Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 42 tentang Wajib mengikuti sunnah dan khalifah yang terpimpin

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah wasiat agung Nabi ﷺ kepada para sahabat agar berpegang teguh pada takwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin selama bukan maksiat, serta berpegang pada Sunnah Nabi ﷺ dan Sunnah Khulafaur Rasyidin ketika terjadi perselisihan. Nabi ﷺ juga memperingatkan agar menjauhi perkara-perkara baru dalam agama (bid'ah), karena setiap bid'ah adalah kesesatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. An-Nisa' [4]: 59

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pemimpin) di antara kalian. Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya."

Hadits terkait:

Hadits 'Irbad bin Sariyah ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 42), juga Abu Dawud (no. 4607) dan At-Tirmidzi (no. 2676) yang menyatakan hadits ini hasan shahih. Perawi sahabat: 'Irbad bin Sariyah radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah taat kepada pemimpin berlaku selama tidak memerintahkan maksiat.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menempatkan hadits ini sebagai salah satu hadits pokok yang mencakup pokok-pokok agama.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menegaskan makna "Khulafaur Rasyidin" adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam kitabnya menjelaskan bahwa mengikuti Sunnah Khulafaur Rasyidin termasuk mengikuti Sunnah Nabi ﷺ karena mereka tidak menetapkan syariat baru.

Penjelasan Rinci

1. Nasihat yang menyentuh (mau'izhah balighah)

Nabi ﷺ menyampaikan nasihat dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, sehingga hati para sahabat bergetar dan mata mereka menangis. Ini menunjukkan bahwa nasihat agama harus disampaikan dengan lembut, tulus, dan menyentuh jiwa — bukan dengan kekerasan atau celaan. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa nasihat yang baik adalah yang menggerakkan hati menuju ketaatan.

2. Perintah takwa kepada Allah

Takwa adalah pokok segala kebaikan. Al-Hasan al-Bashri berkata: "Takwa adalah engkau menjaga dirimu dari apa yang Allah haramkan, dan menunaikan apa yang Allah wajibkan." Takwa menjadi pondasi sebelum perintah-perintah lainnya.

3. Mendengar dan taat kepada pemimpin

Nabi ﷺ memerintahkan taat kepada pemimpin meskipun ia seorang budak dari Abyssinia (yang secara sosial rendah di masa itu). Ini menunjukkan ketaatan bukan karena status sosial, tetapi karena perintah Allah. Imam an-Nawawi menegaskan: ketaatan berlaku dalam hal yang bukan maksiat. Jika pemimpin memerintahkan maksiat, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

4. Akan terjadi perselisihan besar

Nabi ﷺ memberitakan akan muncul perselisihan hebat setelah beliau wafat. Ini adalah kabar ghaib yang terbukti — terjadi perpecahan umat, munculnya kelompok-kelompok menyimpang, dan perselisihan dalam memahami agama.

5. Berpegang pada Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafaur Rasyidin

Solusi saat perselisihan adalah kembali kepada Sunnah Nabi ﷺ dan jalan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa mengikuti mereka bukan berarti menambah syariat, tetapi mengikuti cara mereka memahami dan mengamalkan Sunnah.

6. "Gigitlah dengan gigi geraham" (عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ)

Ungkapan ini menunjukkan kesungguhan dan kekuatan dalam berpegang. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan tentang memegang erat ajaran agama dengan sekuat tenaga, tidak mudah dilepaskan oleh syubhat atau hawa nafsu.

7. Waspada terhadap perkara baru (bid'ah)

Nabi ﷺ menutup dengan peringatan keras: "Setiap bid'ah adalah kesesatan." Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad menjelaskan bahwa bid'ah dalam agama adalah apa yang tidak memiliki dasar dalam syariat. Ibnu Rajab membedakan antara bid'ah dalam agama (tercela) dan perkara baru dalam urusan dunia (boleh).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Irbad bin Sariyah — seorang sahabat yang mulia — menyampaikan hadits ini dengan penuh penghayatan. Beliau menceritakan bagaimana Nabi ﷺ berdiri di tengah para sahabat dan menyampaikan nasihat yang begitu mendalam, hingga air mata mengalir dan hati bergetar. Para sahabat merasa bahwa itu adalah nasihat perpisahan, sehingga mereka meminta wasiat yang bisa dipegang. Maka Nabi ﷺ memberikan wasiat yang menjadi pedoman umat hingga hari kiamat: takwa, taat, berpegang pada Sunnah, dan menjauhi bid'ah.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: "Pokok Sunnah menurut kami adalah berpegang pada apa yang dipegang oleh para sahabat Nabi ﷺ, dan meninggalkan bid'ah." Ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf menjadikan hadits ini sebagai landasan utama dalam beragama.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertakwalah kepada Allah dalam setiap keadaan — laksanakan perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya.
  2. Taatilah pemimpin selama tidak memerintahkan maksiat; jika memerintahkan maksiat, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.
  3. Berpegang teguhlah pada Sunnah Nabi ﷺ dan pemahaman para sahabat serta Khulafaur Rasyidin.
  4. Jauhi bid'ah dalam agama — segala perkara baru yang tidak memiliki dasar syariat adalah kesesatan.
  5. Kembalikan perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?