Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa dunia—beserta segala kemewahan dan kesenangannya—sangatlah rendah dan tidak berharga di sisi Allah ﷻ. Nabi ﷺ mengumpamakan dunia dengan seekor anak domba kecil yang dibuang oleh pemiliknya karena tidak bernilai. Maka seorang mukmin hendaknya tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, melainkan menjadikannya sarana menuju akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hadid [57]: 20
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
QS. Al-An'am [6]: 32
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Zuhd, Bab Perumpamaan Dunia (no. 4111), dari sahabat Mustawrid bin Shaddad رضي الله عنه. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih-nya dari Al-Mustawrid bin Shaddad dengan lafaz yang serupa, dan oleh At-Tirmidzi serta Ahmad bin Hanbal.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kerendahan dunia di sisi Allah, dan bahwa nilai sesuatu di sisi Allah tidak diukur dengan banyaknya harta atau kemewahannya.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam dan kitab-kitab zuhudnya menegaskan bahwa hadits ini adalah dasar dalam bab zuhud, yaitu meninggalkan ketergantungan hati pada dunia.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad dan Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa dunia ibarat jembatan yang harus dilewati, bukan tempat tinggal yang dibangun.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa dunia yang tercela adalah dunia yang dijadikan tujuan akhir, bukan dunia yang dijadikan sarana beribadah.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Nabi ﷺ sedang dalam perjalanan bersama para sahabat, lalu melewati seekor anak domba kecil (سَخْلَة) yang telah dibuang ke pinggir jalan. Anak domba yang masih kecil biasanya masih bernilai bagi pemiliknya, namun karena suatu cacat atau kelemahan, ia dibuang begitu saja. Nabi ﷺ bertanya: "Apakah kalian menganggap anak domba ini hina bagi pemiliknya?" Para sahabat menjawab: "Ya, justru karena kehinaannya mereka membuangnya."
Kemudian Nabi ﷺ bersumpah dengan nama Allah: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada anak domba ini di sisi pemiliknya."
Pemahaman para ulama:
Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan dalam kitab-kitabnya tentang zuhud bahwa hadits ini bukan berarti kita harus meninggalkan dunia secara total, tetapi hendaknya dunia tidak menguasai hati kita. Beliau membedakan antara zuhud yang syar'i (tidak tergantung hati pada dunia) dengan zuhud yang berlebihan (meninggalkan usaha secara total), yang terakhir ini tidak disyariatkan.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Allah tidak memandang dunia dengan pandangan mulia. Seandainya dunia memiliki nilai di sisi Allah, tentu orang-orang kafir tidak akan diberi kenikmatan duniawi yang banyak. Namun Allah memberi mereka dunia justru karena kerendahannya.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan mengumpamakan dunia seperti air laut: semakin banyak diminum, semakin haus. Beliau juga menegaskan bahwa mencintai dunia secara berlebihan adalah pangkal segala dosa, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa cinta dunia dan takut mati adalah sumber kelemahan umat.
Syeikh as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat yang mencela dunia bukanlah mencela dunia itu sendiri sebagai ciptaan Allah, tetapi mencela sikap manusia yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir dan melupakan akhirat.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama memahami "dunia yang tercela" sebagai segala sesuatu yang melalaikan dari akhirat, sedangkan "dunia yang terpuji" adalah segala sesuatu yang membantu menuju akhirat—seperti harta yang digunakan untuk sedekah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Ini adalah pemahaman yang dipegang oleh Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan Ibn Rajab. Pendapat ini yang paling kuat karena didukung oleh banyak dalil lain, seperti firman Allah dalam QS. Al-Qashash [28]: 77 agar kita mencari negeri akhirat tanpa melupakan bagian dunia.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri رحمه الله, seorang tabi'in yang terkenal zuhud, pernah ditanya tentang dunia. Beliau menjawab: "Dunia ini seperti mimpi bagi orang yang tidur; ia melihatnya seolah nyata, namun ketika terbangun, ia tidak menemukan apa pun." Beliau juga berkata: "Aku mendapati manusia (para sahabat) lebih ringan dunia ini di tangan mereka daripada debu."
Suatu ketika, Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه—meskipun bukan termasuk ulama dalam daftar, namun kisahnya masyhur dan disampaikan oleh para ulama seperti Ibn Rajab—menangis ketika melihat Nabi ﷺ berbaring di atas tikar kasar hingga membekas di kulit beliau, lalu berkata: "Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam kemewahan!" Nabi ﷺ menjawab: "Apakah engkau tidak ridha mereka mendapatkan dunia dan kita mendapatkan akhirat?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Kisah ini menegaskan makna hadits di atas: dunia bukanlah ukuran kemuliaan di sisi Allah.
Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan dalam Latha'if al-Ma'arif bahwa para salaf tidak meninggalkan dunia karena benci kepada dunia itu sendiri, tetapi karena mereka mengetahui bahwa akhirat lebih utama dan kekal.
Kesimpulan Praktis
- Jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama—jadikan ia sarana untuk beribadah dan beramal saleh.
- Bersikap zuhud—bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi tidak menggantungkan hati pada dunia.
- Gunakan harta dan jabatan untuk ketaatan—karena semua itu akan dipertanggungjawabkan.
- Ingatlah bahwa kemuliaan di sisi Allah diukur dengan takwa, bukan dengan harta, jabatan, atau penampilan (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
- Sederhanakan gaya hidup—makan, berpakaian, dan berumah secukupnya, tanpa berlebihan, meneladani Nabi ﷺ dan para salaf.
- Perbanyak mengingat akhirat—karena itulah negeri yang kekal dan sesungguhnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.