Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3732 tentang Anjuran mengganti nama yang mengandung pujian diri

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mengubah nama seseorang dari "Barrah" (yang berarti "orang yang sangat berbakti/baik") menjadi "Zainab", karena nama "Barrah" bisa membuat pemiliknya dipandang memuji diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa Islam menganjurkan memilih nama yang baik dan menghindari nama yang bisa menimbulkan kesombongan atau pujian berlebihan terhadap diri sendiri.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Mengubah Nama-nama, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dan Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما, dengan lafaz yang semakna.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 11

وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah iman. Dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Kaitan dengan ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya mengganti nama yang mengandung makna pujian berlebihan terhadap diri sendiri. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang anjuran memilih nama yang baik dan mengganti nama yang buruk atau yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Kata "بَرَّة" (Barrah) berasal dari akar kata "بِرّ" (birr) yang berarti kebaikan, kebaktian, atau ketakwaan. Nama ini secara makna berarti "perempuan yang sangat baik/berbakti." Namun, ketika seseorang dipanggil dengan nama ini, seolah-olah ia sedang menyatakan dirinya sendiri sebagai orang yang sangat baik — dan ini bisa menimbulkan kesan tazkiyatun nafs (memuji diri sendiri), yang dilarang dalam Islam.

Penjelasan para ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa hikmah dari penggantian nama ini:

  1. Nama "Barrah" mengandung makna tazkiyah (pembersihan/pujian) terhadap diri sendiri, sedangkan Allah melarang seseorang memuji dirinya sendiri secara berlebihan (QS. An-Najm [53]: 32).
  2. Rasulullah ﷺ menggantinya dengan "Zainab", yang berasal dari nama pohon yang indah dan harum, sehingga tetap mengandung makna keindahan tanpa unsur pujian terhadap diri sendiri.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memperhatikan nama-nama yang bisa menimbulkan dampak psikologis atau sosial bagi pemiliknya. Nama yang baik akan membawa pengaruh positif, sedangkan nama yang mengandung kesan negatif atau pujian berlebihan sebaiknya diganti.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa di antara kebiasaan Nabi ﷺ adalah mengganti nama-nama yang buruk atau yang mengandung makna tidak pantas dengan nama yang lebih baik. Ini termasuk bagian dari tarbiyah (pendidikan) Nabi ﷺ terhadap umatnya.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menekankan bahwa syariat Islam sangat memperhatikan adab dan akhlak, termasuk dalam hal penamaan. Nama bukan sekadar identitas, tetapi juga doa dan harapan.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama:

Para ulama dari daftar yang disebutkan sepakat bahwa mengganti nama yang buruk atau yang mengandung makna pujian berlebihan adalah sunnah. Perbedaan hanya pada tingkat keutamaan: sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menganggapnya sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan), sementara Imam an-Nawawi menyebutnya sebagai anjuran yang baik (mustahab).

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa mengganti nama yang buruk atau yang mengandung makna tidak pantas adalah sunnah yang dianjurkan, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna, seperti penggantian nama "Ashram" menjadi "Zur'ah", "Hazn" menjadi "Sahl", dan lain-lain.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ada seorang perempuan yang bernama Barrah binti Tsabit, yang kemudian dinikahi oleh seorang sahabat. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui namanya, beliau bersabda: "Janganlah kamu mengatakan 'Barrah' (baik), karena itu berarti kamu memuji dirinya sendiri." Kemudian beliau mengganti namanya menjadi Zainab.

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah رضي الله عنه menceritakan bahwa ada beberapa perempuan yang bernama Barrah, dan Rasulullah ﷺ mengganti nama mereka menjadi Zainab. Ini menunjukkan bahwa penggantian nama ini bukan hanya untuk satu orang, tetapi merupakan kebijakan umum Nabi ﷺ dalam membimbing umatnya.

Hikmah: Rasulullah ﷺ tidak hanya memperbaiki ibadah dan akhlak, tetapi juga memperhatikan hal-hal kecil seperti nama, karena nama adalah doa dan cerminan identitas seseorang. Beliau ingin umatnya memiliki nama yang baik, yang tidak menimbulkan kesombongan atau pujian berlebihan terhadap diri sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Pilihlah nama yang baik untuk diri sendiri dan anak-anak kita, karena nama adalah doa dan identitas yang akan melekat seumur hidup.
  2. Hindari nama yang mengandung pujian berlebihan terhadap diri sendiri, seperti "Barrah" (sangat baik), "Afdhal" (paling utama), atau "Akram" (paling mulia), karena bisa menimbulkan kesan sombong.
  3. Jika memiliki nama yang kurang baik, tidak ada salahnya menggantinya dengan nama yang lebih baik, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.
  4. Perhatikan adab dalam memanggil orang lain, jangan menggunakan gelar atau panggilan yang buruk atau menyakitkan hati.
  5. Didiklah keluarga untuk memahami bahwa nama bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari identitas dan doa yang harus dijaga dengan baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?