan mereka menganggapnya sebagai sedekah untuk Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan kedermawanan dan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa sikap para sahabat ini adalah bukti keikhlasan mereka, karena mereka lebih mengutamakan pahala akhirat daripada harta dunia.

Keempat: Hukum membangun masjid di atas kuburan. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya membangun masjid di tempat yang sebelumnya terdapat kuburan, dengan syarat kuburan tersebut telah dipindahkan atau telah hancur dan tidak tersisa lagi. Adapun kuburan kaum muslimin, para ulama berbeda pendapat, namun yang terkuat adalah haram membangun masjid di atas kuburan kaum muslimin karena hal itu dapat mengarah pada kesyirikan, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab At-Tauhid.

Kelima: Doa Nabi ﷺ untuk para sahabat. Nabi ﷺ berdoa: "Sesungguhnya kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Ansar dan Muhajirin." Ini menunjukkan bahwa para sahabat bekerja dengan penuh keikhlasan dan semangat, dan Nabi ﷺ mendoakan mereka. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa doa ini adalah bentuk penghargaan Nabi ﷺ kepada para sahabat yang telah berkorban untuk agama Allah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau singgah di tempat yang kemudian menjadi lokasi Masjid Nabawi. Di tempat itu terdapat pohon kurma milik Bani Najjar dan kuburan orang-orang musyrik. Nabi ﷺ memanggil pemilik tanah tersebut dan berkata: "Tentukanlah harganya untuk tanah ini." Mereka menjawab dengan penuh kemuliaan: "Kami tidak akan mengambil harganya, wahai Rasulullah, kecuali hanya mengharap pahala dari Allah."

Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar pohon kurma ditebang dan kuburan orang-orang musyrik dipindahkan. Beliau kemudian ikut serta membangun masjid tersebut dengan tangannya sendiri. Para sahabat bekerja dengan penuh semangat sambil bersenandung: "Sesungguhnya kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Ansar dan Muhajirin." Mereka bekerja dengan gembira, karena mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk Allah dan Rasul-Nya. (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa membangun masjid bukan sekadar pekerjaan fisik, tetapi ibadah yang membutuhkan keikhlasan dan semangat. Para sahabat rela berkorban harta dan tenaga demi tegaknya syiar Islam. Mereka tidak mengharapkan balasan dunia, melainkan hanya mengharap ampunan dan pahala dari Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah dalam membangun masjid dan membantu pembangunannya, karena itu adalah amal yang besar pahalanya di sisi Allah.
  2. Jaga adab dalam bertransaksi — jangan mengambil hak orang lain tanpa kerelaannya, dan berikan hak orang lain dengan adil.
  3. Teladani kedermawanan para sahabat — mereka lebih memilih pahala akhirat daripada harta dunia.
  4. Hindari membangun masjid di atas kuburan kaum muslimin karena dapat mengarah pada kesyirikan, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
  5. Perbanyak doa untuk kaum muslimin sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan para sahabatnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.