Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4257 tentang Perintah bertaubat dan memohon ampun kepada Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah hadits qudsi yang sangat agung, berisi seruan Allah kepada seluruh hamba-Nya: bahwa semua manusia berdosa, sesat, dan fakir di hadapan-Nya, kecuali yang Dia ampuni, beri petunjuk, dan kayakan. Maka jalan satu-satunya adalah meminta ampun, petunjuk, dan rezeki hanya kepada Allah. Hadits ini juga menegaskan bahwa ketaatan seluruh makhluk tidak menambah kekuasaan Allah sedikit pun, dan kemaksiatan mereka tidak menguranginya sedikit pun.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Terjemahan: "Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

QS. Fathir [35]: 15

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Terjemahan: "Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab az-Zuhd, Bab Penyebutan Taubat (no. 4257), dari sahabat Abu Dzarr al-Ghifari رضي الله عنه. Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan hadits qudsi lain yang diriwayatkan Muslim bin al-Hajjaj dari Abu Dzarr tentang larangan berbuat zalim dan perintah meminta petunjuk.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam membahas hadits-hadits qudsi semacam ini dan menegaskan bahwa pintu taubat selalu terbuka.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa inti hadits ini adalah penetapan tiga kebutuhan pokok hamba: ampunan, petunjuk, dan rezeki — yang semuanya hanya datang dari Allah.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa manusia itu fakir secara mutlak kepada Allah, dan kekayaan Allah tidak bertambah dengan ketaatan hamba.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah hadits qudsi, yaitu firman Allah yang disampaikan melalui lisan Nabi ﷺ. Ia mengandung beberapa pokok besar:

Pertama: Semua manusia berdosa, kecuali yang Allah ampuni.

Ini bukan berarti semua manusia pasti binasa, tetapi menunjukkan bahwa pada asalnya manusia itu lemah dan sering berbuat salah. Al-Hasan al-Bashri berkata bahwa seorang mukmin itu selalu melihat dirinya penuh kekurangan, sehingga ia terus beristighfar. Sedangkan orang munafik melihat dirinya sempurna, sehingga ia meninggalkan istighfar.

Kedua: Perintah meminta ampun, petunjuk, dan rezeki hanya kepada Allah.

Allah berfirman: "فَسَلُونِي الْمَغْفِرَةَ" (mintalah ampun kepada-Ku), "فَسَلُونِي الْهُدَى" (mintalah petunjuk kepada-Ku), "فَسَلُونِي أَرْزُقْكُمْ" (mintalah rezeki kepada-Ku). Ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah, dan meminta kepada selain Allah dalam hal-hal yang hanya Allah mampu adalah kesalahan besar.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ" menunjukkan bahwa seluruh manusia — kaya maupun miskin — sebenarnya fakir di hadapan Allah. Kekayaan hanyalah titipan.

Ketiga: Ketaatan dan kemaksiatan hamba tidak mempengaruhi kekuasaan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jika seluruh manusia — yang hidup dan mati, yang awal dan akhir, yang basah dan kering — berkumpul dengan hati paling taqwa, itu tidak menambah kekuasaan Allah seberat sayap nyamuk. Sebaliknya, jika mereka berkumpul dengan hati paling celaka, itu tidak mengurangi kekuasaan Allah sedikit pun.

Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan hamba-Nya. Ketaatan hamba hanya bermanfaat bagi hamba itu sendiri, dan kemaksiatan hanya merugikan hamba itu sendiri. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim [14]: 8: "إِن تَكْفُرُوا أَنتُمْ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ" — "Jika kalian kufur, kalian dan semua yang di bumi, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."

Keempat: Perumpamaan jarum dan laut.

Allah berfirman bahwa jika semua hamba meminta segala yang mereka inginkan, itu tidak mengurangi kekuasaan-Nya kecuali seperti seseorang yang mencelupkan jarum ke laut lalu mengeluarkannya. Ibn Qayyim menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan yang sangat indah: air yang menempel di jarum itu tidak mengurangi air laut sama sekali. Demikian pula pemberian Allah kepada seluruh makhluk tidak mengurangi kekayaan-Nya.

Kelima: "Aku adalah Yang Maha Dermawan, Yang Agung."

Allah menyebut diri-Nya "جَوَادٌ مَاجِدٌ" — Maha Dermawan lagi Maha Agung. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa "jawad" berarti banyak memberi tanpa mengharap imbalan, dan "majid" berarti agung dalam segala sifat-Nya.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Sebagian ulama seperti Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban memasukkan hadits ini dalam kitab shahih mereka, menunjukkan keotentikannya. Sedangkan sebagian ulama hadits memperbincangkan sanadnya karena adanya perawi bernama Syahr bin Hausyab, yang sebagian ulama menilai haditsnya tidak selalu kuat. Namun Ibnu Majah meriwayatkannya, dan maknanya didukung oleh banyak ayat dan hadits lain yang shahih. Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini shahih secara makna dan didukung oleh riwayat-riwayat lain.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Dzarr al-Ghifari رضي الله عنه, sahabat yang mulia, pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang jumlah Nabi. Beliau menjawab bahwa jumlahnya banyak. Abu Dzarr adalah sahabat yang dikenal sangat zuhud, hidup sederhana, dan sering merenungkan kebesaran Allah. Ketika beliau menyampaikan hadits ini, beliau ingin menegaskan kepada umat bahwa pintu taubat selalu terbuka, dan bahwa manusia — sekaya atau sehebat apa pun — tetap fakir di hadapan Allah.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin itu mengumpulkan antara berbuat baik dan rasa takut, sedangkan orang munafik mengumpulkan antara berbuat buruk dan rasa aman." Ini sejalan dengan hadits ini: kita diperintahkan untuk terus meminta ampun, petunjuk, dan rezeki, karena kita selalu butuh kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak istighfar — karena kita semua berdosa, dan Allah membuka pintu ampunan bagi yang meminta.
  2. Minta petunjuk kepada Allah — jangan mengandalkan akal atau kemampuan sendiri, karena hidayah hanya dari Allah.
  3. Minta rezeki kepada Allah — usaha tetap dilakukan, tetapi hati bergantung kepada Allah, bukan kepada usaha.
  4. Jangan merasa sombong — ketaatan kita tidak menambah kekuasaan Allah, dan dosa kita tidak mengurangi-Nya. Semua kembali kepada manfaat dan mudarat kita sendiri.
  5. Yakinlah pada luasnya rahmat Allah — seperti jarum yang dicelupkan ke laut, dosa kita tidak sebanding dengan luasnya ampunan Allah bagi yang bertaubat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?