Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 191 tentang Dua orang saling membunuh namun keduanya masuk surga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keluasan rahmat dan kuasa Allah: seorang yang mati syahid di jalan Allah, lalu pembunuhnya diberi hidayah oleh Allah, masuk Islam, ikut berjihad, dan akhirnya syahid pula — sehingga keduanya berkumpul di surga. Penyebutan "Allah tertawa" di sini dipahami Ahlus Sunnah sebagai sifat yang hakiki bagi Allah, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan menjadi bantahan terhadap Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 191) dari jalur Abu Bakr bin Abi Syaibah → Waki' → Sufyan (ats-Tsauri) → Abu az-Zinad → al-A'raj → Abu Hurairah رضي الله عنه. Hadits ini juga diriwayatkan al-Bukhari (no. 2826) dan Muslim (no. 1890) dari jalur yang sama, sehingga derajatnya shahih.

Teks hadits:

إِنَّ اللَّهَ يَضْحَكُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ كِلَاهُمَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، يُقَاتِلُ هَذَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُسْتَشْهَدُ، ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى قَاتِلِهِ فَيُسْلِمُ فَيُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُسْتَشْهَدُ

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah tertawa kepada dua orang; salah satunya membunuh yang lain, dan keduanya masuk surga. Yang satu berperang di jalan Allah lalu syahid, kemudian Allah menerima taubat pembunuhnya sehingga ia masuk Islam, lalu ia berperang di jalan Allah dan syahid."

Ayat yang berkaitan dengan sifat "tertawa" dan sifat-sifat Allah lainnya, misalnya:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۚ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

QS. Al-Ma'idah [5]: 64 — "Orang-orang Yahudi berkata: 'Tangan Allah terbelenggu.' Sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu... bahkan kedua tangan-Nya terbuka (Maha Pemurah), Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat yang hakiki (tangan, memberi, dsb.) tanpa menyerupai makhluk — sebagaimana "tertawa" dalam hadits ini.

Penjelasan Rinci

Pertama: Bab yang dipilih Ibnu Majah — "Apa yang Ditolak oleh Jahmiyah."

Jahmiyah adalah kelompok yang menolak seluruh sifat Allah dan menakwilkan (memalingkan makna) sifat-sifat khabariyah seperti "tertawa", "tangan", "turun", dan sebagainya. Ibnu Majah sengaja meletakkan hadits ini di bab tersebut untuk menegaskan bahwa Ahlus Sunnah menetapkan sifat "tertawa" bagi Allah sebagaimana datangnya dalil, tanpa tahrif (memalingkan makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan).

Kedua: Bagaimana ulama daftar memahami "Allah tertawa"?

  • Imam Ahmad bin Hanbal dan para imam salaf menetapkan sifat-sifat khabariyah apa adanya, dengan kaidah: "Kita beriman kepada lafazhnya, dan kita tidak tahu hakikatnya." Beliau berkata tentang hadits-hadits sifat: "Kita meriwayatkannya dan kita mengimaninya."
  • Ibn Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid menetapkan sifat "tertawa" (adh-dhahik) sebagai sifat hakiki Allah, dan berdalil dengan hadits ini serta hadits-hadits lain.
  • Ibn Hibban juga menetapkan sifat-sifat Allah sesuai dalil tanpa takwil.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa "tertawa" adalah sifat fi'liyah (sifat yang berkaitan dengan kehendak Allah) yang ditetapkan dengan dalil, dan tidak boleh ditakwil menjadi "ridha" atau "rahmat" semata, karena itu termasuk tahrif.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah dan ash-Shawa'iq al-Mursalah menegaskan bahwa menetapkan sifat "tertawa" adalah madzhab salaf, dan menolaknya adalah bid'ah Jahmiyah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (syarah hadits Bukhari no. 2826) menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan jihad dan luasnya rahmat Allah, dan beliau menetapkan sifat "tertawa" sesuai zhahirnya tanpa takwil.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang syahid dan keutamaan taubat, serta menetapkan sifat "tertawa" bagi Allah sesuai madzhab Ahlus Sunnah.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir dan al-Qawa'id al-Hisan menegaskan kaidah: sifat-sifat Allah ditetapkan sebagaimana datangnya, tanpa tahrif dan tanpa tamtsil.
  • Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah menegaskan keabsahan hadits ini dan menetapkan sifat "tertawa" sebagai sifat Allah.

Ketiga: Makna "tertawa" di sini.

Menurut para ulama di atas, "tertawa" adalah sifat hakiki Allah yang menunjukkan keridhaan, penerimaan, dan kelembutan-Nya kepada hamba. Ia bukan tawa seperti tawa makhluk (yang butuh mulut, gigi, suara), karena Allah tidak menyerupai makhluk-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

QS. Asy-Syura [42]: 11 — "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Keempat: Kandungan kisah dalam hadits.

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar:

  1. Keutamaan syahid — orang yang gugur di jalan Allah mendapat kedudukan tinggi.
  2. Luasnya rahmat Allah — pembunuh yang tadinya kafir bisa diampuni dan diberi hidayah, lalu menjadi syahid pula.
  3. Keutamaan taubat — taubat yang benar menghapus dosa sebesar apa pun, bahkan membunuh orang mukmin (setelah sebelumnya kafir dan memerangi Islam).
  4. Allah tertawa — sebagai tanda keridhaan dan kelembutan-Nya kepada kedua hamba tersebut.

Kelima: Perbedaan pendapat.

Sebagian ulama muta'akhirin menakwilkan "tertawa" dengan "ridha" atau "rahmat". Namun menurut Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, Ibn Khuzaimah, dan Ibnu Hajar, takwil seperti itu adalah tahrif dan tidak dibenarkan. Yang paling kuat adalah menetapkan sifat "tertawa" sebagaimana datangnya, sesuai madzhab salaf dan imam-imam yang tercantum dalam daftar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sufyan ats-Tsauri — salah satu perawi hadits ini — pernah ditanya tentang hadits-hadits sifat. Beliau menjawab dengan tenang: "Kita meriwayatkannya sebagaimana datangnya, dan kita beriman kepadanya." Sikap ini dicontohkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau diuji oleh penguasa Mu'tazilah yang memaksanya menolak sifat Allah. Beliau tetap teguh berkata: "Berikan aku dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah bahwa Allah tidak memiliki sifat." Keteguhan beliau menjadi sebab Allah menjaga akidah Ahlus Sunnah hingga hari ini.

Hikmahnya: menetapkan sifat Allah bukanlah kekurangan, melainkan bentuk pengagungan kepada-Nya, karena kita mengimani apa yang Dia dan Rasul-Nya ﷺ kabarkan, tanpa menambah, mengurangi, atau menyerupakan.

Kesimpulan Praktis

  1. Tetapkan sifat "tertawa" bagi Allah sebagaimana datangnya, tanpa takwil, tanpa tahrif, dan tanpa tamtsil.
  2. Jauhi pemahaman Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah, karena itu menyelisihi Al-Qur'an, Sunnah, dan madzhab salaf.
  3. Raih keutamaan syahid dengan niat yang benar dan amal yang ikhlas, karena kedudukan itu sangat mulia.
  4. Jangan berputus asa dari rahmat Allah — sebesar apa pun dosa, taubat yang benar dapat menghapusnya, sebagaimana pembunuh dalam hadits ini.
  5. Belajar akidah dari ulama yang terpercaya seperti Imam Ahmad, Ibn Khuzaimah, Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan ulama Ahlus Sunnah lainnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?