Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab seorang yang berilmu. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, justru merasa berat dan takut untuk menyampaikan ilmu. Beliau hanya berani menyampaikan hadits karena ada dua ayat Al-Qur'an yang mengancam orang yang menyembunyikan ilmu. Ini adalah pelajaran bagi kita semua: ilmu itu amanah, dan menyembunyikannya adalah dosa besar, namun menyampaikannya pun harus dengan kehati-hatian dan kejujuran.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah Ta'ala:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
(QS. Al-Baqarah [2]: 174)
Makna ringkas: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan dari Kitab (Al-Qur'an) dan menjualnya dengan harga murah (keuntungan duniawi), mereka itu tidak memakan dalam perutnya kecuali api. Allah tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang sangat pedih.
2. Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Mukaddimah, Bab "Tentang Siapa yang Ditanya tentang Ilmu, Lalu Ia Menyembunyikannya" (no. 262), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq (no. 118) dan Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2649) dengan redaksi yang semakna.
3. Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini diriwayatkan dari jalur Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), salah satu ulama tabi'in yang sangat dihormati dan termasuk dalam daftar rujukan kita. Beliau adalah seorang ulama besar yang sangat perhatian terhadap ilmu hadits dan menjadi guru bagi banyak ulama setelahnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Rasa Takut yang Mulia dari Seorang Alim
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, mencapai lebih dari 5.000 hadits. Namun beliau justru berkata, "Demi Allah, seandainya bukan karena dua ayat ini, aku tidak akan pernah menyampaikan hadits." Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat takut jika salah dalam menyampaikan ilmu. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perkataan Abu Hurairah ini menunjukkan kehati-hatian beliau yang luar biasa dalam meriwayatkan hadits, karena beliau takut jika ada tambahan atau pengurangan yang bisa menjerumuskannya ke dalam ancaman ayat tersebut.
2. Dua Ayat yang Dimaksud
Yang dimaksud "dua ayat" oleh Abu Hurairah adalah QS. Al-Baqarah [2]: 159 dan 174. Ayat 159 berbunyi:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat."
Sedangkan ayat 174 adalah yang telah disebutkan di atas. Kedua ayat ini sama-sama berbicara tentang ancaman bagi orang yang menyembunyikan ilmu.
3. Makna "Menyembunyikan Ilmu"
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa menyembunyikan ilmu yang dimaksud dalam ayat ini adalah menyembunyikan apa yang Allah turunkan berupa keterangan dan petunjuk yang berkaitan dengan agama, baik itu ayat Al-Qur'an, hadits, maupun ilmu syar'i lainnya. Ini adalah dosa besar karena berarti menghalangi manusia dari petunjuk Allah.
4. Hukum Menyembunyikan Ilmu
Para ulama membedakan antara ilmu yang wajib disampaikan dan ilmu yang tidak wajib:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa jika seseorang ditanya tentang suatu ilmu yang dibutuhkan oleh penanya, dan ia mampu menjawabnya, maka ia wajib menjawabnya. Namun jika penanya bertanya dengan niat buruk atau untuk berdebat yang tidak bermanfaat, maka boleh tidak menjawab.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa menyembunyikan ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat yang dibutuhkan umat adalah haram, kecuali jika ada maslahat yang lebih besar untuk tidak menyampaikannya pada orang tertentu.
5. Pelajaran tentang Kehati-hatian dalam Berfatwa
Perkataan Abu Hurairah ini juga mengajarkan kita bahwa seorang alim harus sangat berhati-hati dalam menyampaikan ilmu. Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sangat berhati-hati dalam berfatwa. Beliau sering berkata, "Aku tidak tahu" untuk hal-hal yang tidak ia yakini. Ini adalah adab yang agung dalam menuntut ilmu dan menyampaikannya.
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal tentang kehati-hatian para ulama dalam menyampaikan ilmu. Imam Malik bin Anas - imam Darul Hijrah - ketika ditanya tentang suatu masalah, beliau sering menjawab, "Aku tidak tahu." Bahkan beliau pernah ditanya 48 masalah, dan untuk 32 di antaranya beliau menjawab, "Aku tidak tahu."
Ketika murid-muridnya merasa heran, beliau berkata: "Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian. Aku tidak akan menjawab pertanyaan tentang ilmu kecuali jika aku yakin bahwa jawabanku adalah benar. Dan aku tidak akan menyampaikan hadits kecuali jika aku benar-benar menghafalnya."
Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat takut kepada Allah dalam urusan ilmu. Mereka lebih memilih berkata "tidak tahu" daripada berisiko salah dalam menyampaikan ilmu agama. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua, terutama di zaman sekarang di mana banyak orang mudah berfatwa tanpa ilmu yang cukup.
Kesimpulan Praktis
- Ilmu adalah amanah - Jika kita memiliki ilmu, maka kita wajib menyampaikannya dengan benar dan jujur, tidak menambah atau mengurangi.
- Jangan menyembunyikan ilmu - Jika ada yang bertanya tentang ilmu yang kita ketahui dan tidak ada uzur syar'i, maka wajib menjawabnya dengan benar.
- Berhati-hatilah dalam berfatwa - Jangan mudah menjawab pertanyaan agama jika tidak yakin. Lebih baik berkata "aku tidak tahu" daripada berisiko salah.
- Niatkan karena Allah - Saat menyampaikan ilmu, niatkan untuk mencari ridha Allah, bukan untuk pujian atau kepentingan duniawi.
- Jangan takut untuk belajar - Rasa takut Abu Hurairah bukan berarti kita berhenti belajar, tetapi justru memotivasi kita untuk belajar dengan benar agar tidak salah dalam menyampaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.