Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi dua hal penting: nasihat Abdullah bin Mas'ud tentang adab menjaga ilmu dan tidak menjualnya demi dunia, serta sabda Nabi ﷺ tentang keutamaan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Hadits ini dinilai da'if (lemah) oleh para ulama hadits karena ada perawi yang bermasalah, namun maknanya tetap benar dan didukung oleh dalil-dalil lain yang shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
Pertama: Nasihat Abdullah bin Mas'ud tentang Menjaga Ilmu
Nasihat ini diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah no. 257. Namun perlu diketahui bahwa sanadnya bermasalah. Dalam sanad tersebut terdapat Nahsyhal (bin Sa'id) yang dinilai da'if oleh para ulama hadits. Imam Adz-Dzahabi dalam Mizan al-I'tidal menyebutkan bahwa Nahsyhal adalah perawi yang lemah. Imam Al-Bukhari berkata: "Munkarul hadits" (haditsnya munkar). Imam An-Nasa'i berkata: "Laisa bi tsigah" (bukan perawi yang terpercaya).
Kedua: Sabda Nabi ﷺ tentang Menjadikan Akhirat sebagai Tujuan Utama
Makna hadits ini memiliki penguat dari hadits shahih lainnya. Di antaranya:
Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
Artinya: "Barangsiapa yang tujuan utamanya adalah akhirat, maka Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa yang tujuan utamanya adalah dunia, maka Allah akan menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditentukan baginya." (HR. At-Tirmidzi no. 2465, Ibnu Majah no. 4105, dan Ahmad no. 12471)
Hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi yang merupakan salah satu ulama dalam daftar rujukan kita.
Ketiga: Dalil Al-Qur'an tentang Menjaga Ilmu dan Tidak Menjualnya demi Dunia
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan dari Al-Kitab dan menjualnya dengan harga murah, mereka itu tidak menelan ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang sangat pedih." (QS. Al-Baqarah [2]: 174)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini mencela orang-orang yang menyembunyikan ilmu dan menjualnya demi kepentingan dunia.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan Hadits Ini
Para ulama hadits sepakat bahwa sanad hadits ini da'if karena terdapat perawi Nahsyhal bin Sa'id yang dinilai lemah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Taqrib at-Tahdzib menyebutnya: "Shaduq, namun banyak keliru" (shaduuqun lahu awham). Namun sebagian ulama lain menilainya lebih parah lagi.
Kendati demikian, makna hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan dalil-dalil shahih lainnya. Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa menjaga ilmu adalah bagian dari adab seorang alim, dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama adalah inti dari keikhlasan.
2. Nasihat Abdullah bin Mas'ud tentang Menjaga Ilmu
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang sangat alim. Beliau berkata: "Jika para ahli ilmu menjaga ilmunya dan menyampaikannya hanya kepada orang-orang yang peduli, niscaya mereka akan menjadi pemimpin di zamannya."
Makna "menjaga ilmu" di sini menurut para ulama adalah:
- Tidak menjadikan ilmu sebagai alat mencari dunia
- Tidak memberikan ilmu kepada orang yang tidak layak (seperti orang yang hanya ingin pamer atau mencari keuntungan duniawi)
- Mengamalkan ilmu sebelum mengajarkannya
Imam Al-Hasan al-Bashri berkata: "Ilmu itu adalah warisan para nabi. Barangsiapa mengambilnya dengan adab, ia akan mendapat kebaikan. Dan barangsiapa mengambilnya dengan kesombongan, ia akan mendapat keburukan."
3. Sabda Nabi ﷺ tentang Menjadikan Akhirat sebagai Tujuan Utama
Sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang menjadikan semua urusannya hanya satu urusan, yaitu urusan akhiratnya, Allah akan mencukupinya dan menghindarkannya dari urusan dunia."
Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya akan mendapatkan tiga hal:
- Hati yang kaya - tidak merasa butuh kepada makhluk
- Urusan yang teratur - tidak bingung dan gelisah
- Dunia datang dengan sendirinya - sebagaimana firman Allah: "Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangkanya." (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3)
Sedangkan sabda Nabi ﷺ: "Namun siapa yang terpecah dalam urusan dunia, Allah tidak peduli di lembah mana dia akan binasa" - ini adalah ancaman bagi orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Imam As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa orang yang sibuk dengan dunia akan selalu gelisah, tidak pernah puas, dan akhirnya binasa dalam kesengsaraan.
4. Hubungan Antara Dua Bagian Hadits
Nasihat Abdullah bin Mas'ud dan sabda Nabi ﷺ saling berkaitan. Menjual ilmu demi dunia adalah salah satu bentuk menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Sedangkan menjaga ilmu dan mengamalkannya adalah bagian dari menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku tidak menulis satu hadits pun kecuali aku telah mengamalkannya." Ini menunjukkan bahwa ulama salaf sangat menjaga ilmu dengan mengamalkannya terlebih dahulu.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri - salah seorang ulama besar tabi'ut tabi'in - pernah ditanya tentang ilmu. Beliau berkata: "Ilmu itu tidak akan baik kecuali dengan tiga hal: niat yang ikhlas, mengamalkannya, dan tidak menjadikannya sebagai alat untuk mencari dunia."
Suatu ketika, ada seorang penguasa yang ingin mengunjungi Sufyan ats-Tsauri. Maka Sufyan pun bersembunyi dan tidak mau menemuinya. Ketika ditanya mengapa ia bersembunyi, beliau menjawab: "Aku takut jika aku bertemu dengannya, maka hatiku akan condong kepadanya, dan aku khawatir ilmunya menjadi alat untuk mendekati penguasa."
Ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana ulama salaf menjaga ilmu mereka dari noda dunia. Mereka lebih memilih hidup sederhana daripada menjual ilmu demi jabatan atau harta.
Kesimpulan Praktis
- Jadikan akhirat sebagai tujuan utama dalam setiap urusan, termasuk dalam menuntut ilmu
- Jaga ilmu dengan mengamalkannya - ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi hujjah yang memberatkan di akhirat
- Jangan menjual ilmu demi dunia - jangan menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari jabatan, harta, atau popularitas
- Sampaikan ilmu kepada yang layak - orang yang benar-benar ingin belajar dan mengamalkannya
- Yakinlah bahwa Allah akan mencukupi orang yang fokus pada akhirat, sebagaimana dijanjikan dalam hadits shahih
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.