Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 708 tentang Kisah Abu Mahdhurah belajar adzan dari Rasulullah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bagaimana Abu Mahdhurah—yang mulanya mengejek adzan—justru dipanggil Nabi ﷺ, diajari langsung lafazh adzan, dan akhirnya menjadi muadzin tetap di Makkah. Dari hadits ini kita belajar bahwa adzan memiliki lafazh yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, bahwa sebagian kalimat diulang (tasniyah) dan sebagian tidak, serta bahwa kelembutan Nabi ﷺ mampu mengubah kebencian menjadi cinta.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Ma'idah [5]: 35

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung."

Ayat ini menunjukkan bahwa adzan adalah salah satu wasilah mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana dijelaskan Ibn Katsir dalam tafsirnya bahwa wasilah adalah segala amal yang mendekatkan hamba kepada Rabb-nya.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 708), juga diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya (no. 379) dari jalur yang sama, serta Abu Dawud (no. 500) dan An-Nasa'i. Perawi sahabatnya adalah Abu Mahdhurah bin Mi'yar radhiyallahu 'anhu.

Penjelasan Rinci

Kedudukan hadits: Hadits ini termasuk hadits pokok dalam bab lafazh adzan. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjadikan hadits Abu Mahdhurah sebagai rujukan utama dalam menetapkan urutan dan pengulangan lafazh adzan.

Lafazh adzan yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini:

  1. Takbir empat kali: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
  2. Syahadat tauhid dua kali: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (dua kali)
  3. Syahadat risalah dua kali: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ (dua kali)
  4. Kemudian Nabi ﷺ menyuruh mengulang dari syahadat dengan suara lebih tinggi (tarji'), lalu:
  5. Hayya 'alash shalah dua kali
  6. Hayya 'alal falah dua kali
  7. Takbir dua kali: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
  8. Tahlil sekali: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Pemahaman ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya tarji' (mengulang syahadat dengan suara lebih dulu pelan lalu dikeraskan), dan bahwa takbir di awal empat kali sedangkan di akhir dua kali.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa perintah Nabi ﷺ "ارْجِعْ فَمُدَّ مِنْ صَوْتِكَ" (kembalilah dan panjangkan suaramu) menjadi dalil disunnahkannya mengeraskan suara dalam adzan dan mengulang syahadatain.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa inilah lafazh adzan yang paling shahih dan paling jelas periwayatannya, karena Nabi ﷺ sendiri yang mengajarkannya secara langsung.
  • Syeikh al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil menilai hadits ini shahih dan menjadikannya hujjah dalam bab sifat adzan.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama (dari madzhab Hanafi) berpendapat takbir awal adzan hanya dua kali berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid. Namun jumhur (Malik, Syafi'i, Ahmad, serta diikuti Bukhari-Muslim) menguatkan riwayat Abu Mahdhurah yang menyebut takbir empat kali, karena Nabi ﷺ mengajarkannya langsung dan lebih rinci. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur.

Faedah lain dari hadits:

  • Kisah taubat dan kelembutan Nabi ﷺ: Abu Mahdhurah mengejek adzan, namun Nabi ﷺ tidak menghukumnya, justru mengajarinya dan mendoakannya. Ini menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang lembut dan pemaaf.
  • Doa Nabi ﷺ: "بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ" — doa keberkahan yang menjadi sebab Abu Mahdhurah dan keturunannya menjadi muadzin di Makkah secara turun-temurun, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi.
  • Mengusap kepala dan wajah: Sebagian ulama memahaminya sebagai bentuk doa dan kasih sayang, bukan ritual khusus. Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa ini menunjukkan keutamaan mengusap kepala anak yatim atau orang yang didoakan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Mahdhurah saat itu masih muda, bersama beberapa pemuda Quraisy di pinggir kota Makkah. Ketika muadzin Nabi ﷺ mengumandangkan adzan, mereka menirukan dengan nada mengejek dan tertawa. Namun Nabi ﷺ tidak marah. Beliau memanggil mereka, dan setelah semua yang lain dibebaskan, Abu Mahdhurah ditahan—bukan untuk dihukum, tetapi untuk diajari adzan langsung oleh lisan Nabi ﷺ.

Abu Mahdhurah berkata: "Aku berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ, dan tidak ada sesuatu yang lebih aku benci saat itu daripada Rasulullah dan apa yang beliau perintahkan." Namun setelah Nabi ﷺ mengajarinya, mengusap kepalanya, dan mendoakannya, kebencian itu berubah menjadi cinta. Ia pun menjadi muadzin tetap di Makkah di bawah gubernur 'Attab bin Asid, dan keturunannya terus menjadi muadzin di Masjidil Haram. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan Sunan Ibnu Majah, dan disebutkan oleh Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah.

Hikmahnya: kelembutan dan doa lebih kuat mengubah hati daripada hardikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Lafazh adzan yang diajarkan Nabi ﷺ: takbir 4x, syahadatain 2x (dengan tarji'), hayya 'alash shalah 2x, hayya 'alal falah 2x, takbir 2x, tahlil 1x.
  2. Tarji' (mengulang syahadatain dengan suara lebih keras setelah yang pelan) adalah sunnah berdasarkan perintah Nabi ﷺ dalam hadits ini.
  3. Mengeraskan suara dalam adzan adalah sunnah, terutama pada kalimat syahadat dan hayya 'alal falah.
  4. Berdakwah dengan kelembutan — sebagaimana Nabi ﷺ tidak menghukum pemuda yang mengejek, tetapi mengajarinya dengan kasih sayang.
  5. Mendoakan kebaikan kepada orang yang baru belajar agama, sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan Abu Mahdhurah dengan keberkahan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?