Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 177 tentang Umat Islam akan melihat Tuhannya di akhirat seperti melihat bulan purnama

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil terbesar Ahlus Sunnah dalam menetapkan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah ﷻ di akhirat nanti dengan mata kepala mereka secara hakiki, tanpa menyerupai makhluk dan tanpa mengetahui hakikatnya. Hadits ini juga berisi anjuran untuk menjaga shalat Subuh dan Ashar, karena kedua shalat inilah yang menjadi saksi dan wasilah untuk meraih kenikmatan memandang wajah Allah ﷻ di surga kelak.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Dalil dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."

(QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23)

Ayat ini adalah dalil paling tegas bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah ﷻ di akhirat.

2. Hadits Riwayat:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Mukaddimah, Bab "Apa yang Ditolak oleh Jahmiyah", no. 177, dari sahabat Jarir bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka dengan lafaz yang semakna.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil penetapan ru`yatullah (melihat Allah) bagi kaum mukminin di akhirat, dan beliau menukil ijma' (kesepakatan) para sahabat dan tabi'in dalam hal ini.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan penetapan melihat Allah ﷻ di akhirat, dan ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Aqidah Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa penyerupaan dalam hadits ini hanyalah dalam hal kepastian dan kejelasan melihat, bukan dalam hal bentuk dan hakikat.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai salah satu dalil utama dalam masalah melihat Allah ﷻ di akhirat. Berikut penjelasan rincinya:

1. Makna "Kalian akan melihat Tuhan kalian":

Ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ kepada umatnya bahwa mereka akan melihat Allah ﷻ secara langsung di surga kelak. Ini adalah kenikmatan terbesar yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di ketika menafsirkan QS. Al-Qiyamah: 22-23 mengatakan bahwa melihat Allah ﷻ adalah kenikmatan yang paling agung bagi penduduk surga, dan inilah puncak dari segala kenikmatan.

2. Makna "Sebagaimana kalian melihat bulan ini":

Para ulama menjelaskan bahwa penyerupaan ini bukan berarti Allah ﷻ menyerupai bulan, karena Allah ﷻ berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

(QS. Asy-Syura [42]: 11)

Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa maksud penyerupaan ini adalah dalam hal kejelasan dan kepastian melihat, bukan dalam hal bentuk. Kalian melihat bulan dengan jelas tanpa keraguan, demikian pula kalian akan melihat Allah ﷻ dengan jelas tanpa keraguan. Namun hakikat penglihatan itu sendiri tidak diketahui, karena Allah ﷻ tidak menyerupai makhluk-Nya.

3. Makna "Kalian tidak akan merasa kesulitan dan berdesakan":

Ini menunjukkan bahwa penglihatan tersebut akan terjadi dengan mudah dan sempurna, tanpa ada halangan, tanpa kerumunan, dan tanpa kesulitan. Semua mukmin akan melihat Allah ﷻ secara bersamaan dengan sempurna.

4. Wasiat untuk menjaga shalat Subuh dan Ashar:

Nabi ﷺ mengaitkan kabar gembira ini dengan wasiat untuk menjaga shalat sebelum matahari terbit (Subuh) dan sebelum matahari terbenam (Ashar). Ini menunjukkan bahwa kedua shalat ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Tidaklah seseorang masuk neraka yang menjaga shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam." (HR. Muslim)

5. Bantahan terhadap Jahmiyah:

Imam Ibnu Majah menempatkan hadits ini dalam bab "Apa yang Ditolak oleh Jahmiyah" karena kelompok Jahmiyah mengingkari sifat-sifat Allah ﷻ, termasuk mengingkari bahwa Allah ﷻ dapat dilihat di akhirat. Mereka menafsirkan ayat dan hadits secara menyimpang. Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Allah ﷻ dapat dilihat di akhirat sebagaimana yang dikabarkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa menanyakan bagaimana caranya, karena Allah ﷻ tidak menyerupai makhluk-Nya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika para sahabat mendengar hadits ini, hati mereka dipenuhi dengan kerinduan yang sangat besar untuk bertemu dengan Allah ﷻ. Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang sahabat yang memiliki wajah yang tampan. Suatu ketika, Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu melihatnya dan berkata, "Wajah Jarir lebih bercahaya daripada berita yang ia sampaikan."

Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan dan menghafal hadits-hadits tentang kenikmatan melihat Allah ﷻ, karena hal itu menjadi motivasi terbesar bagi mereka dalam beribadah dan bersabar di atas ketaatan.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah menceritakan bahwa para salaf sangat merindukan kenikmatan melihat Allah ﷻ. Beliau menyebutkan bahwa di antara doa yang sering dipanjatkan para salaf adalah:

"Ya Allah, jadikanlah kenikmatan terbesar bagiku adalah bertemu dengan-Mu dan memandang wajah-Mu yang mulia."

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinilah bahwa kaum mukminin akan melihat Allah ﷻ di akhirat kelak. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits shahih.
  2. Jangan menanyakan atau membayangkan bagaimana bentuk penglihatan tersebut, karena Allah ﷻ tidak menyerupai makhluk-Nya. Cukup imani tanpa takyiif (menanyakan bagaimana) dan tanpa tamtsil (menyerupakan).
  3. Jagalah shalat Subuh dan Ashar, karena keduanya adalah wasilah untuk meraih kenikmatan memandang Allah ﷻ di surga.
  4. Jadikanlah kerinduan untuk bertemu Allah ﷻ sebagai motivasi terbesar dalam beribadah dan meninggalkan kemaksiatan.
  5. Waspadailah kelompok-kelompok yang mengingkari sifat-sifat Allah ﷻ, seperti Jahmiyah dan Mu'tazilah, dan berpeganglah pada pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.