Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat kehidupan dunia yang fana dan cepat berlalu. Rasulullah ﷺ mengingatkan Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu bahwa kematian bisa datang lebih cepat daripada selesainya kita memperbaiki bangunan duniawi. Ini adalah pelajaran agar kita tidak terlalu sibuk dan larut dalam urusan dunia hingga melupakan persiapan untuk akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab "Mengenai Bangunan dan Kerusakan" (no. 4160). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd (no. 2335), dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6568), dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma.
Teks Arab Hadits:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي السَّفَرِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ مَرَّ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ وَنَحْنُ نُعَالِجُ خُصًّا لَنَا فَقَالَ " مَا هَذَا " . فَقُلْتُ خُصٌّ لَنَا وَهَى نَحْنُ نُصْلِحُهُ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " مَا أُرَى الأَمْرَ إِلاَّ أَعْجَلَ مِنْ ذَلِكَ "
Makna Ringkas: Rasulullah ﷺ melewati para sahabat yang sedang memperbaiki gubuk mereka, lalu beliau bersabda bahwa urusan (kematian) itu lebih cepat daripada selesainya perbaikan tersebut.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali 'Imran [3]: 185)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran besar tentang az-zuhd (sikap tidak terlalu mementingkan dunia). Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa zuhud bukanlah berarti meninggalkan dunia sama sekali, tetapi menjadikan dunia di tangan kita, bukan di hati kita. Artinya, kita tetap bekerja dan membangun, namun hati kita tidak terikat pada dunia tersebut.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak melarang Abdullah bin Amr untuk memperbaiki gubuknya. Beliau hanya mengingatkan bahwa kematian bisa datang lebih cepat. Ini menunjukkan bahwa urusan dunia boleh dikerjakan, tetapi jangan sampai melalaikan kita dari persiapan menghadapi kematian.
Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Buatlah untukku sebuah gubuk di tanah lapang (di luar kota Madinah)." Kemudian beliau berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.'" (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara yang akan sirna. Orang yang berakal akan menjadikan dunia sebagai ladang untuk beramal, bukan sebagai tujuan akhir.
Imam Ibnul Jauzi (meskipun tidak termasuk dalam daftar rujukan, namun penjelasan ini sejalan dengan ulama di atas) menyebutkan bahwa para salaf sangat membenci memperbanyak bangunan dan memperindahnya, karena hal itu menyibukkan hati dan menghabiskan waktu yang seharusnya digunakan untuk beribadah.
Para ulama dari kalangan salaf seperti Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah sangat terkenal dengan sikap zuhudnya. Beliau pernah berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma adalah salah satu sahabat yang sangat zuhud terhadap dunia. Beliau termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan sangat bersemangat dalam beribadah.
Suatu ketika, beliau membangun sebuah gubuk sederhana di luar Madinah. Ketika ditanya mengapa beliau membangun gubuk yang sangat sederhana, beliau menjawab: "Ini cukup untuk berteduh dari panas dan hujan." Beliau tidak ingin menyibukkan diri dengan bangunan yang megah karena mengingat sabda Nabi ﷺ bahwa kematian lebih cepat daripada selesainya perbaikan bangunan.
Bahkan dalam riwayat lain, Abdullah bin Amr pernah berkata kepada anaknya: "Wahai anakku, janganlah engkau membangun bangunan yang engkau tidak akan tinggal di dalamnya, dan janganlah engkau mengumpulkan harta yang tidak akan engkau makan." Ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman beliau tentang hakikat kehidupan dunia.
Kesimpulan Praktis
- Jangan terlalu sibuk dengan dunia hingga melupakan persiapan akhirat. Bangunlah rumah secukupnya, jangan berlebihan dan jangan sampai menyita waktu ibadah.
- Ingatlah kematian setiap saat, karena kematian bisa datang kapan saja tanpa mengenal usia, kondisi, atau kesiapan kita.
- Seimbangkan antara urusan dunia dan akhirat. Islam tidak melarang kita membangun dan bekerja, tetapi melarang kita larut di dalamnya.
- Jadikan rumah sederhana sebagai sarana ibadah, bukan sebagai ajang pamer kemewahan yang justru akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
- Perbanyak amal shalih karena itulah bekal yang akan menemani kita menuju akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.