Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4110 tentang Dunia lebih hina daripada bangkai domba di sisi Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang hakekat dunia yang sangat hina di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ menggunakan perumpamaan seekor domba mati yang busuk dan tidak berguna untuk menggambarkan betapa rendahnya nilai dunia di mata Allah. Jika dunia ini memiliki nilai seberat sayap nyamuk pun di sisi Allah, maka orang kafir tidak akan diberi sedikit pun kenikmatan darinya. Ini menunjukkan bahwa dunia dan segala isinya adalah sesuatu yang kecil, sementara akhirat adalah yang utama dan kekal.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah No. 4110:

Teks hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab Matsalud Dunya (Perumpamaan Dunia), dari sahabat Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Para ulama hadits menilai sanad hadits ini hasan (baik) meskipun ada pembicaraan tentang salah satu perawinya, yaitu Zakariyya bin Manzhur, namun hadits ini memiliki penguat dari riwayat lain.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."

(QS. Al-'Ankabut [29]: 64)

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa Allah ﷻ menghinakan dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan. Beliau berkata bahwa dunia dengan segala perhiasannya tidak memiliki nilai di sisi Allah, sehingga Allah memberikannya kepada orang-orang kafir sebagai bentuk istidraj (penangguhan azab), bukan sebagai kemuliaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa makna "dunia lebih hina dari bangkai kambing" adalah bahwa dunia ini tidak bernilai di sisi Allah, dan Allah tidak menjadikannya sebagai balasan bagi orang-orang yang beriman. Beliau menegaskan bahwa orang beriman tidak boleh terlalu mencintai dunia dan melupakan akhirat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

Pertama: Perumpamaan yang Sangat Tepat

Rasulullah ﷺ berada di Dzul Hulaifah (daerah dekat Madinah yang menjadi miqat haji) bersama para sahabat. Tiba-tiba beliau melihat seekor kambing mati yang kakinya terangkat karena kembung—kondisi yang sangat menjijikkan dan tidak berharga. Beliau bertanya kepada para sahabat: "Apakah kalian menganggap kambing ini tidak berharga bagi pemiliknya?" Tentu saja para sahabat menganggapnya sangat tidak berharga, bahkan tidak ada seorang pun yang mau mengambilnya.

Kemudian beliau bersumpah dengan nama Allah: "Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada kambing ini di sisi pemiliknya."

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa perumpamaan ini sangat jelas: sebagaimana bangkai kambing tidak diinginkan oleh pemiliknya dan tidak ada nilainya, demikian pula dunia di sisi Allah. Allah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai ladang untuk beramal menuju akhirat.

Kedua: Makna "Jika Dunia Seberat Sayap Nyamuk"

Kalimat "jika dunia seberat sayap nyamuk di sisi Allah, orang kafir tidak akan mendapatkan setetes pun darinya" menunjukkan bahwa dunia ini sangat kecil dan hina. Bahkan jika dunia ini memiliki nilai sekecil sayap nyamuk, maka Allah tidak akan memberikannya kepada orang kafir sebagai bentuk kemuliaan, melainkan hanya sebagai ujian dan istidraj.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa pemberian dunia kepada orang kafir bukanlah tanda kemuliaan, melainkan bentuk keadilan Allah yang memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya, baik yang beriman maupun yang kafir. Namun kenikmatan hakiki hanyalah di akhirat bagi orang-orang beriman.

Ketiga: Pelajaran tentang Zuhud

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: "Zuhud di dunia bukanlah berarti mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud adalah engkau tidak terlalu percaya pada apa yang ada di tanganmu dibandingkan apa yang ada di sisi Allah." Ini sejalan dengan hadits di atas—dunia ini kecil, maka janganlah kita jadikan ia sebagai tujuan utama.

Keempat: Perbedaan Antara Kenikmatan Dunia dan Akhirat

Imam Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Demi Allah, dunia ini tidaklah bernilai di sisi Allah, sehingga Allah memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan orang yang dibenci-Nya. Namun akhirat tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya." Ini menunjukkan bahwa dunia bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu pernah berjalan melewati sekelompok orang yang sedang membicarakan dunia dan perhiasannya. Beliau berkata: "Apakah kalian sedang membicarakan sesuatu yang lebih hina daripada bangkai kambing?" Kemudian beliau membacakan hadits ini dan berkata: "Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai kambing ini di sisi pemiliknya."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat memahami hadits ini secara mendalam dan menjadikannya sebagai pengingat untuk tidak terlalu mencintai dunia. Mereka tidak terpukau dengan kemewahan dunia, karena mereka yakin bahwa akhirat adalah yang lebih baik dan kekal.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan akhirat sebagai tujuan utama — dunia hanyalah ladang untuk beramal, bukan tujuan akhir.
  2. Jangan terlalu berbangga dengan harta dan kedudukan — karena semua itu kecil di sisi Allah.
  3. Jangan iri kepada orang kafir yang diberi kemewahan dunia — karena itu bukan tanda kemuliaan, melainkan istidraj.
  4. Perbanyak amal akhirat — seperti shalat, puasa, sedekah, dan amal kebaikan lainnya.
  5. Tanamkan sifat zuhud — tidak berarti membenci dunia, tetapi tidak menjadikannya sebagai tujuan utama dan tidak terlalu sedih ketika kehilangan dunia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?