Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 355 tentang Keutamaan bersuci dengan air setelah buang air

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil utama yang menunjukkan keutamaan bersuci dengan air, khususnya dalam beristinja' (membersihkan diri setelah buang air). Hadits ini juga menjelaskan sebab turunnya (asbabun nuzul) QS. At-Taubah [9]: 108, bahwa yang dimaksud "orang-orang yang suka membersihkan diri" dalam ayat tersebut adalah kaum Anshar yang terbiasa beristinja' dengan air. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa amalan mereka itulah yang dipuji Allah, dan beliau memerintahkan mereka untuk terus melakukannya.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an (QS. At-Taubah [9]: 108)

Teks Arab (dengan harakat lengkap):

فِيْهِ رِجَالٌ يُحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ

Terjemahan: "Di dalamnya (masjid) terdapat orang-orang yang suka membersihkan diri. Dan Allah mencintai orang-orang yang membersihkan diri."

2. Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah (no. 355)

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al-Ansari, Jabir bin Abdullah, dan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhum. Imam Ibnu Majah meriwayatkannya dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab Istinja' dengan Air.

3. Kaitan dengan Ulama dari Daftar

  • Imam Ibnu Majah (w. 273 H) memuat hadits ini dalam kitabnya sebagai dalil disyariatkannya istinja' dengan air.
  • Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan asbabun nuzul ayat ini dengan menyebutkan hadits serupa, bahwa kaum Anshar membersihkan diri dengan air setelah buang air kecil dan besar.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini memuji orang-orang yang bersuci dari hadas dan najis, serta membersihkan hati dari syirik dan akhlak buruk.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Asbabun Nuzul Ayat

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Masjid Quba'. Kaum Anshar di Quba' memiliki kebiasaan bersuci dengan air setelah buang air. Ketika ayat ini turun, Rasulullah ﷺ bertanya kepada mereka tentang amalan yang membuat mereka dipuji Allah. Mereka menjawab bahwa mereka berwudhu untuk shalat, mandi junub, dan beristinja' dengan air. Maka beliau bersabda, "Itulah yang dimaksud, maka lakukanlah."

2. Keutamaan Istinja' dengan Air

Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa istinja' dengan air adalah cara yang paling sempurna dan paling utama dalam membersihkan diri dari najis. Ini karena air menghilangkan najis secara menyeluruh, baik warna, rasa, maupun baunya. Adapun menggunakan batu atau tisu hanyalah cara darurat ketika air tidak tersedia.

3. Perpaduan antara Wudhu, Mandi, dan Istinja'

Para ulama dari kalangan salaf seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Asy-Syafi'i menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa istinja' dengan air adalah amalan yang sangat dianjurkan. Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa beristinja' dengan air adalah kesempurnaan thaharah, sedangkan dengan batu hanyalah mencukupi (mujzi') ketika tidak ada air.

4. Makna "Al-Mutathahhirin"

Syaikh As-Sa'di menafsirkan bahwa al-mutathahhirin mencakup dua makna:

  • Bersuci secara lahiriah: dari hadas dan najis.
  • Bersuci secara batiniah: dari syirik, kemunafikan, dan akhlak yang buruk.

Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya memperhatikan kebersihan fisik, tetapi juga kebersihan hati dan jiwa.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah ﷺ bertanya kepada kaum Anshar, "Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Allah telah memuji kalian dalam masalah thaharah (bersuci). Maka apakah yang kalian lakukan?"

Mereka menjawab dengan penuh kejujuran dan kesederhanaan, "Kami berwudhu untuk shalat, kami mandi dari janabah, dan kami beristinja' dengan air."

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Itulah yang dimaksud. Maka lakukanlah."

Kisah ini menunjukkan bahwa amalan yang sederhana namun dilakukan dengan ikhlas dan sesuai sunnah akan diangkat oleh Allah menjadi sebab pujian-Nya. Kaum Anshar tidak melakukan amalan yang aneh-aneh, tetapi mereka menjaga kebersihan dengan cara yang paling sempurna, yaitu menggunakan air.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan beristinja' dengan air setelah buang air kecil maupun besar, karena ini adalah cara yang paling sempurna dan dipuji oleh Allah.
  2. Jaga kebersihan secara menyeluruh — baik kebersihan badan, pakaian, tempat, maupun hati dari sifat-sifat tercela.
  3. Jadikan wudhu, mandi, dan istinja' sebagai ibadah yang diniatkan untuk menghilangkan hadas dan najis karena Allah.
  4. Jangan meremehkan kebersihan, karena Allah mencintai orang-orang yang bersuci dan membersihkan diri.
  5. Teladani kaum Anshar yang mendapatkan pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya karena kebiasaan bersuci mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?