Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah nasihat ringkas namun sangat dalam dari Nabi ﷺ kepada seorang sahabat yang meminta ajaran yang singkat. Ada tiga pesan utamanya: pertama, shalatlah dengan khusyuk seakan-akan itu shalat terakhirmu; kedua, jaga lisanmu agar tidak mengucapkan perkataan yang kelak membuatmu menyesal dan harus meminta maaf; ketiga, kosongkan hatimu dari berharap kepada apa yang ada di tangan manusia, karena itu adalah kunci hati yang tenang dan zuhud.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab Al-Hikmah, no. 4171, dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dengan lafaz yang serupa.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
"Dan janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaha [20]: 131)
Kaitan dengan Ulama:
Nasihat Nabi ﷺ tentang "shalat seperti orang yang akan berpisah" dan "putus asa dari apa yang ada di tangan manusia" adalah inti dari ajaran zuhud yang dipahami dan diamalkan oleh para ulama salaf. Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah (salah satu perawi dalam sanad hadits ini) terkenal dengan perkataannya tentang zuhud, yaitu zuhud itu adalah "merasa cukup dengan Allah" dan "tidak berharap kepada makhluk." Beliau juga berkata: "Manusia itu tidak akan tenang hatinya kecuali dengan apa yang ada di sisi Allah, bukan dengan apa yang ada di tangan manusia."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung tiga wasiat agung yang merupakan inti dari seluruh ajaran Islam:
Pertama: Shalat seperti orang yang mengucapkan selamat tinggal (صَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ)
Maknanya adalah shalatlah dengan sepenuh hati, khusyuk, dan hadirkan perasaan bahwa ini mungkin shalat terakhirmu. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, maksudnya adalah memperbagus shalat dengan menyempurnakan rukun, kewajiban, dan sunnah-sunnahnya, serta menghadirkan hati di hadapan Allah. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawa'id menjelaskan bahwa shalat yang sempurna adalah shalat yang dilakukan seakan-akan orang yang shalat melihat Allah, dan jika ia tidak mampu melihat-Nya, maka ia yakin bahwa Allah melihatnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa khusyuk dalam shalat adalah ruhnya shalat. Shalat tanpa khusyuk bagaikan jasad tanpa ruh. Maka ketika seseorang shalat dengan perasaan "ini shalat terakhirku", ia akan berusaha maksimal untuk menghadirkan hati, merenungkan makna bacaan, dan tidak tergesa-gesa.
Kedua: Jangan mengucapkan perkataan yang membuatmu harus meminta maaf (وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ)
Ini adalah perintah untuk menjaga lisan. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa standar perkataan seseorang adalah: jika perkataan itu baik dan bermanfaat, maka ucapkanlah; jika tidak, maka diamlah. Ukuran "baik" itu adalah perkataan yang tidak akan membuat penuturnya menyesal atau harus meminta maaf karenanya.
Ketiga: Putuskan harapan dari apa yang ada di tangan manusia (وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ)
Ini adalah inti dari zuhud. Bukan berarti tidak boleh menerima pemberian orang, tetapi maksudnya adalah hati tidak menggantungkan diri kepada makhluk. Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Zuhud itu adalah merasa cukup dengan Allah. Jika engkau merasa cukup dengan Allah, maka engkau tidak butuh kepada manusia." Beliau juga berkata: "Manusia itu diciptakan untuk saling membutuhkan, tetapi orang yang zuhud hatinya tidak bergantung kepada manusia, ia hanya bergantung kepada Allah."
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang zuhud, beliau menjawab: "Zuhud adalah pendeknya harapan (kepada dunia)." Ini sejalan dengan nasihat Nabi ﷺ dalam hadits ini, yaitu memutus harapan dari tangan manusia dan hanya berharap kepada Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa ketiga wasiat ini saling berkaitan. Shalat yang khusyuk akan melahirkan hati yang bersih, hati yang bersih akan menjaga lisannya, dan hati yang bersih juga tidak akan menggantungkan diri kepada makhluk. Sebaliknya, hati yang masih berharap kepada manusia akan sibuk dan tidak bisa khusyuk dalam shalat.
Story Telling
Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah adalah salah satu perawi dalam sanad hadits ini. Beliau adalah seorang ulama zuhud yang sangat terkenal. Suatu ketika, beliau ditanya tentang zuhud, lalu beliau menjawab dengan sebuah kisah:
"Ada seorang lelaki dari Bani Israil yang beribadah selama empat puluh tahun. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk memberitahunya bahwa ibadahnya tidak diterima. Lelaki itu pun berkata: 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah beribadah kepada-Mu selama empat puluh tahun, tetapi Engkau katakan ibadahku tidak diterima. Maka sekarang aku akan beribadah kepada-Mu dengan ibadah yang baru.' Maka Allah mewahyukan kepada malaikat: 'Katakan kepadanya: Sesungguhnya Aku telah menerima ibadahmu yang pertama, dan Aku menerima pula ibadahmu yang baru, karena engkau telah ikhlas kepada-Ku.'"
Al-Fudhail berkata: "Lihatlah, ketika hamba itu memutuskan harapannya dari selain Allah dan hanya mengharap kepada Allah, maka Allah menerima ibadahnya." Kisah ini mengajarkan kita bahwa kunci diterimanya amal adalah keikhlasan dan memutus harapan dari makhluk.
Kesimpulan Praktis
- Perbagus shalatmu dengan menghadirkan hati, merenungkan makna bacaan, dan menyempurnakan gerakannya, seakan-akan itu shalat terakhirmu.
- Jaga lisanmu — sebelum berbicara, pikirkan: apakah perkataan ini akan membuatku menyesal atau harus meminta maaf? Jika ya, maka diamlah.
- Kosongkan hatimu dari berharap kepada manusia — jangan menggantungkan rezeki, pertolongan, atau kebahagiaan kepada makhluk. Cukup berharap kepada Allah.
- Amalkan tiga wasiat ini secara konsisten, karena ia adalah inti dari agama dan kunci ketenangan hati.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.