Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4019 tentang Lima ujian akibat maksiat yang dilakukan terang-terangan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ kepada kaum Muhajirin (dan seluruh umat) tentang lima ujian besar yang akan menimpa suatu kaum apabila mereka melakukan lima perbuatan maksiat. Ini adalah kabar ghaib dari Nabi ﷺ yang menunjukkan hubungan antara perbuatan dosa manusia dengan turunnya musibah. Hadits ini mengajarkan kita untuk menjauhi maksiat, terutama yang dilakukan secara terang-terangan, karena dampaknya tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi juga masyarakat luas.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab al-Fitan, Bab 'Uqubat (hukuman), no. 4019. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak dan Imam al-Baihaqi dalam Syua'b al-Iman dengan lafaz yang serupa.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Anfal [8]: 25

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya."

QS. Hud [11]: 117

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

"Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan."

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim saat menafsirkan QS. Al-Anfal: 25 menjelaskan bahwa ayat ini adalah peringatan agar manusia tidak tinggal diam saat kemungkaran terjadi di tengah mereka, karena adzab bisa meliputi orang shalih dan orang yang bermaksiat sekaligus. Ini sejalan dengan kandungan hadits di atas.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam dan juga dalam pembahasannya tentang fitnah, menjelaskan bahwa maksiat yang dilakukan secara terang-terangan akan menyebabkan turunnya adzab yang bersifat umum, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini berisi lima perkara yang disampaikan Nabi ﷺ kepada para sahabat, khususnya kaum Muhajirin. Mari kita pahami satu per satu:

Pertama: Kemungkaran yang diumumkan secara terang-terangan akan menyebabkan wabah dan penyakit aneh.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dampaknya terbatas pada pelakunya, tetapi dosa yang dilakukan terang-terangan akan menjadi contoh buruk dan mengundang kemurkaan Allah secara kolektif. Karena itu, wabah dan penyakit aneh yang belum pernah terjadi pada generasi sebelumnya akan muncul.

Kedua: Mengurangi timbangan dan takaran akan menyebabkan kelaparan dan kezaliman penguasa.

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kezaliman dalam muamalah akan menghilangkan keberkahan rezeki. Allah ﷻ murka kepada kaum yang curang dalam jual beli, sehingga mereka ditimpa paceklik dan dipimpin oleh penguasa yang zalim.

Ketiga: Menahan zakat akan menyebabkan hujan tertahan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa zakat adalah pembersih harta dan sebab turunnya keberkahan dari langit. Apabila manusia bakhil dan menahan zakat, maka Allah menahan hujan sebagai hukuman. Namun karena kasih sayang Allah kepada binatang ternak yang tidak berdosa, hujan tetap diturunkan sedikit.

Keempat: Melanggar perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya akan menyebabkan musuh menguasai.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam ad-Da' wa ad-Dawa' (al-Jawab al-Kafi) menjelaskan bahwa kehinaan dan kekalahan umat Islam di hadapan musuh adalah akibat dari pelanggaran mereka terhadap perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya ﷺ. Kemenangan hanya akan datang dengan ketaatan.

Kelima: Pemimpin yang tidak menghukum dengan Kitab Allah akan menyebabkan permusuhan internal.

Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarh Kitab at-Tauhid dan berbagai ceramahnya menjelaskan bahwa keadilan adalah pondasi ketenteraman masyarakat. Apabila pemimpin tidak menegakkan hukum Allah dan justru memilih hukum buatan manusia yang bertentangan dengan syariat, maka Allah akan menimbulkan permusuhan dan perpecahan di antara mereka.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dengan sanad yang mengandung perawi bernama Ibn Abi Malik. Para ulama hadits berbeda pendapat tentang identitasnya. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah adh-Dha'ifah dan Dha'if Ibni Majah menilai sanad hadits ini dha'if (lemah) karena kelemahan pada perawi tersebut. Namun demikian, makna hadits ini didukung oleh banyak dalil lain yang shahih, seperti hadits riwayat Imam Ibnu Majah juga dari jalur lain, dan ayat-ayat Al-Qur'an yang telah disebutkan. Karena itu, para ulama tetap menjadikannya sebagai pelajaran dan peringatan, meskipun derajat sanadnya lemah.

Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadits ini dalam Syua'b al-Iman dan beliau tidak menyebutkannya sebagai hadits palsu, sehingga kandungannya tetap bisa dijadikan pelajaran.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ menyampaikan hadits ini, beliau menghadap langsung kepada kaum Muhajirin. Ini menunjukkan perhatian khusus beliau kepada mereka yang telah berkorban hijrah meninggalkan harta dan kampung halaman. Namun justru kepada mereka yang paling utama ini, Nabi ﷺ memberikan peringatan paling serius. Ini mengajarkan bahwa orang yang paling dekat dengan kebaikan justru paling dijaga dari fitnah, karena setan tidak pernah berhenti menggoda.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Sesungguhnya Allah ﷻ apabila menghendaki kebaikan bagi suatu hamba, maka Dia menjadikan penasihat di dalam hatinya yang selalu mengingatkannya, dan apabila Dia menghendaki keburukan, maka Dia membiarkannya mengikuti hawa nafsunya." (Diriwayatkan oleh Imam Abu Nu'aim dalam al-Hilyah)

Kisah ini mengajarkan bahwa peringatan adalah bentuk kasih sayang. Nabi ﷺ tidak membiarkan para sahabat lengah, tetapi terus mengingatkan agar mereka tidak terjerumus pada sebab-sebab turunnya adzab.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi maksiat, terutama yang dilakukan terang-terangan, karena dampaknya meluas kepada masyarakat.
  2. Jaga kejujuran dalam muamalah — jangan curang dalam timbangan, takaran, atau transaksi lainnya.
  3. Tunaikan zakat dan sedekah karena itu sebab turunnya keberkahan dan hujan.
  4. Teguhkan komitmen kepada Allah dan Rasul-Nya dengan istiqamah menjalankan syariat.
  5. Wajib bagi pemimpin untuk menegakkan hukum Allah, dan bagi rakyat untuk memilih pemimpin yang menegakkan syariat.
  6. Jadikan musibah sebagai muhasabah — introspeksi diri apakah ada dosa yang menyebabkan turunnya ujian tersebut.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?