Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 221 tentang Keutamaan ilmu agama dan pemahaman fiqih

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa kebaikan itu mudah dilakukan bila sudah menjadi kebiasaan, sedangkan kejahatan muncul karena keras kepala dan dorongan setan. Puncak kebaikan yang Allah berikan kepada hamba adalah pemahaman yang benar dalam agama (fiqh fid din). Karena itu, mencari ilmu agama adalah tanda Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab al-Muqaddimah, Bab Keutamaan Para Ulama dan Dorongan Mencari Ilmu, dari sahabat Mu'awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

الْخَيْرُ عَادَةٌ وَالشَّرُّ لَجَاجَةٌ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Terjemahan: "Kebaikan adalah kebiasaan, kejahatan adalah keras kepala, dan siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah jadikan ia memahami agama."

Hadits senada juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Mu'awiyah dengan lafaz:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Terjemahan: "Siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah jadikan ia memahami agama."

Ayat yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan pemahaman agama:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

QS. Al-Mujadilah [58]: 11

Terjemahan: "Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

Penjelasan Rinci

Pertama: "الْخَيْرُ عَادَةٌ" — kebaikan adalah kebiasaan.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kebaikan (al-khair) bila sudah dibiasakan akan menjadi tabiat yang ringan dilakukan. Seseorang yang membiasakan shalat, sedekah, dan akhlak baik, maka amal itu menjadi mudah baginya. Ini sejalan dengan kaidah yang disebutkan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin bahwa amal yang dilakukan terus-menerus akan membentuk karakter dan menjadi makanan bagi hati.

Kedua: "وَالشَّرُّ لَجَاجَةٌ" — kejahatan adalah keras kepala.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa asal kata lajajah bermakna memaksa diri dan terus-menerus dalam kebatilan. Artinya, kejahatan bukanlah sifat asli manusia, tetapi muncul karena dorongan setan dan sikap keras kepala menolak kebenaran. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hati manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan, dan kejahatan datang dari bisikan serta pembiasaan yang buruk.

Ketiga: "وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ" — siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah jadikan ia paham agama.

Ini adalah inti hadits. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa fiqh fid din bukan sekadar banyak hafalan, tetapi pemahaman mendalam yang membuat seseorang mengamalkan ilmu dengan benar. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa pemahaman agama adalah nikmat terbesar, karena dengannya seseorang tahu jalan yang benar dan selamat.

Perlu dicatat: hadits ini tidak berarti orang yang tidak berilmu tidak mendapat kebaikan sama sekali, tetapi menunjukkan bahwa pemahaman agama adalah tanda utama Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya. Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana disebutkan dalam Thabaqat al-Hanabilah, sangat memuliakan ahli ilmu dan berkata bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang membawa amal.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memahami fiqh di sini sebagai ilmu syariat secara umum, sebagian memahaminya sebagai pemahaman yang menghasilkan amal. Yang paling kuat adalah pendapat Ibnu Hajar: pemahaman yang benar mencakup ilmu dan amal sekaligus, karena ilmu tanpa amal adalah hujjah, bukan keselamatan.

Story Telling

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari bahwa Mu'awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu, meskipun beliau pernah menjadi pemimpin dan sibuk dengan urusan negara, tetap meriwayatkan hadits ini kepada kaum muslimin. Beliau ingin menegaskan bahwa kekuasaan tanpa ilmu agama adalah bahaya, dan ilmu agama adalah cahaya yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang sibuk beribadah tetapi tidak menuntut ilmu. Beliau menjawab bahwa orang itu tidak tahu bagaimana shalat yang benar, maka ilmunya wajib dicari. Ini menunjukkan bahwa pemahaman agama adalah pondasi seluruh amal.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan kebaikan dalam hal kecil: shalat tepat waktu, dzikir pagi-petang, sedekah, dan akhlak baik, agar menjadi tabiat yang ringan.
  2. Waspadai keras kepala terhadap kebenaran; bila dinasihati, terimalah dengan lapang dada, karena keras kepala adalah pintu kejahatan.
  3. Utamakan belajar agama sesuai kemampuan: hadir majelis ilmu, membaca kitab ulama yang terpercaya, dan bertanya kepada ahli ilmu.
  4. Pahami, jangan hanya hafal; ilmu yang benar membuahkan amal dan akhlak.
  5. Berdoalah agar Allah menjadikan kita orang yang paham agama dan istiqamah di atasnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?