Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 2000 tentang Kebolehan menunda giliran istri bagi Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan keheranan 'Aisyah radhiyallahu 'anha terhadap sebagian wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi ﷺ, lalu Allah menurunkan ayat yang memberi kelonggaran kepada Nabi ﷺ dalam mengatur giliran istri-istrinya. Ini menunjukkan kedudukan khusus Nabi ﷺ, sekaligus adab 'Aisyah yang jujur dan cemburu yang wajar. Hadits ini juga menunjukkan bahwa syariat datang bertahap dan selalu memudahkan urusan Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Ahzab [33]: 51

Allah berfirman:

تُرْجِي مَن تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَن تَشَاءُ ۖ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَا آتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا

Terjemahan ringkas: "Engkau (Muhammad) boleh menunda giliran siapa yang engkau kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan engkau boleh menerima siapa yang engkau kehendaki. Dan siapa yang engkau ingin kembali kepadanya dari yang engkau tinggalkan, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu lebih menenangkan hati mereka, agar mereka tidak bersedih, dan agar mereka semua ridha dengan apa yang engkau berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2000) dalam Kitab Pernikahan, Bab Wanita yang Menawarkan Diri kepada Nabi ﷺ, dari jalur Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya ('Urwah bin az-Zubair) dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan makna yang sama, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ayat ini adalah kekhususan bagi Nabi ﷺ, dan 'Aisyah mengucapkan perkataannya sebagai bentuk kecemburuan yang wajar.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa 'Aisyah dikenal sangat cemburu, dan perkataannya ini bukanlah penolakan terhadap syariat, melainkan ungkapan keheranan dan cinta.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memberi kebebasan kepada Nabi ﷺ untuk mengatur giliran istri-istrinya, dan ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

'Aisyah radhiyallahu 'anha heran mengapa ada wanita yang berani menawarkan dirinya kepada Nabi ﷺ tanpa mahar dan tanpa wali, padahal biasanya seorang wanita itu malu untuk melamar pria. Keheranan ini muncul karena 'Aisyah sangat cemburu kepada Nabi ﷺ, dan ia merasa bahwa kedudukan Nabi ﷺ begitu tinggi sehingga seharusnya wanita-wanita itu malu.

Kemudian Allah menurunkan ayat 51 dari Surah Al-Ahzab, yang memberi kelonggaran kepada Nabi ﷺ dalam mengatur giliran istri-istrinya. Ayat ini juga menenangkan hati para istri Nabi ﷺ agar mereka tidak bersedih dan ridha dengan pembagian yang dilakukan Nabi ﷺ.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa perkataan 'Aisyah "Tidakkah seorang wanita merasa malu..." adalah bentuk kecemburuan yang alami, bukan penentangan terhadap syariat. Beliau juga menyebutkan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas keheranan 'Aisyah, dan ini menunjukkan bahwa Allah selalu menjaga perasaan Nabi ﷺ dan istri-istrinya.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa 'Aisyah adalah wanita yang sangat cemburu, dan kecemburuannya ini tidak mengurangi kedudukannya sebagai istri Nabi ﷺ yang paling dicintai. Bahkan, kejujuran 'Aisyah dalam mengungkapkan perasaannya menunjukkan keimanan dan kecintaannya kepada Nabi ﷺ.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah kekhususan bagi Nabi ﷺ, di mana beliau boleh menunda giliran siapa yang beliau kehendaki dan menerima siapa yang beliau kehendaki. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya, agar beliau tidak merasa terbebani dalam mengatur urusan rumah tangganya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits ini dengan redaksi yang sedikit berbeda, namun maknanya sama. Ibnu Majah meriwayatkannya dalam bab khusus tentang wanita yang menawarkan diri kepada Nabi ﷺ. Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang keabsahan hadits ini dan maknanya.

Pendapat yang paling kuat:

Hadits ini shahih dan menunjukkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengucapkan perkataannya sebagai bentuk kecemburuan yang wajar, dan Allah menurunkan ayat sebagai jawaban yang menenangkan hati Nabi ﷺ dan istri-istrinya. Ini juga menunjukkan bahwa syariat Islam datang bertahap dan selalu memudahkan urusan Nabi ﷺ.

Story Telling

Diceritakan bahwa suatu hari 'Aisyah radhiyallahu 'anha sedang bersama Nabi ﷺ, lalu beliau mendengar tentang seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi ﷺ. 'Aisyah pun berkata dengan keheranan: "Tidakkah seorang wanita merasa malu untuk menawarkan dirinya kepada Nabi?" Mendengar perkataan 'Aisyah, Nabi ﷺ hanya tersenyum. Tidak lama kemudian, Allah menurunkan ayat 51 dari Surah Al-Ahzab, yang memberi kelonggaran kepada Nabi ﷺ dalam mengatur giliran istri-istrinya. 'Aisyah pun berkata: "Tuhanmu cepat dalam memudahkan urusanmu."

Hikmah:

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kecemburuan seorang istri adalah hal yang wajar, dan Islam tidak melarang perasaan tersebut selama tidak melanggar syariat. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah selalu menjaga perasaan Nabi ﷺ dan istri-istrinya, dan bahwa syariat Islam datang untuk memudahkan, bukan memberatkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Kecemburuan istri adalah wajar, selama tidak melanggar syariat dan tidak menuduh tanpa bukti.
  2. Syariat Islam datang bertahap dan selalu memudahkan urusan Nabi ﷺ dan umatnya.
  3. Adab 'Aisyah dalam mengungkapkan perasaannya menunjukkan kejujuran dan kecintaan kepada Nabi ﷺ.
  4. Kita harus ridha dengan pembagian yang dilakukan pemimpin atau suami, selama sesuai syariat.
  5. Jangan menghakimi perasaan orang lain, terutama dalam urusan rumah tangga, karena setiap orang memiliki kecemburuan yang berbeda.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?