Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 187 tentang Melihat Allah di surga adalah nikmat tertinggi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang nikmat terbesar yang akan diterima oleh penghuni surga, yaitu melihat Allah ﷻ secara langsung (ru'yatullah). Ayat yang dibaca Nabi ﷺ, "لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ" (QS. Yunus [10]: 26), ditafsirkan oleh beliau bahwa "al-husna" adalah surga, sedangkan "az-ziyadah" (tambahan) adalah melihat wajah Allah. Hadits ini menjadi dalil kuat bagi Ahlus Sunnah dalam menetapkan sifat ru'yat (melihat Allah) di akhirat, sekaligus bantahan terhadap Jahmiyyah yang menolaknya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Yunus [10]: 26

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam keadaan hina. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Suhaib bin Sinan ar-Rumi (radhiyallahu 'anhu) dalam Sunan Ibnu Majah no. 187, Kitab al-Muqaddimah, Bab "Apa yang Ditolak oleh Jahmiyyah". Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Shuhaib, dan oleh Imam at-Tirmidzi yang menghasankannya.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "az-ziyadah" dalam ayat ini adalah melihat Allah, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil utama Ahlus Sunnah dalam menetapkan ru'yatullah.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menyebutkan bahwa melihat Allah adalah puncak kenikmatan surga.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menafsirkan "az-ziyadah" dengan ru'yatullah.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ membaca ayat QS. Yunus [10]: 26, lalu menjelaskan bahwa:

  1. "Al-Husna" = surga (balasan terbaik bagi orang yang berbuat ihsan).
  2. "Az-Ziyadah" = tambahan, yaitu melihat Allah ﷻ secara langsung.

Kemudian beliau menceritakan keadaan penghuni surga: setelah semua nikmat diberikan—timbangan amal yang berat, wajah yang bersinar, masuk surga, dan selamat dari neraka—masih ada satu janji yang belum ditunaikan. Ketika tirai dibuka dan mereka melihat Allah, itulah nikmat yang paling mereka cintai dan paling menyenangkan mata mereka.

Pemahaman ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan ru'yatullah adalah nikmat tertinggi di surga, melebihi semua nikmat lainnya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa ru'yatullah terjadi di akhirat, dan ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menyatakan bahwa ru'yatullah adalah mutawatir dalam Al-Qur'an dan Sunnah, dan merupakan kesepakatan para sahabat dan tabi'in.
  • Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini shahih dan menjadikannya dalil ru'yatullah.

Bantahan terhadap Jahmiyyah:

Jahmiyyah (pengikut Jahm bin Shafwan) menolak ru'yatullah dengan alasan bahwa Allah tidak dapat dilihat. Namun hadits ini secara tegas menyatakan bahwa penghuni surga akan melihat Allah. Imam Ahmad bin Hanbal dalam ar-Radd 'ala al-Jahmiyyah membantah mereka dengan dalil-dalil seperti ini. Al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah juga menegaskan bahwa ru'yatullah adalah keyakinan Ahlus Sunnah.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama mu'tazilah dan jahmiyyah menolak ru'yatullah, namun Ahlus Sunnah—termasuk para imam yang tercantum dalam daftar—bersepakat bahwa ru'yatullah adalah haq (benar) dan akan terjadi di akhirat. Dalilnya sangat banyak, baik dari Al-Qur'an (seperti QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23) maupun hadits-hadits shahih.

Story Telling

Kisah Suhaib ar-Rumi dan Ru'yatullah:

Suhaib bin Sinan ar-Rumi (radhiyallahu 'anhu) adalah seorang sahabat yang berasal dari Romawi. Ia termasuk sahabat yang mulia dan banyak meriwayatkan hadits. Dalam hadits ini, ia menyampaikan apa yang didengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ tentang nikmat terbesar di surga.

Hikmah dari kisah ini:

Suhaib mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada nikmat fisik semata, tetapi pada kedekatan dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Ini mengajarkan kita untuk merindukan surga bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena di sana kita akan melihat Allah.

Kisah salaf tentang ru'yatullah:

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang ru'yatullah, dan beliau menjawab: "Kami melihat Allah dengan mata kepala kami di akhirat, sebagaimana kami melihat bulan di malam purnama." Beliau berdalil dengan hadits-hadits shahih, termasuk hadits Suhaib ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini ru'yatullah sebagai nikmat tertinggi di surga, sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
  2. Rindukan surga bukan hanya karena kenikmatannya, tetapi karena bisa melihat Allah.
  3. Beramal ihsan (berbuat baik dengan sebaik-baiknya) karena balasannya adalah "al-husna" (surga) dan "az-ziyadah" (melihat Allah).
  4. Tolak pemahaman Jahmiyyah yang menolak ru'yatullah, karena bertentangan dengan dalil-dalil shahih.
  5. Pelajari aqidah Ahlus Sunnah dari kitab-kitab ulama yang terpercaya, seperti Syarh as-Sunnah karya al-Barbahari, al-Ibanah karya Ibnu Baththah, dan Majmu' al-Fatawa karya Ibn Taymiyyah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?