Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan bersuci dengan air setelah buang hajat (istinja), dan bahwa ayat Al-Qur'an tentang pujian Allah kepada orang-orang yang mencintai bersuci turun berkenaan dengan penduduk Quba' yang membiasakan istinja dengan air. Ini menunjukkan bahwa bersuci dengan air adalah amalan yang dicintai Allah dan memiliki keutamaan yang besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. At-Taubah [9]: 108
فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Terjemahan: "Di dalamnya (masjid) terdapat laki-laki yang mencintai untuk bersuci dan menyucikan diri. Dan Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab Istinja dengan Air, nomor 357, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan. Al-Albani dalam kitabnya menyebutkan hadits ini sebagai hadits yang shahih.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan penduduk Quba' yang biasa bersuci dengan air setelah buang hajat.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa istinja dengan air lebih sempurna dalam menghilangkan najis.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan keutamaan bersuci dan kebersihan sebagai bagian dari fitrah dan syariat.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ayat dalam Surah At-Taubah ayat 108 turun berkenaan dengan penduduk Quba'. Mereka adalah kaum yang membiasakan diri bersuci dengan air setelah buang air kecil maupun buang air besar. Allah memuji mereka dalam ayat tersebut karena kecintaan mereka terhadap kebersihan dan kesucian.
Pemahaman ulama:
- Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan bahwa penduduk Quba' dikenal sebagai orang yang bersih. Mereka beristinja dengan air, dan karena amalan itulah Allah menurunkan pujian dalam ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa amalan bersuci dengan air memiliki kedudukan yang tinggi.
- Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa istinja dengan air lebih utama karena lebih menyucikan dan menghilangkan najis secara sempurna. Namun beliau juga menyebutkan bahwa istinja dengan batu (istijmar) diperbolehkan selama dapat menghilangkan najis, dengan syarat menggunakan tiga batu atau lebih.
- Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa bersuci adalah bagian dari syariat yang sangat ditekankan. Beliau menyebutkan bahwa kebersihan adalah separuh dari iman, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain.
- Syeikh al-Albani rahimahullah menilai hadits ini sebagai hadits yang shahih dan menggunakannya sebagai dalil keutamaan istinja dengan air.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama antara istinja dengan air atau dengan batu:
- Jumhur ulama (mayoritas) dari kalangan Syafi'iyah, Malikiyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa istinja dengan air lebih utama karena lebih menyucikan.
- Sebagian ulama Hanafiyah berpendapat bahwa istinja dengan batu juga sah dan mencukupi selama dapat menghilangkan najis.
- Ibn Taymiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa keduanya sah, namun air lebih sempurna dalam menghilangkan najis.
Pendapat yang paling kuat:
Yang paling kuat adalah pendapat jumhur ulama bahwa istinja dengan air lebih utama, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang menunjukkan keutamaan bersuci dengan air. Ini juga sesuai dengan kaidah bahwa air adalah alat bersuci yang paling sempurna.
Story Telling
Dikisahkan bahwa penduduk Quba' adalah kaum yang sangat memperhatikan kebersihan. Mereka tidak hanya bersuci dengan batu, tetapi juga menggunakan air untuk membersihkan diri setelah buang hajat. Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau melewati Quba' dan mendirikan masjid di sana. Allah kemudian menurunkan ayat yang memuji penduduk Quba' karena kecintaan mereka terhadap bersuci.
Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah ﷺ bertanya kepada penduduk Quba' tentang amalan mereka, dan mereka menjawab bahwa mereka biasa bersuci dengan air. Maka Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan mereka.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa amalan kecil yang dilakukan dengan konsisten dan ikhlas dapat mendatangkan pujian dari Allah. Kebersihan dan kesucian adalah bagian dari iman, dan Allah mencintai orang-orang yang menjaga kebersihan diri.
Kesimpulan Praktis
- Istinja dengan air adalah amalan yang utama dan dicintai Allah, sebagaimana pujian Allah kepada penduduk Quba'.
- Bersuci adalah bagian dari iman dan hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh.
- Kebersihan diri adalah cerminan keimanan seseorang, maka jagalah kebersihan dalam setiap keadaan.
- Amalan yang konsisten, sekalipun kecil, dapat mendatangkan pujian dan cinta Allah.
- Hendaknya kita meneladani penduduk Quba' dalam menjaga kebersihan dan kesucian, terutama dalam bersuci setelah buang hajat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.