Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa kemuliaan seorang muslim tidak diukur dari harta atau kedudukan, tetapi dari baiknya perlakuan kepada istri-istri mereka. Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya dalam bergaul dengan wanita, khususnya istri. Ini adalah petunjuk Nabi ﷺ yang menekankan pentingnya pergaulan yang lembut, adil, dan penuh kasih sayang dalam rumah tangga.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Hadits yang dibahas:
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, dari Al-A'masy, dari Syaqiq, dari Masruq, dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
> «خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ»
Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap wanita-wanita mereka." (HR. Ibnu Majah, no. 1978; juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 3895 dan Ahmad dalam Musnadnya. Hadits ini dinilai shahih oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah)
2. Ayat Al-Qur'an yang mendukung:
Allah Ta'ala berfirman:
> وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِۚ
> (QS. An-Nisa' [4]: 19)
Artinya: "Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) secara patut (dengan cara yang baik)."
Ayat ini merupakan perintah langsung dari Allah agar suami memperlakukan istrinya dengan akhlak yang mulia dan sesuai syariat. Para ulama tafsir seperti Imam Ibnu Katsir (dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim) menjelaskan bahwa "al-ma'ruf" mencakup perbuatan baik dalam ucapan, perbuatan, dan pemberian nafkah lahir batin, serta menjauhi segala bentuk kekerasan dan kezaliman.
3. Penjelasan ulama dari daftar rujukan:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) ketika membahas hadits serupa mengatakan: "Makna 'khayarukum' (sebaik-baik kalian) adalah yang paling baik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi makhluk. Adapun 'li nisa'ihim' (terhadap wanita mereka) maksudnya adalah istri-istri mereka. Maka barangsiapa yang baik terhadap istri dan keluarganya dialah yang baik akhlaknya."
- Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in) pernah berkata: "Seorang mukmin tidak boleh mencela istrinya atau menyakiti hatinya, karena hal itu termasuk perbuatan yang rusak akhlaknya." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)
- Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari, ketika mensyarah hadits tentang kebaikan terhadap istri) menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa kesempurnaan iman seorang suami terlihat dari cara ia memperlakukan istrinya. Beliau juga mengutip perkataan Imam Ahmad bin Hanbal: "Barangsiapa yang baik terhadap istrinya, maka ia termasuk golongan orang-orang pilihan Nabi."
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadhus Shalihin) menjelaskan bahwa "khayarukum" dalam hadits ini berarti yang paling baik agamanya dan akhlaknya. Kebaikan terhadap istri adalah cerminan ketaqwaan, karena istri adalah amanah yang harus dijaga dengan lemah lembut dan kesabaran.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (dalam Zad al-Ma'ad) mencontohkan bagaimana Nabi ﷺ adalah teladan sempurna dalam pergaulan dengan istri-istrinya: beliau membantu pekerjaan rumah, bercanda, dan tidak pernah memukul atau menghina istri.
Penjelasan Rinci
Hadits ini meskipun pendek, namun mengandung makna yang sangat luas dan mendalam. Rasulullah ﷺ menyebut "khayarukum" tanpa membatasi pada status sosial, kekayaan, atau kecerdasan, tetapi pada kebaikan terhadap wanita—khususnya istri. Ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah banyaknya harta atau kedudukan, melainkan bagaimana seseorang berakhlak kepada yang lemah dan bergantung padanya.
Pertama, pengertian "khayarukum": Secara bahasa adalah af'dalukum (paling utama). Namun dalam konteks ini, para ulama dari kalangan salaf seperti Mujahid (tabi'in) menafsirkan bahwa khair di sini adalah husnul khuluq (akhlak yang baik). Qatadah (tabi'in) juga mengatakan: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam pergaulan dengan istri-istri mereka." (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)
Kedua, mengapa kebaikan terhadap istri dijadikan tolok ukur? Karena istri adalah orang yang paling dekat dan paling sering berinteraksi dengan suami dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, istri juga adalah amanah yang lemah, sehingga perlakuan suami terhadapnya menjadi cerminan sejati iman dan ketaqwaannya. Imam asy-Syafi'i pernah ditanya: "Bagaimana cara seseorang mengetahui kebaikan akhlaknya?" Beliau menjawab: "Dengan cara ia memperlakukan istri dan keluarganya." (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Manaqib asy-Syafi'i)
Ketiga, bentuk kebaikan terhadap istri: Tidak hanya memberikan nafkah, tetapi juga bersikap lembut, sabar mendampingi, tidak berkata kasar, tidak memukul, menjaga rahasia, dan memenuhi hak-hak istri. Sufyan ats-Tsauri (tabi'ut tabi'in) mengatakan: "Seorang suami tidak boleh menampakkan rasa bosan atau kemarahan di hadapan istrinya, karena hal itu menyakiti hatinya." (Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Sunan-nya)
Keempat, kaitannya dengan keutamaan istri: Hadits ini juga menjadi dorongan bagi suami untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi istrinya, bukan sebaliknya. Ibn Rajab al-Hanbali (dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam) menekankan bahwa Nabi ﷺ sendiri adalah manusia yang paling baik terhadap istrinya, dan beliau bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi)
Story Telling (Kisah Hikmah)
Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr —perawi hadits ini— bahwa suatu ketika ia ditanya: "Wahai Abdullah, bagaimana keadaan Nabi ketika berada bersama keluarganya?" Ia menjawab: "Nabi ﷺ selalu tersenyum dan bersikap lemah lembut, beliau tidak pernah berkata yang menyakiti hati istri-istrinya. Beliau sendiri yang menjahit pakaiannya, membantai kambing, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga." (HR. Ahmad; hadits ini juga disebutkan dalam Shahih al-Bukhari secara mursal dari Aisyah)
Suatu ketika, Umar bin al-Khattab ra. diingatkan oleh istrinya tentang haknya. Umar pun berkata: "Engkau benar, aku berhutang budi padamu karena kebaikanmu." (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)
Kisah lain dari Al-Hasan al-Bashri ketika seorang laki-laki datang mengadu bahwa istrinya sering menyakitinya. Al-Hasan menasihati: "Bersabarlah, karena istri adalah amanah dari Allah. Jika engkau bersabar, pahalamu besar. Dan jika engkau berbuat baik, maka akhlakmulah yang memuliakanmu di sisi Allah."
Kesimpulan Praktis
- Jadilah suami yang terbaik dengan memperlakukan istri secara lembut, adil, dan penuh kasih sayang, karena itulah standar kemuliaan di sisi Allah dan Rasul-Nya.
- Jangan pernah merendahkan atau menyakiti istri, baik dengan lisan, perbuatan, atau sikap. Akhlak yang buruk terhadap istri adalah tanda kelemahan iman.
- Teladani Nabi ﷺ dalam keseharian: beliau sabar, membantu istri, dan tidak pernah menuntut lebih dari kemampuan mereka.
- Ingat bahwa istri adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Maka tunaikanlah haknya dengan sebaik-baiknya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.