Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan dua hal besar: (1) bahwa kesempurnaan iman dan akhlak pada wanita yang disebutkan Nabi ﷺ secara khusus adalah Maryam binti 'Imran dan Asiyah istri Fir'aun, dan (2) bahwa keutamaan 'Aisyah رضي الله عنها atas wanita-wanita lain diibaratkan seperti keutamaan tsarid (tharid) atas seluruh makanan. Hadits ini bukan merendahkan wanita lain, melainkan memuliakan dua wanita shalihah dan mengangkat kedudukan 'Aisyah sebagai istri Nabi ﷺ yang paling utama.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
Allah memuji Maryam dan keluarganya:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga 'Imran melebihi seluruh alam." (QS. Ali 'Imran [3]: 33)
Dan tentang Maryam:
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
"Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata: 'Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan memilihmu melebihi seluruh wanita di alam ini.'" (QS. Ali 'Imran [3]: 42)
Adapun tentang Asiyah, Allah menyebutnya sebagai teladan bagi orang beriman:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
"Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir'aun, ketika ia berkata: 'Wahai Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga.'" (QS. At-Tahrim [66]: 11)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه, dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Makanan, Bab Keutamaan Tharid atas Makanan (no. 3280). Lafazh yang disebutkan dalam pertanyaan adalah riwayat Ibnu Majah.
Penjelasan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "kesempurnaan" di sini adalah kesempurnaan iman, akhlak, dan sifat-sifat mulia yang bisa dicapai manusia, bukan kesempurnaan kenabian.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa penyebutan Maryam dan Asiyah secara khusus karena keduanya mencapai puncak kesempurnaan dalam keimanan, kesabaran, dan keteguhan di jalan Allah.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Asiyah adalah wanita yang beriman di tengah kekufuran suaminya, dan Maryam adalah wanita yang menjaga kehormatannya serta taat kepada Allah.
Penjelasan Rinci
Pertama: Makna "Kesempurnaan" pada Lelaki dan Wanita
Nabi ﷺ bersabda: "Kammala minar-rijāli katsīr" — banyak lelaki yang mencapai kesempurnaan. Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman dan akhlak bisa dicapai oleh banyak lelaki, seperti para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.
Kemudian beliau ﷺ bersabda: "Wa lam yakmul minan-nisā'i illā Maryam binta 'Imrān wa Āsiyah imra'atu Fir'aun" — tidak ada wanita yang mencapai kesempurnaan kecuali Maryam dan Asiyah. Ini bukan berarti tidak ada wanita shalihah selain mereka, karena banyak wanita shalihah dalam Islam seperti Khadijah, Fatimah, dan lainnya. Akan tetapi, maknanya menurut Ibnu Hajar dan an-Nawawi adalah kesempurnaan yang paling tinggi dan sempurna dalam segala aspek, atau kesempurnaan yang disebutkan dalam konteks tertentu (seperti keteguhan menghadapi ujian berat).
Kedua: Keutamaan 'Aisyah رضي الله عنها
Nabi ﷺ mengibaratkan keutamaan 'Aisyah atas wanita-wanita lain seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan. Tsarid adalah makanan yang terbuat dari roti yang diremukkan lalu dicampur dengan kuah daging — makanan yang paling lezat dan bergizi di kalangan Arab saat itu.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan keutamaan 'Aisyah yang sangat tinggi, karena:
- 'Aisyah adalah istri Nabi ﷺ yang paling dicintai.
- Beliau adalah wanita yang paling faqih (paham agama) di antara para istri Nabi.
- Beliau meriwayatkan banyak hadits dan menjadi rujukan para sahabat dalam ilmu agama.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa 'Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki wanita lain, seperti turunnya wahyu di rumahnya, dan Nabi ﷺ wafat di pangkuannya.
Ketiga: Perbedaan Pendapat Ulama
Sebagian ulama menjelaskan bahwa keutamaan 'Aisyah di sini adalah keutamaan mutlak di antara seluruh wanita umat ini. Namun an-Nawawi menyatakan bahwa keutamaan ini khusus di antara wanita-wanita umat Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan Maryam dan Asiyah memiliki keutamaan tersendiri di umat mereka. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa 'Aisyah adalah wanita paling utama di umat ini, sedangkan Maryam dan Asiyah adalah wanita paling utama di umat sebelumnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika para sahabat berbincang tentang keutamaan para wanita. Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه menyampaikan hadits ini kepada kaumnya, dan mereka pun memahami bahwa Nabi ﷺ sedang memuliakan 'Aisyah sebagai teladan bagi wanita beriman.
Dalam kisah Asiyah, Ibnu Katsir menceritakan bahwa meskipun ia hidup di istana Fir'aun yang penuh kekufuran, ia tetap beriman kepada Allah dan menyerahkan dirinya kepada-Nya. Ketika Fir'aun mengetahui keimanannya, ia disiksa dengan sangat berat, namun ia tetap teguh hingga Allah memberinya rumah di surga.
Adapun Maryam, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ia adalah wanita yang menjaga kehormatannya, taat beribadah, dan Allah memilihnya di atas seluruh wanita di zamannya. Keduanya menjadi teladan bagi wanita beriman dalam menghadapi ujian dan menjaga keteguhan iman.
Kesimpulan Praktis
- Kesempurnaan iman bisa dicapai oleh lelaki maupun wanita, dan teladan terbaik bagi wanita adalah Maryam dan Asiyah.
- 'Aisyah رضي الله عنها memiliki kedudukan istimewa sebagai istri Nabi ﷺ yang paling utama dan paling faqih dalam agama.
- Hendaknya kita memuliakan para wanita shalihah dan menjadikan mereka teladan dalam keteguhan iman, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah.
- Jangan merendahkan wanita lain hanya karena hadits ini menyebut dua nama secara khusus, karena banyak wanita shalihah lain yang juga mulia di sisi Allah.
- Hendaknya kita meneladani sifat Asiyah yang teguh dalam iman meskipun berada di lingkungan yang buruk, dan meneladani Maryam dalam menjaga kehormatan dan ibadah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.