Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4261 tentang Harapan dan takut kepada Allah saat sakaratul maut

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa di saat sakaratul maut, seorang mukmin hendaknya memadukan dua hal: raja' (harapan kepada rahmat Allah) dan khauf (takut kepada dosa dan azab-Nya). Jika keduanya berkumpul dalam hati seorang hamba pada saat yang genting itu, Allah akan mengabulkan harapannya dan memberi keamanan dari apa yang ia takutkan. Inilah adab hati yang diajarkan Nabi ﷺ kepada umatnya agar tidak berputus asa dan tidak pula merasa aman dari makar Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

QS. Al-A'raf [7]: 99

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Zuhud, Bab Penyebutan Kematian dan Persiapan Menghadapinya (no. 4261), dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه.

Hadits lain yang semakna diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dengan makna yang sama tentang berkumpulnya khauf dan raja' di hati seorang hamba.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa seorang hamba harus berjalan di antara khauf dan raja', dan keduanya harus seimbang, terutama di akhir hayat.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa yang dianjurkan saat sakaratul maut adalah husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah disertai penyesalan atas dosa.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin membahas secara panjang tentang kedudukan khauf dan raja' sebagai dua sayap iman yang harus seimbang.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Nabi ﷺ mengunjungi seorang pemuda yang sedang dalam keadaan sakaratul maut. Beliau bertanya: "Kaifa tajiduka?" — "Bagaimana keadaanmu?" Ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap kondisi batin seseorang, bukan hanya fisiknya. Pemuda itu menjawab dengan dua kalimat yang sangat indah: "Arju Allah" (aku berharap kepada Allah) dan "wa akhafu dzunubi" (dan aku takut akan dosa-dosaku).

Nabi ﷺ kemudian bersabda bahwa dua hal ini — harapan dan ketakutan — tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba pada momen seperti itu, kecuali Allah akan memberinya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takutkan.

Pemahaman ulama:

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa khauf dan raja' adalah dua sayap yang harus dimiliki seorang mukmin. Khauf tanpa raja' akan menjerumuskan pada qunuth (berputus asa dari rahmat Allah), sedangkan raja' tanpa khauf akan menjerumuskan pada amn (merasa aman dari makar Allah). Keduanya adalah dosa besar.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa saat sakaratul maut, seorang hamba dianjurkan untuk memperbesar raja' (harapan) kepada Allah, karena saat itu adalah saat yang sangat menentukan. Namun raja' tersebut harus disertai dengan penyesalan dan ketakutan akan dosa, sebagaimana yang dicontohkan pemuda dalam hadits ini.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan berkumpulnya khauf dan raja' di hati seorang hamba, terutama di saat-saat kritis. Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah bentuk tawassuth (keseimbangan) dalam beragama, tidak ghuluw (berlebihan) dalam khauf sehingga berputus asa, dan tidak pula berlebihan dalam raja' sehingga merasa aman dari azab.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menjelaskan bahwa saat kematian adalah saat di mana amal telah terputus dan yang tersisa hanyalah harapan kepada Allah. Karena itu, seorang hamba harus meninggalkan dunia dengan husnuzhan kepada Allah, namun tetap dengan hati yang penuh penyesalan atas dosa-dosa.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman menjelaskan bahwa ayat "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah" (QS. Az-Zumar: 53) dan ayat "Tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi" (QS. Al-A'raf: 99) adalah dua ayat yang menjadi dasar keseimbangan antara khauf dan raja'. Keduanya harus ada dalam hati seorang mukmin, terutama di akhir hayat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan dua amal hati yaitu khauf dan raja', dan bahwa keduanya adalah ibadah yang harus dipersembahkan hanya kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa saat sakaratul maut adalah saat yang paling tepat untuk memperbanyak raja', karena saat itu adalah saat talqin dan persiapan menghadap Allah.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berpendapat bahwa saat sakaratul maut, yang lebih utama adalah memperbesar raja' saja, karena hadits-hadits lain menyebutkan "Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku" (hadits qudsi riwayat Bukhari dan Muslim). Namun jumhur ulama — termasuk Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibn Qayyim — berpendapat bahwa keduanya harus ada, dengan raja' lebih dominan, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits ini. Pendapat ini yang paling kuat karena menggabungkan semua dalil.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri رحمه الله, seorang tabi'in yang terkenal zuhud dan wara', pernah ditanya tentang keadaan seorang mukmin di akhir hayatnya. Beliau menjawab: "Seorang mukmin mengumpulkan antara khauf dan raja' dalam hatinya. Jika ia takut, ia tidak berputus asa. Jika ia berharap, ia tidak merasa aman dari makar Allah."

Dalam riwayat lain, Sufyan ats-Tsauri رحمه الله pernah berkata: "Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan raja' saja, maka ia adalah murji'ah. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan khauf saja, maka ia adalah haruriyah (khawarij). Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan raja' dan khauf sekaligus, maka ia adalah mukmin sejati."

Hikmahnya: keseimbangan antara khauf dan raja' adalah ciri khas Ahlus Sunnah, yang membedakan mereka dari kelompok-kelompok yang berlebihan dalam salah satu sisi.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan dua amal hati ini: khauf (takut kepada dosa dan azab Allah) dan raja' (harapan kepada rahmat dan ampunan-Nya) dalam setiap keadaan, terutama saat menghadapi kematian.
  2. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Az-Zumar: 53.
  3. Jangan merasa aman dari makar Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-A'raf: 99.
  4. Perbanyak istighfar dan taubat sebagai wujud khauf, dan perbanyak doa serta husnuzhan kepada Allah sebagai wujud raja'.
  5. Saat mendampingi orang yang sedang sakaratul maut, talqinlah dengan kalimat tauhid dan tanamkan harapan kepada Allah, tanpa membuatnya berputus asa.
  6. Ingatlah kematian sebagai nasihat yang menghidupkan hati, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (kematian)." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?