Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4128 tentang Larangan mengusir orang miskin dari majelis Rasulullah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa keimanan dan kedudukan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari status sosial, kekayaan, atau kedudukan duniawi. Justru orang-orang miskin dan lemah yang ikhlas beribadah kepada Allah memiliki kedudukan tinggi. Rasulullah ﷺ pernah merasa berat dengan tekanan kaum Quraisy yang meminta agar orang-orang miskin dijauhkan, namun Allah menegur beliau melalui ayat Al-Qur'an agar tidak mengusir mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang diturunkan terkait peristiwa ini:

QS. Al-An'am [6]: 52

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

Terjemahan: "Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, mereka menghendaki wajah-Nya (keridhaan-Nya). Tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu terhadap perhitungan mereka, dan tidak ada kewajiban sedikit pun atas mereka terhadap perhitunganmu, sehingga jika engkau mengusir mereka, niscaya engkau termasuk orang-orang yang zalim."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Zuhud, Bab Duduk Bersama Orang-orang Miskin (no. 4128), dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika kaum Quraisy meminta Nabi ﷺ mengusir para sahabat miskin seperti Bilal, Ammar, Suhaib, dan lainnya agar mereka mau masuk Islam.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan keutamaan para sahabat miskin dan bahaya sikap sombong terhadap mereka.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan larangan mengusir orang-orang lemah dan miskin dari majelis ilmu dan dakwah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam tentang bagaimana Islam memandang manusia. Enam orang sahabat yang disebutkan — yaitu Sa'd bin Abi Waqqash, Ibnu Mas'ud, Suhaib, Ammar, Miqdad, dan Bilal radhiyallahu 'anhum — adalah orang-orang yang secara sosial dan ekonomi lemah, bahkan sebagian dari mereka adalah bekas budak. Namun mereka adalah orang-orang yang paling awal masuk Islam dan paling kuat imannya.

Kaum Quraisy yang merasa tinggi dengan status sosial mereka berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Kami tidak ingin menjadi pengikut mereka, maka usirlah mereka dari sisimu." Mereka merasa gengsi jika harus duduk bersama orang-orang miskin dan bekas budak. Mereka ingin agar Nabi ﷺ mengusir para sahabat miskin itu agar mereka mau masuk Islam.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ sangat menginginkan agar kaum Quraisy masuk Islam, sehingga beliau sempat terpikir untuk memenuhi permintaan mereka. Namun Allah menurunkan ayat ini sebagai teguran: janganlah engkau mengusir orang-orang yang berdoa kepada Allah di pagi dan petang dengan ikhlas mencari wajah-Nya.

Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa kedekatan seseorang kepada Allah bukan diukur dari kedudukan sosial, tetapi dari keikhlasan dan ketakwaan. Orang yang miskin namun ikhlas lebih mulia daripada orang kaya yang sombong.

Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran bahwa dakwah tidak boleh mengorbankan orang-orang lemah demi menarik orang-orang kuat. Prinsip dakwah adalah menyatukan hati, bukan memilih-milih berdasarkan status sosial.

Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad dalam pemahaman fiqih mereka menegaskan bahwa majelis ilmu dan masjid harus terbuka untuk semua orang, tanpa membedakan kaya dan miskin.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan larangan mengusir orang-orang beriman yang ikhlas beribadah, meskipun mereka miskin dan lemah, karena Allah sendiri yang akan menghisab mereka dan tidak ada hisab mereka atas kita.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama berbeda pendapat tentang siapa saja enam orang yang dimaksud. Namun yang paling kuat adalah pendapat yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu Sa'd, Ibnu Mas'ud, Suhaib, Ammar, Miqdad, dan Bilal radhiyallahu 'anhum.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu adalah seorang bekas budak yang disiksa di jalan Allah, namun beliau tetap teguh dalam imannya. Ketika kaum Quraisy meminta Nabi ﷺ mengusir Bilal dan kawan-kawannya, Allah menurunkan ayat yang menegaskan bahwa orang-orang seperti Bilal justru adalah orang-orang yang berdoa kepada Allah di pagi dan petang dengan ikhlas.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menceritakan bahwa setelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ duduk bersama mereka dan berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara umatku orang-orang yang aku diperintahkan untuk bersabar bersama mereka."

Imam an-Nawawi juga menyebutkan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa para sahabat miskin ini adalah orang-orang yang paling dahulu masuk Islam dan paling kuat imannya, sehingga mereka menjadi teladan dalam keikhlasan dan kesabaran.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan merendahkan orang miskin — Kedudukan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari harta atau status sosial, tetapi dari keimanan dan ketakwaan.
  2. Terbuka dalam pergaulan — Majelis ilmu, masjid, dan dakwah harus terbuka untuk semua orang, tanpa membedakan kaya dan miskin.
  3. Ikhlas dalam beribadah — Seperti para sahabat miskin yang berdoa di pagi dan petang dengan ikhlas mencari wajah Allah, kita juga harus menjaga keikhlasan.
  4. Jangan mengorbankan prinsip demi menarik orang lain — Dalam dakwah, jangan mengorbankan orang-orang lemah hanya untuk menarik orang-orang kuat yang sombong.
  5. Bersabar bersama orang-orang beriman — Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk bersabar bersama orang-orang yang berdoa kepada Allah dengan ikhlas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?