Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3975 tentang Menahan lidah dari kemunafikan kepada penguasa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 3975) dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Intinya: berkata di depan penguasa dengan satu ucapan, lalu berkata berbeda saat di belakang mereka, dahulu di zaman Nabi ﷺ dianggap sebagai kemunafikan. Ini bukan larangan menasihati penguasa, tetapi larangan bermuka dua (nifaq amali) dan dusta. Nasihat kepada penguasa tetap wajib, namun dengan cara yang benar dan jujur, bukan dengan pujian palsu di depan lalu celaan di belakang.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 14

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

Terjemahan: "Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal mereka sebenarnya bukan orang-orang yang beriman."

QS. Al-Ahzab [33]: 70

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."

Hadits terkait:

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

"Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa nifaq dalam hadits ini adalah nifaq 'amali (kemunafikan dalam perbuatan), bukan nifaq i'tiqadi (keyakinan). Beliau menegaskan bahwa bermuka dua termasuk sifat tercela yang dilarang.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa bermuka dua (dzul wajhain) adalah orang yang mendatangi satu pihak dengan satu wajah dan pihak lain dengan wajah berbeda, dan ini termasuk sifat munafik.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa nifaq amali bisa mengurangi keimanan dan wajib dijauhi.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kejujuran adalah pokok keimanan, sedangkan dusta dan bermuka dua adalah cabang kemunafikan.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Atsar ini bukan sabda Nabi ﷺ secara langsung, melainkan perkataan sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Namun karena beliau menyandarkannya kepada zaman Nabi ﷺ ("kami menganggap itu kemunafikan pada zaman Rasulullah"), maka ini memiliki hukum marfu' (dianggap bersumber dari Nabi ﷺ) menurut kaidah ahli hadits, karena tidak mungkin sahabat menetapkan suatu sifat sebagai kemunafikan tanpa dasar dari Nabi ﷺ.

Konteks situasi:

Abu Sya'tsa' (perawi) bertanya kepada Ibnu Umar tentang kebiasaan sebagian orang yang masuk menemui penguasa, memuji dan menyetujui mereka, lalu setelah keluar mencela dan menyalahkan mereka. Ibnu Umar menjawab bahwa sikap seperti itu di zaman Nabi ﷺ dianggap sebagai kemunafikan.

Pemahaman ulama:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah nifaq 'amali, yaitu menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang disembunyikan. Ini berbeda dengan nifaq besar (i'tiqadi) yang mengeluarkan seseorang dari Islam.
  2. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa bermuka dua adalah sifat tercela. Beliau menyebutkan hadits lain: "Orang yang paling buruk adalah yang bermuka dua, datang kepada ini dengan satu wajah dan kepada itu dengan wajah lain."
  3. Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa kejujuran adalah ciri iman, sedangkan dusta dan bermuka dua adalah ciri kemunafikan. Beliau mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri: "Keimanan bukanlah dengan berangan-angan, tetapi apa yang tertanam di hati dan dibuktikan dengan amal."
  4. Syeikh as-Sa'di menegaskan bahwa seorang mukmin harus jujur dalam ucapan dan perbuatannya, tidak boleh menampakkan sesuatu yang berbeda dengan hatinya.

Penting: bukan larangan menasihati penguasa

Hadits ini tidak berarti seorang Muslim tidak boleh menasihati penguasa. Justru nasihat kepada penguasa adalah kewajiban agama. Nabi ﷺ bersabda: "Agama adalah nasihat." Para sahabat bertanya: "Untuk siapa?" Beliau menjawab: "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan kaum Muslimin secara umum." (HR. Muslim)

Yang dilarang adalah:

  • Memuji penguasa dengan pujian palsu di depan mereka
  • Menyetujui kemungkaran mereka secara diam-diam
  • Lalu mencela dan menggunjing mereka di belakang
  • Atau sebaliknya, menampakkan loyalitas di depan lalu mengkhianati di belakang

Cara yang benar:

  • Jika mampu, nasihatilah penguasa secara langsung dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan fitnah.
  • Jika tidak mampu, diam dari mencela dan gunjing, serta doakan kebaikan untuk mereka.
  • Jangan memuji kemungkaran, dan jangan pula menyebarkan keburukan mereka di tengah masyarakat yang bisa menimbulkan kekacauan.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama seperti Al-Awza'i dan Sufyan ats-Tsauri berpendapat bahwa menghadapi penguasa yang zalim hendaknya dengan sabar dan tidak mengangkat senjata, serta tidak mencela mereka di depan umum. Sedangkan Ibn Taymiyyah menegaskan pentingnya nasihat dengan cara yang benar dan menghindari fitnah. Pendapat yang paling kuat adalah yang menggabungkan keduanya: nasihat wajib, tetapi dengan cara yang tidak menimbulkan kerusakan lebih besar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang sikap terhadap penguasa. Beliau menjawab dengan lembut bahwa seorang Muslim hendaknya tidak memuji kezaliman di depan penguasa, dan tidak pula mencela mereka di belakang hingga menimbulkan fitnah. Beliau mengajarkan agar seorang hamba menjaga lisannya dan berdoa untuk perbaikan keadaan.

Fudail bin 'Iyadh pernah berkata: "Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan mendoakannya untuk penguasa, karena kebaikan mereka adalah kebaikan bagi kaum Muslimin."

Abdullah bin al-Mubarak juga dikenal sangat berhati-hati dalam berbicara tentang penguasa. Beliau lebih memilih menasihati secara pribadi daripada mencela di depan umum.

Hikmahnya: menjaga lisan adalah bagian dari keimanan, dan kejujuran adalah pokok agama. Bermuka dua merusak kepercayaan dan menumbuhkan kemunafikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jujurlah dalam ucapan — jangan berkata berbeda di depan dan di belakang.
  2. Bermuka dua adalah sifat munafik yang harus dijauhi, meskipun tidak mengeluarkan dari Islam.
  3. Nasihat kepada penguasa tetap wajib, tetapi dengan cara yang benar: langsung, lembut, dan tidak menimbulkan fitnah.
  4. Jangan memuji kemungkaran dan jangan pula mencela di belakang hingga menimbulkan kekacauan.
  5. Jaga lisan karena lisan adalah cerminan hati.
  6. Doakan kebaikan untuk penguasa dan kaum Muslimin secara umum.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?