Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan lafazh Talbiyah yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada umatnya saat berihram haji atau umrah, yaitu: Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wan-ni'mata laka wal-mulk, la syarika lak. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma kemudian menambahkan beberapa kalimat dari dirinya sendiri sebagai bentuk dzikir dan doa, bukan sebagai bagian dari lafazh yang ditetapkan Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan bahwa Talbiyah adalah syiar tauhid yang agung, menegaskan keesaan Allah dalam segala hal.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
Allah ﷻ berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
"Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana."
(QS. Ali 'Imran [3]: 97)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Manasik, Bab Talbiyah (no. 2918), dari jalur 'Ubaidullah bin 'Umar → Nafi' → Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Umar, dan oleh Muslim dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa lafazh Talbiyah yang shahih dari Nabi ﷺ adalah yang disebutkan dalam hadits ini, dan tambahan Ibnu 'Umar merupakan ijtihad beliau sendiri sebagai dzikir tambahan.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat Talbiyah disunnahkan diucapkan dengan suara keras bagi laki-laki, dan tambahan-tambahan seperti yang dilakukan Ibnu 'Umar hukumnya boleh (ja'iz) selama tidak diyakini sebagai bagian dari lafazh Nabi ﷺ.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa inti Talbiyah adalah tauhid, dan kalimat "innal-hamda wan-ni'mata laka wal-mulk" mengandung pengakuan bahwa seluruh pujian, nikmat, dan kerajaan hanya milik Allah.
Penjelasan Rinci
Makna Talbiyah secara bahasa dan syariat:
Talbiyah berasal dari kata labbaika yang berarti "aku datang memenuhi panggilan-Mu". Para ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di'amah menjelaskan bahwa maknanya adalah kerendahan hati seorang hamba yang selalu siap sedia menjawab seruan Rabb-nya, bukan sekali saja, tetapi berulang-ulang.
Kandungan tauhid dalam Talbiyah:
- Labbaika Allahumma labbaik — pengakuan bahwa hanya Allah yang dipanggil dan dituju.
- Labbaika la syarika laka labbaik — penegasan tauhid murni, tidak ada sekutu bagi Allah.
- Innal-hamda wan-ni'mata laka wal-mulk — seluruh pujian, nikmat, dan kekuasaan hanya milik Allah. Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa kalimat ini mencakup tiga hal: pujian (hamd), nikmat (ni'mah), dan kekuasaan (mulk) — semuanya hanya milik Allah.
- La syarika lak — penutup yang mengulang penegasan tauhid.
Tambahan Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma:
Ibnu 'Umar menambahkan: Labbaika labbaika labbaika wa sa'daika wal-khairu fi yadaika, labbaika war-raghba'u ilaika wal-'amal.
- Wa sa'daika — kebahagiaan hanya dari-Mu.
- Wal-khairu fi yadaika — segala kebaikan berada di tangan-Mu.
- War-raghba'u ilaika wal-'amal — harapan dan amal hanya ditujukan kepada-Mu.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa tambahan ini adalah bentuk dzikir yang boleh diamalkan, namun tidak boleh diyakini sebagai lafazh yang secara khusus diajarkan Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menambahkan bahwa perbuatan Ibnu 'Umar ini menunjukkan bolehnya menambah dzikir dalam Talbiyah selama tidak menyelisihi prinsip syariat.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
- Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa Talbiyah yang paling utama adalah yang shahih dari Nabi ﷺ, dan tambahan diperbolehkan.
- Imam Malik dalam riwayat yang masyhur memakruhkan tambahan yang berlebihan, namun tidak melarang dzikir tambahan secara mutlak.
- Imam Abu Hanifah membolehkan tambahan selama tidak dijadikan kebiasaan yang mengubah lafazh asli.
Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa lafazh asli dari Nabi ﷺ diamalkan, dan tambahan seperti yang dilakukan Ibnu 'Umar boleh dilakukan sebagai dzikir, tanpa meyakini bahwa itu bagian dari sunnah yang ditetapkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma sangat bersemangat mengikuti sunnah Nabi ﷺ hingga dalam hal-hal kecil. Beliau berkata: "Aku mempelajari Talbiyah dari Rasulullah ﷺ" — menunjukkan bahwa beliau tidak hanya mendengar, tetapi menghafal dan merenungi setiap lafazhnya.
Dalam riwayat lain, ketika Ibnu 'Umar berihram, beliau mengucapkan Talbiyah dengan suara yang lantang hingga orang-orang di sekitarnya dapat mendengar. Beliau juga menambahkan kalimat-kalimat dzikir sebagai bentuk kekhusyukan dan penghambaan. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa semangat Ibnu 'Umar ini menjadi teladan bagi para salaf dalam memperbanyak dzikir saat beribadah, tanpa menambah-nambah syariat.
Hikmah: Seorang hamba boleh memperbanyak dzikir dan doa selama tidak mengubah syariat. Talbiyah adalah momen agung untuk merenungi keesaan Allah dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Hafalkan lafazh Talbiyah yang shahih dari Nabi ﷺ: Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wan-ni'mata laka wal-mulk, la syarika lak.
- Ucapkan dengan suara lantang bagi laki-laki, dan pelankan bagi perempuan, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi.
- Boleh menambahkan dzikir seperti yang dilakukan Ibnu 'Umar, namun jangan meyakini bahwa itu bagian dari lafazh Nabi ﷺ.
- Renungi makna tauhid dalam setiap kalimat Talbiyah — bahwa hanya Allah yang dituju, dipuji, dan dimintai pertolongan.
- Perbanyak Talbiyah sejak berihram hingga tahallul, karena ia adalah syiar haji dan umrah yang agung.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.