Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3741 tentang Larangan memanggil dengan gelar yang dibenci

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan sebab turunnya (asbabun nuzul) firman Allah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 11 tentang larangan memanggil seseorang dengan gelar atau panggilan yang tidak ia sukai. Pelajaran utamanya adalah kita harus memanggil sesama muslim dengan nama atau panggilan yang baik dan disukainya, karena memanggil dengan gelar yang buruk termasuk perbuatan tercela yang dilarang syariat.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِ ۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela, dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

2. Hadits:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Gelar, no. 3741, dari sahabat Abu Jabirah bin adh-Dhahhak radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam Ahmad, dan dinilai hasan oleh para ulama.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini melarang saling memanggil dengan gelar yang dibenci pemiliknya.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman) menjelaskan bahwa larangan ini mencakup semua bentuk panggilan buruk yang menyakiti hati saudara sesama muslim.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil penting tentang adab memanggil sesama muslim. Mari kita pahami beberapa poin penting:

1. Sebab Turunnya Ayat (Asbabun Nuzul)

Abu Jabirah bin adh-Dhahhak radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan kaum Ansar. Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, sebagian kaum Ansar memiliki dua atau tiga nama. Kadang Nabi ﷺ memanggil mereka dengan salah satu nama yang tidak mereka sukai, lalu dikatakan kepada beliau: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia marah (tidak suka) dengan panggilan itu." Maka turunlah ayat ini.

2. Makna "At-Tanabuz bil-Alqab"

Syaikh as-Sa'di menjelaskan bahwa at-tanabuz bil-alqab adalah saling memanggil dengan gelar-gelar yang dibenci oleh yang dipanggil. Ini bisa berupa gelar yang mengandung ejekan, penghinaan, atau bahkan panggilan yang sebenarnya benar secara makna tetapi membuat pemiliknya tidak nyaman.

3. Hukum Memanggil dengan Gelar yang Tidak Disukai

Para ulama menjelaskan bahwa hukumnya haram jika panggilan tersebut dimaksudkan untuk merendahkan atau menyakiti. Namun jika panggilan itu disukai oleh yang dipanggil, seperti "Wahai orang yang beriman" atau panggilan yang membuatnya senang, maka itu diperbolehkan.

4. Pelajaran dari Sikap Nabi ﷺ

Meskipun Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia dan paling baik akhlaknya, beliau tetap ditegur oleh Allah melalui ayat ini. Ini menunjukkan bahwa larangan ini bersifat umum dan tidak terkecuali, sekaligus mengajarkan bahwa kita harus sangat berhati-hati dalam memanggil sesama.

5. Adab Memanggil Sesama Muslim

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa disunnahkan memanggil seseorang dengan nama yang paling disukainya, dan diharamkan memanggil dengan nama yang dibencinya, walaupun nama itu benar secara faktual.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan dari Salafus Shalih tentang kehati-hatian mereka dalam memanggil sesama. Diriwayatkan bahwa Sa'id bin al-Musayyib — salah seorang ulama tabi'in yang paling mulia — sangat menjaga lisannya. Beliau tidak pernah memanggil seseorang kecuali dengan panggilan yang baik dan disukai. Beliau memahami betul bahwa lisan yang terjaga adalah tanda keimanan yang kuat.

Kisah lain, ketika Al-Hasan al-Bashri ditanya tentang makna ayat ini, beliau berkata: "Janganlah engkau memanggil saudaramu dengan panggilan yang engkau sendiri tidak suka jika dipanggil dengannya." Ini adalah pelajaran emas: ukurlah perkataanmu dengan perasaanmu sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Perhatikan panggilan kita kepada orang lain, baik keluarga, teman, tetangga, maupun rekan kerja. Pastikan panggilan itu disukai oleh yang dipanggil.
  2. Jauhi panggilan yang merendahkan, meskipun hanya bercanda. Karena bercanda dengan ejekan tetap dilarang.
  3. Jika kita pernah memanggil seseorang dengan gelar yang tidak disukainya, segera minta maaf dan perbaiki panggilan kita.
  4. Biasakan memanggil dengan nama yang baik atau panggilan yang menunjukkan penghormatan, seperti "Ustadz", "Pak", "Bu", atau nama kesayangan yang disukai.
  5. Jadikan QS. Al-Hujurat [49]: 11 sebagai pengingat bahwa orang yang kita ejek bisa jadi lebih mulia di sisi Allah daripada kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.