Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 4009 tentang Hukuman Allah menimpa kaum yang diam saat maksiat terjadi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahayanya diam dan tidak mau mengubah kemungkaran, padahal mampu. Jika suatu kaum membiarkan kemaksiatan terjadi di tengah-tengah mereka padahal mereka memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mencegahnya, maka azab Allah akan menimpa mereka semua, baik yang berbuat maksiat maupun yang diam. Ini adalah panggilan untuk kita agar tidak menjadi penonton dalam kerusakan, tetapi menjadi orang yang peduli dengan amar ma'ruf nahi mungkar sesuai kemampuan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي هُمْ أَعَزُّ مِنْهُمْ وَأَمْنَعُ لاَ يُغَيِّرُونَ إِلاَّ عَمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ "

Terjemahan: Dari ‘Ubaidullah bin Jarir, dari ayahnya (Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu 'anhu), ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada suatu kaum yang di dalamnya dilakukan perbuatan dosa, sementara mereka lebih kuat dan lebih berkuasa (mampu mencegah) namun mereka tidak mengubahnya, melainkan Allah akan menimpakan hukuman kepada mereka semua."

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

QS. Al-Anfal [8]: 25

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya."

Ayat ini sangat sejalan dengan hadits di atas. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa fitnah (siksaan) itu akan meliputi orang-orang yang berbuat zalim dan juga orang-orang yang mampu mencegah namun diam. Maka hendaknya setiap mukmin beramar ma'ruf nahi mungkar agar selamat dari azab yang menyeluruh.

Hadits Terkait Lainnya:

Hadits dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ"

"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung ancaman yang sangat serius. Mari kita perhatikan beberapa poin penting:

1. Makna "هُمْ أَعَزُّ مِنْهُمْ وَأَمْنَعُ" (mereka lebih kuat dan lebih berkuasa)

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa kondisi yang disebut dalam hadits ini adalah ketika para pelaku maksiat itu berada di bawah kekuasaan atau pengaruh kaum tersebut. Artinya, kaum itu sebenarnya mampu untuk mencegah, menegur, atau bahkan menghentikan kemaksiatan itu, tetapi mereka memilih diam. Inilah yang membuat azab Allah turun kepada mereka semua.

2. Azab yang Menyeluruh

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa ketika kemaksiatan dibiarkan dan pelakunya tidak dicegah padahal mampu, maka Allah akan menimpakan hukuman yang meliputi semua orang. Ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Anfal: 25 di atas. Beliau juga menjelaskan bahwa di antara hikmahnya adalah agar manusia belajar bahwa dosa itu tidak hanya berdampak pada pelakunya, tetapi juga pada lingkungannya.

3. Tingkatan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kewajiban mengubah kemungkaran itu bertingkat:

  • Dengan tangan (kekuasaan) bagi yang mampu, seperti penguasa atau yang memiliki otoritas.
  • Dengan lisan, yaitu nasihat dan teguran.
  • Dengan hati, yaitu membenci kemungkaran tersebut. Ini adalah tingkat minimal iman.

4. Peringatan dari Sifat Diam yang Berbahaya

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa diamnya orang-orang shalih terhadap kemungkaran padahal mereka mampu adalah salah satu sebab turunnya azab. Beliau menukil perkataan sebagian salaf bahwa ketika maksiat dilakukan secara terang-terangan dan tidak diingkari, maka itu pertanda akan datangnya hukuman.

5. Kisah Salaf tentang Bahaya Meninggalkan Amar Ma'ruf

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Janganlah kalian merasa aman dari azab Allah karena banyaknya orang shalih di antara kalian. Allah berfirman: 'Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.'" (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya)

Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami bahwa keshalihan individu tidak cukup jika dibarengi dengan pembiaran terhadap kemungkaran.

Story Telling

Dahulu, ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang tinggal di sebuah kampung yang penduduknya gemar berbuat maksiat. Di kampung itu ada seorang ahli ibadah yang sangat zuhud. Setiap hari ia melihat kemaksiatan terjadi di hadapannya, namun ia hanya diam dan sibuk dengan ibadahnya. Ia berkata dalam hatinya, "Aku tidak ikut berbuat maksiat, maka aku selamat."

Maka Allah mewahyukan kepada seorang nabi di masa itu: "Katakan kepada ahli ibadah itu, 'Engkau lebih bodoh daripada setan. Setan saja tidak pernah berhenti menggoda manusia, tetapi engkau diam melihat kemaksiatan dan tidak mau mencegahnya. Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menimpakan azab kepada mereka semua, dan engkau termasuk di dalamnya karena engkau diam padahal mampu berbicara.'"

Kisah ini disebutkan oleh sebagian ulama dalam konteks menjelaskan bahaya meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar. Hikmahnya: keshalihan pribadi tidak cukup; kita harus peduli dengan kondisi sekitar. Diam terhadap kemungkaran bisa menjadi sebab celaka.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah merasa aman hanya karena kita tidak ikut berbuat maksiat. Jika kita mampu mencegah dan tidak melakukannya, kita bisa terkena azab yang sama.
  2. Amar ma'ruf nahi mungkar itu bertingkat: dengan tangan (kekuasaan), lisan (nasihat), dan hati (membenci). Lakukan semampu kita.
  3. Niatkan setiap teguran kita karena Allah, dengan cara yang lembut dan bijaksana, bukan dengan kekerasan atau kebencian pribadi.
  4. Perbanyak doa untuk kebaikan lingkungan kita, karena hidayah itu dari Allah, dan kita hanya bertugas menyampaikan.
  5. Jangan meremehkan dosa-dosa kecil yang dilakukan terang-terangan, karena itu bisa menjadi sebab turunnya azab yang menyeluruh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.