Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3795 tentang Kalimat tauhid menjadi cahaya dan penenang saat sakaratul maut

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari kalimat Lā ilāha illallāh (لا إله إلا الله). Kalimat ini adalah sebaik-baik zikir, dan siapa yang mengucapkannya dengan ikhlas di saat kematiannya, maka ia akan menjadi cahaya bagi catatan amalnya dan memberikan ketenangan bagi jiwa serta raganya. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk tidak menunda bertanya tentang hal-hal penting dalam agama, karena bisa jadi kita tidak akan sempat lagi menanyakannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab Fadlu Lā ilāha illallāh, no. 3795. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dan lainnya. Para ulama berbeda pendapat tentang statusnya, namun maknanya didukung oleh banyak dalil lain yang shahih.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

(QS. Hud [11]: 88)

Terjemahan: "Dia (Syuaib) berkata: 'Wahai kaumku! Bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku diberi-Nya rezeki yang baik (dari-Nya)? Dan aku tidak ingin menyalahi kamu dengan (mengerjakan) apa yang aku larang. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan menurut kemampuanku. Dan taufikku hanya dengan (pertolongan) Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.'"

Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi dan orang-orang shalih selalu mengajak kepada kalimat tauhid dan mengingatkan kaumnya untuk berpegang teguh padanya, karena ia adalah kunci keselamatan.

Hadits Pendukung yang Shahih:

Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah 'Lā ilāha illallāh', maka dia masuk surga." (HR. Abu Dawud no. 3116, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Kaitan dengan Ulama:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Istiqamah dan Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa kalimat tauhid ini adalah kunci surga, dan keutamaannya sangat agung. Beliau menukil dari para ulama salaf bahwa kalimat ini adalah pembeda antara iman dan kekufuran, dan ia akan menjadi syafaat bagi pengucapnya yang ikhlas.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Kalimat yang Dimaksud adalah Lā ilāha illallāh: Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dengan kecerdasannya langsung memahami bahwa kalimat yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ adalah kalimat tauhid. Ini karena beliau mendengar sendiri sabda Nabi ﷺ kepada pamannya, Abu Thalib, saat beliau menjelang wafat: "Wahai pamanku, ucapkanlah Lā ilāha illallāh, sebuah kalimat yang akan aku jadikan sebagai pembela bagimu di sisi Allah." (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa kalimat ini adalah wasiat terakhir para nabi kepada orang-orang terdekat mereka.
  2. Cahaya bagi Catatan Amal: Kata "nūr" (نُور) dalam hadits berarti cahaya. Para ulama menjelaskan bahwa kalimat tauhid ini akan menjadi cahaya yang menerangi catatan amal seseorang di hari kiamat. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa amal kebaikan akan menjadi cahaya bagi pelakunya, dan kalimat tauhid adalah amal yang paling utama. Ini juga sejalan dengan firman Allah:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ

"Pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya (mereka) bersinar di depan dan di sebelah kanan mereka." (QS. Al-Hadid [57]: 12)

  1. Ketenangan Saat Kematian: Sabda Nabi ﷺ bahwa "tubuh dan ruhnya akan merasakan kenyamanan (rūh)" menunjukkan bahwa kalimat tauhid memberikan ketenangan batin yang luar biasa, bahkan di saat sakaratul maut yang sangat berat. Ini adalah karunia dari Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan mengucapkannya dengan penuh keyakinan. Imam Ibnul Qayyim dalam Ad-Da'u wad-Dawa' menjelaskan bahwa dzikir kepada Allah adalah ketenangan hati, dan kalimat tauhid adalah dzikir yang paling agung.
  2. Pentingnya Tidak Menunda Bertanya: Kisah Talhah bin Ubaidillah yang tidak sempat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kalimat tersebut adalah pelajaran berharga. Kita tidak boleh menunda-nunda untuk bertanya tentang perkara agama yang belum kita pahami, karena ajal bisa datang kapan saja. Imam Al-Bukhari membuat bab dalam shahihnya tentang "Orang yang bertanya (tentang agama) sambil berdiri" dan "Semangat para sahabat dalam bertanya tentang hal-hal yang bermanfaat."
  3. Keutamaan Kalimat Tauhid: Hadits ini menegaskan bahwa kalimat Lā ilāha illallāh adalah kalimat yang paling utama. Imam Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah menyebutkan banyak hadits tentang keutamaannya, di antaranya bahwa kalimat ini adalah sebaik-baik zikir dan paling berat timbangannya di hari kiamat.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang seorang salaf yang merasakan keutamaan kalimat ini. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (semoga Allah merahmatinya) pernah ditanya oleh seseorang, "Wahai Imam, apa yang Anda rasakan saat sakaratul maut?" Beliau menjawab, "Aku merasakan sedikit rasa sakit, tetapi aku tidak merasakan sakit yang sangat berat."

Namun ada kisah yang lebih agung lagi. Dikisahkan bahwa Sufyan ats-Tsauri (semoga Allah merahmatinya) saat menjelang wafatnya, beliau terus mengucapkan kalimat tauhid. Para ulama menyebutkan bahwa ini adalah buah dari kehidupan yang penuh dengan dzikir dan keikhlasan kepada Allah.

Kisah yang paling agung adalah kisah Abu Thalib, paman Nabi ﷺ. Saat beliau menjelang wafat, Nabi ﷺ mendatanginya dan bersabda: "Wahai paman, ucapkanlah Lā ilāha illallāh, sebuah kalimat yang akan aku jadikan sebagai pembela bagimu di sisi Allah." Namun Abu Thalib menolak karena takut dicela kaumnya. Maka turunlah firman Allah:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki." (QS. Al-Qashash [28]: 56)

Kisah ini menunjukkan betapa agungnya kalimat ini, sampai-sampai Nabi ﷺ sangat menginginkannya untuk pamannya, dan betapa ruginya orang yang tidak mengucapkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak mengucapkan Lā ilāha illallāh setiap saat, terutama di waktu-waktu yang utama seperti pagi dan petang, serta saat menghadapi kesulitan.
  2. Jaga lisan kita agar akhir hidup kita ditutup dengan kalimat tauhid. Ini bisa kita raih dengan membiasakan diri berdzikir sepanjang hidup.
  3. Jangan menunda bertanya tentang perkara agama yang belum kita pahami. Segera tanyakan kepada ulama yang terpercaya.
  4. Ajarkan kalimat tauhid kepada keluarga dan orang-orang terdekat kita, terutama kepada mereka yang sudah lanjut usia atau sedang sakit, dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang.
  5. Yakinlah bahwa kalimat ini adalah cahaya yang akan menerangi kita di dunia, di alam kubur, dan di hari kiamat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.