Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu tanda kenabian Rasulullah ﷺ yang mengabarkan peristiwa besar di masa mendatang: akan terjadi perdamaian antara umat Islam dan Romawi, lalu terjadi peperangan bersama melawan musuh lain yang dimenangkan kaum Muslimin. Setelah itu, terjadi peristiwa pemicu berupa seorang Muslim yang mematahkan salib karena marah mendengar ucapan "salib menang", yang menyebabkan Romawi mengkhianati perjanjian dan berkumpul untuk perang besar (al-malhamah). Hadits ini mengajarkan kita tentang kejujuran Nabi ﷺ, pentingnya menjaga perjanjian, dan kewaspadaan terhadap tipu daya musuh.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab al-Fitan, Bab al-Malahim, no. 4089. Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari jalur yang serupa.
Terdapat dalil dari Al-Qur'an yang berkaitan dengan pentingnya menepati janji dan waspada terhadap pengkhianatan:
QS. Al-Anfal [8]: 58
وَاِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ اِلَيْهِمْ عَلٰى سَوَاۤءٍ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْخَاۤىِٕنِيْنَ
"Dan jika engkau (Muhammad) khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka secara adil. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat."
Hadits ini juga selaras dengan sabda Nabi ﷺ dalam riwayat Imam Muslim tentang pembebasan Konstantinopel dan perang besar dengan Romawi, yang menunjukkan bahwa kabar-kabar ini adalah bagian dari mukjizat kenabian.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk akhbar al-ghayb (berita-berita gaib) yang Allah beritahukan kepada Nabi-Nya ﷺ. Imam al-Khathabi dan para pensyarah Sunan menjelaskan bahwa berita-berita semacam ini menunjukkan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ, karena beliau mengabarkan hal-hal yang belum terjadi dan ternyata benar-benar terjadi di kemudian hari.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa sering menyebutkan bahwa kabar-kabar gaib yang disampaikan Nabi ﷺ adalah bukti kenabian yang nyata. Beliau juga menjelaskan bahwa umat Islam wajib mengimani berita-berita ini secara global, meskipun detail waktu dan tempatnya mungkin belum kita ketahui secara pasti.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in dan berbagai ceramahnya menekankan bahwa hadits-hadits tentang al-malahim (perang-perang besar akhir zaman) hendaknya dipahami dengan hati-hati. Kita tidak boleh berspekulasi berlebihan tentang kapan terjadinya, tetapi kita wajib mengambil pelajaran: umat Islam harus selalu siap, waspada, dan tidak lengah terhadap musuh.
Adapun makna "perjanjian damai" (al-hudnah) dengan Romawi, para ulama menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari sunnatullah: kadang terjadi perdamaian, kadang terjadi peperangan. Namun yang penting, Islam mengajarkan untuk menepati janji selama pihak lain menepatinya. Jika mereka berkhianat, maka umat Islam berhak membela diri.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk bersikap adil dan waspada. Jangan sampai kita menjadi pihak yang memulai pengkhianatan, tetapi jika musuh berkhianat, maka kita boleh membalas setimpal.
Peristiwa "pematahan salib" dalam hadits ini menunjukkan bahwa ada sebagian kaum Muslimin yang bertindak dengan emosi tanpa perhitungan politik yang matang. Ini menjadi pelajaran penting: dalam urusan kenegaraan dan perjanjian internasional, keputusan tidak boleh didasari emosi sesaat, tetapi harus berdasarkan hikmah, musyawarah, dan kemaslahatan umat. Namun di sisi lain, kemarahan terhadap simbol kekufuran yang diagungkan adalah fitrah seorang mukmin, hanya saja cara menyalurkannya harus sesuai tuntunan syariat dan kebijakan pemimpin.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Khalid bin Ma'dan — seorang ulama tabi'in yang terkenal zuhud dan banyak beribadah — sangat antusias mendengar hadits ini. Beliau bersama Makhul dan Ibnu Abi Zakariya sengaja mendatangi Dzu Mikhmar, seorang sahabat Nabi ﷺ yang tinggal di daerah Syam, untuk menanyakan langsung tentang kabar ini. Mereka tidak merasa cukup dengan sekadar mendengar dari orang lain; mereka ingin mengambil langsung dari sumbernya.
Ini menunjukkan adab para salaf dalam mencari ilmu: mereka bersusah payah mendatangi para perawi hadits, memastikan sanad, dan mengambil ilmu langsung dari ahlinya. Imam al-Auza'i — yang meriwayatkan hadits ini — adalah ulama besar Syam yang sangat menjaga keaslian hadits dan pemahaman para sahabat.
Hikmahnya: ilmu itu harus dicari dengan sungguh-sungguh, dan berita-berita tentang akhir zaman hendaknya kita pelajari dari sumber yang shahih, bukan dari spekulasi atau ramalan yang tidak jelas.
Kesimpulan Praktis
- Imani kabar gaib dari Nabi ﷺ — Hadits ini adalah bagian dari mukjizat kenabian; kita wajib membenarkannya tanpa mempertanyakan detail waktu yang tidak dijelaskan.
- Jaga perjanjian dan amanah — Islam mengajarkan menepati janji selama pihak lain menepatinya; jika mereka berkhianat, kita boleh membela diri dengan cara yang adil.
- Waspada terhadap musuh — Jangan lengah; musuh bisa saja memanfaatkan situasi untuk menyerang.
- Kendalikan emosi dalam keputusan besar — Kemarahan terhadap kekufuran itu wajar, tetapi keputusan perang dan damai harus berdasarkan hikmah dan kebijakan pemimpin, bukan reaksi spontan.
- Teladani semangat salaf dalam mencari ilmu — Seperti Khalid bin Ma'dan yang mendatangi langsung sahabat Nabi untuk memastikan kebenaran hadits.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.