Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1995 tentang Tanda sial pada kuda wanita rumah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini tidak berarti bahwa kuda, wanita, dan rumah membawa kesialan. Maknanya menurut para ulama adalah bahwa keburukan/kesialan yang Allah takdirkan kadang muncul melalui tiga hal itu sebagai ujian, bukan karena benda atau orang itu sendiri punya kekuatan sial. Islam menolak tathayyur (menganggap sial sesuatu). Yang benar adalah bertawakal kepada Allah dan tidak menjadikan makhluk sebagai sebab kesialan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Hadid [57]: 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Terjemahan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu — termasuk yang dianggap "sial" — sudah ditakdirkan Allah, bukan berasal dari benda atau makhluk.

Hadits terkait:

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ

"Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada tathayyur (menganggap sial), dan tidak ada hammah (burung yang dianggap membawa sial)."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits "asy-syu'mu fii tsalatsah" bukan penetapan kesialan, melainkan pemberitahuan bahwa jika ada sesuatu yang dianggap sial oleh sebagian orang, maka itu terjadi pada tiga hal ini — dan itu pun tetap dalam bingkai takdir Allah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil bahwa makna "syu'm" di sini adalah ujian dan cobaan, bukan kesialan hakiki.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa tathayyur adalah syirik kecil yang harus ditinggalkan, dan hadits ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran tathayyur.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Syu'm" dalam hadits ini

Kata الشُّؤْمُ (asy-syu'm) secara bahasa berarti kesialan atau keburukan. Namun para ulama dari daftar yang disebutkan memahami hadits ini dengan beberapa penjelasan:

  • Imam an-Nawawi menjelaskan: maknanya adalah bahwa jika memang ada sesuatu yang secara tabiat dianggap membawa kesialan oleh manusia, maka itu ada pada tiga hal ini. Tetapi ini bukan berarti ketiganya benar-benar mendatangkan sial — karena tathayyur dilarang dalam Islam.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami "syu'm" di sini sebagai kesempitan dan ujian yang Allah tetapkan melalui tiga hal tersebut. Misalnya: rumah yang sempit, kuda yang sulit ditunggangi, atau pasangan yang buruk akhlaknya — semua ini adalah ujian dari Allah, bukan kesialan yang berdiri sendiri.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan larangan tathayyur, karena Nabi ﷺ hanya mengabarkan realitas bahwa sebagian orang mendapati ujian melalui tiga hal itu.

2. Mengapa kuda, wanita, dan rumah?

  • Kuda: pada masa itu adalah kendaraan utama untuk jihad dan kehidupan. Kuda yang buruk bisa menjadi ujian.
  • Wanita (istri): pasangan hidup yang buruk akhlaknya bisa menjadi ujian berat.
  • Rumah: tempat tinggal yang sempit, jauh dari masjid, atau lingkungan yang buruk bisa menjadi ujian.

Semua ini adalah wasilah (perantara) ujian, bukan sumber kesialan.

3. Tambahan Umm Salamah tentang pedang

Az-Zuhri menyebutkan bahwa Umm Salamah radhiyallahu 'anha menambahkan "pedang" (السَّيْف) ke dalam tiga hal tersebut. Ini dipahami oleh sebagian ulama sebagai ijtihad Umm Salamah, bukan bagian dari sabda Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa tambahan ini adalah perkataan Umm Salamah sendiri, dan tidak dianggap sebagai marfu' (sabda Nabi).

4. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar

  • Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar cenderung memahami hadits ini sebagai pemberitahuan tentang ujian, bukan penetapan kesialan.
  • Ibnu Qayyim menegaskan larangan tathayyur dan memahami hadits ini dalam konteks takdir.
  • Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, dan seorang mukmin tidak boleh menjadikan makhluk sebagai sebab kesialan.

Kesimpulan yang paling kuat: Hadits ini tidak membenarkan tathayyur. Maknanya adalah bahwa Allah kadang menjadikan tiga hal ini sebagai ujian bagi hamba-Nya, dan seorang mukmin harus bersabar serta bertawakal.

Story Telling

Diceritakan bahwa Imam Malik bin Anas pernah ditanya tentang hadits ini. Beliau menjawab bahwa ini bukan berarti tiga hal itu membawa sial, tetapi ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang apa yang terjadi pada sebagian manusia. Imam Malik sendiri dikenal sangat menolak tathayyur dan selalu mengajarkan tawakal kepada Allah.

Dalam kisah lain, Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata: "Aku tidak pernah menganggap sesuatu sebagai pertanda sial, karena tathayyur adalah kebiasaan orang jahiliyah yang telah dihapus oleh Islam."

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan percaya tathayyur — jangan menganggap kuda, wanita, rumah, atau benda apa pun sebagai pembawa sial.
  2. Pahami hadits ini sebagai kabar tentang ujian, bukan penetapan kesialan.
  3. Jika mendapati ujian melalui pasangan, tempat tinggal, atau harta, bersabarlah dan bertawakal kepada Allah.
  4. Perbanyak doa dan dzikir untuk menghilangkan perasaan sial, karena Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

"Ya Allah, tidak ada pertanda kecuali pertanda-Mu, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, dan tidak ada tuhan selain Engkau."

  1. Kembalikan segala urusan kepada Allah, karena Dialah yang mengatur takdir, bukan makhluk.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?