Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4297 tentang Rahmat Allah lebih besar dari kasih ibu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa rahmat Allah sangat luas, bahkan melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Namun rahmat itu tidak diberikan kepada orang yang sengaja memberontak dan menolak tauhid sampai mati. Hadits ini menggabungkan antara harapan (raja') kepada rahmat Allah dan kewajiban menegakkan tauhid.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-A'raf [7]: 156

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

Terjemahan: "Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan yang beriman kepada ayat-ayat Kami."

QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Terjemahan: "Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

Hadits terkait:

Hadits riwayat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda tentang seorang wanita yang menyusui anaknya di antara tawanan perang:

أَرَأَيْتُمْ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَرَحَتْ وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟ قُلْنَا: لَا وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَا يَطْرَحُ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ إِلَّا فِي النَّارِ

"Apakah kalian melihat wanita ini rela melemparkan anaknya ke dalam api? Kami menjawab: Tidak, selama ia mampu untuk tidak melakukannya. Maka beliau bersabda: Maka demi Allah, Allah tidak akan melemparkan ke dalam neraka orang yang takut kepada-Nya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah, namun rahmat tersebut hanya bagi orang yang beriman dan bertauhid.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits tentang wanita menyusui ini menjadi dalil bahwa Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya yang bertakwa daripada seorang ibu kepada anaknya.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan keseimbangan antara raja' (harapan) dan khauf (rasa takut), bahwa rahmat Allah tidak diberikan kepada orang yang menentang-Nya dengan sengaja.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Zuhud, Bab Apa yang Diharapkan dari Rahmat Allah pada Hari Kiamat. Sanadnya: Hisyam bin Ammar → Ibrahim bin A'yain → Ismail bin Yahya asy-Syaibani → Abdullah bin Umar bin Hafsh → Nafi' → Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.

Kisah ini terjadi dalam salah satu peperangan Nabi ﷺ. Beliau melewati sekelompok orang yang mengaku Muslim. Di sana ada seorang wanita yang sedang menyalakan tungku (oven) dan bersama anaknya. Ketika panas tungku meninggi, ia menjauhkan anaknya karena khawatir terbakar. Wanita itu kemudian bertanya kepada Nabi ﷺ dengan tiga pertanyaan bertingkat:

  1. "Bukankah Allah Maha Penyayang di antara para penyayang?" — Nabi ﷺ menjawab: "Ya."
  2. "Bukankah Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya?" — Nabi ﷺ menjawab: "Ya."
  3. "Seorang ibu tidak akan melemparkan anaknya ke dalam api." — Pernyataan ini membuat Nabi ﷺ menangis, lalu beliau bersabda bahwa Allah tidak mengazab hamba-Nya kecuali yang marid (durhaka) dan mutamarrid (sengaja memberontak), yang menolak mengucapkan La ilaha illallah.

Pemahaman ulama:

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua prinsip besar:

Pertama, luasnya rahmat Allah. Allah lebih sayang kepada hamba-Nya yang beriman daripada seorang ibu kepada anaknya. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-A'raf [7]: 156 dan QS. Az-Zumar [39]: 53.

Kedua, rahmat Allah tidak diberikan kepada orang yang sengaja menolak tauhid. Kata al-marid al-mutamarrid menggambarkan orang yang bukan sekadar lalai, tetapi sengaja menentang dan sombong terhadap perintah Allah, menolak mengucapkan La ilaha illallah sampai mati.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa azab Allah hanya berlaku bagi orang yang menolak tauhid dengan kesombongan, bukan karena kelemahan atau kebodohan. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits tentang syafa'at, karena syafa'at berlaku bagi ahli tauhid yang berdosa.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa tangisan Nabi ﷺ menunjukkan kelembutan hati beliau dan besarnya kasih sayang beliau kepada umatnya. Beliau menangis karena khawatir ada umatnya yang menolak tauhid sehingga terkena azab.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa hadits ini menggabungkan antara raja' (harapan) dan khauf (rasa takut). Seorang mukmin harus berharap kepada rahmat Allah, tetapi juga takut kepada azab-Nya jika meninggalkan tauhid.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu di dunia, tetapi di akhirat rahmat itu khusus bagi orang-orang yang bertakwa dan beriman.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama membahas apakah hadits ini menunjukkan bahwa azab hanya bagi orang yang menolak tauhid secara sengaja, atau juga bagi ahli maksiat. Ibnu Hajar dan an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini khusus tentang orang yang menolak tauhid sampai mati, sedangkan ahli tauhid yang berdosa berada di bawah kehendak Allah — bisa diampuni, bisa diazab sementara, lalu dikeluarkan dari neraka dengan syafa'at. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ahlus Sunnah yang menggabungkan antara harapan dan rasa takut, serta menetapkan bahwa tauhid adalah syarat utama mendapatkan rahmat Allah yang abadi.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma menceritakan kisah ini. Bayangkan suasana peperangan — debu, panas, dan kelelahan. Nabi ﷺ melewati sebuah perkampungan dan bertanya kepada sekelompok orang: "Siapa kalian?" Mereka menjawab: "Kami orang-orang Muslim."

Di tengah mereka, seorang wanita sedang sibuk menyalakan tungku untuk memasak. Anaknya bermain di dekatnya. Ketika api tungku meninggi dan panasnya menyengat, wanita itu segera menarik anaknya menjauh, memeluknya erat karena khawatir terbakar.

Wanita itu kemudian mendekati Nabi ﷺ dan bertanya dengan penuh kelembutan: "Apakah engkau Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya." Wanita itu berkata: "Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu. Bukankah Allah Maha Penyayang di antara para penyayang?" Beliau menjawab: "Ya." Wanita itu bertanya lagi: "Bukankah Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya?" Beliau menjawab: "Ya." Wanita itu berkata: "Seorang ibu tidak akan melemparkan anaknya ke dalam api."

Mendengar ucapan itu, Nabi ﷺ menundukkan kepala dan menangis. Air mata beliau mengalir karena kelembutan hati dan kasih sayang beliau kepada umatnya. Kemudian beliau mengangkat kepala dan bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mengazab hamba-Nya kecuali yang durhaka dan sengaja memberontak, yang menolak mengucapkan La ilaha illallah."

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa rahmat Allah sangat luas, tetapi tauhid adalah pintu utamanya. Seorang ibu tidak akan tega melemparkan anaknya ke api, apalagi Allah yang Maha Penyayang. Namun, orang yang sengaja menolak tauhid dengan kesombongan telah menutup pintu rahmat itu bagi dirinya sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Berharap kepada rahmat Allah — jangan berputus asa dari rahmat-Nya, karena Allah lebih penyayang daripada seorang ibu kepada anaknya.
  2. Menegakkan tauhid — ucapkan dan amalkan La ilaha illallah dengan penuh keyakinan, karena ini adalah kunci utama rahmat Allah.
  3. Menjauhi kesombongan — jangan menjadi marid mutamarrid yang sengaja menentang Allah dan menolak kebenaran.
  4. Menggabungkan raja' dan khauf — berharap kepada rahmat Allah, tetapi juga takut kepada azab-Nya.
  5. Bertaubat sebelum terlambat — selama masih hidup, pintu taubat terbuka bagi siapa saja yang kembali kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?