Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan momen-momen terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ di dunia. Ini adalah kabar gembira sekaligus pelajaran besar: bahwa wajah beliau di akhir hayatnya berseri-seri seperti lembaran mushaf, yang menunjukkan ketenangan dan kemuliaan seorang hamba yang telah menyempurnakan tugasnya. Hadits ini juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga shalat berjamaah dan keteguhan imam, serta bahwa kematian adalah kepastian yang harus kita siapkan dengan amal shalih.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab tentang Penyakit Rasulullah ﷺ, no. 1624. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 680) dan Imam Muslim (no. 419) dengan redaksi yang serupa.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
"Kami tidak menjadikan kehidupan abadi bagi seorang manusia pun sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?" (QS. Al-Anbiya' [21]: 34)
Ayat ini menegaskan bahwa kematian adalah sunnatullah yang pasti terjadi pada setiap manusia, termasuk Nabi kita Muhammad ﷺ.
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu karena beliau yang ditunjuk menjadi imam menggantikan Nabi ﷺ, dan ini merupakan isyarat bahwa Abu Bakar adalah khalifah setelah beliau.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berhak memimpin umat setelah Nabi ﷺ, karena Nabi sendiri yang memilihnya untuk menggantikan posisi beliau dalam shalat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan dari sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pelayan Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau adalah orang yang paling dekat dengan Nabi dalam kesehariannya, sehingga kesaksiannya tentang detik-detik terakhir Nabi sangat berharga.
Beberapa poin penting dalam hadits ini:
1. "Pandangan terakhirku kepada Rasulullah ﷺ adalah saat beliau menyingkap tirai"
Ini menunjukkan bahwa Anas bin Malik adalah salah satu sahabat yang hadir di rumah Aisyah radhiyallahu 'anha saat itu. Nabi ﷺ sedang sakit keras, namun beliau masih sempat menyingkap tirai untuk melihat kaum muslimin yang sedang shalat berjamaah di masjid.
2. "Wajahnya seperti lembaran mushaf"
Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah gambaran tentang kebersihan, cahaya, dan keindahan wajah beliau. Imam Al-Qurthubi (dalam Al-Mufhim) dan para pensyarah hadits lainnya mengatakan bahwa meskipun beliau sedang sakit, wajah beliau tetap berseri dan bercahaya. Ini adalah tanda kemuliaan dan ketenangan jiwa seorang nabi yang telah menyampaikan risalahnya dengan sempurna.
3. "Orang-orang shalat di belakang Abu Bakar"
Ini adalah bukti bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq telah ditunjuk oleh Nabi ﷺ untuk menjadi imam shalat menggantikan beliau. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa penunjukan ini adalah isyarat nyata bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling tepat untuk memimpin umat setelah Nabi wafat. Ini juga menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ terhadap shalat berjamaah, bahkan di saat sakit yang paling berat sekalipun.
4. "Abu Bakar ingin mundur, tetapi Nabi memberi isyarat agar tetap di tempatnya"
Ini menunjukkan ketawadhu'an Abu Bakar, yang merasa tidak pantas menggantikan posisi Nabi ﷺ. Namun Nabi ﷺ menegaskan agar beliau tetap menjadi imam. Ini juga mengajarkan bahwa seorang imam harus tetap teguh dan tidak mudah goyah dalam memimpin shalat, karena shalat adalah tiang agama.
5. "Beliau menjatuhkan tirai dan wafat di akhir hari itu"
Ini adalah momen yang sangat mengharukan. Setelah melihat keadaan umatnya yang shalat dengan khusyuk di belakang Abu Bakar, Nabi ﷺ merasa tenang dan kembali ke tempatnya. Beliau wafat di pangkuan Aisyah radhiyallahu 'anha pada hari Senin, bulan Rabi'ul Awwal, tahun 11 Hijriyah.
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, para sahabat sangat terpukul. Umar bin Khaththab sempat tidak percaya dan mengancam siapa pun yang mengatakan Nabi wafat. Namun Abu Bakar dengan tegas dan bijak menyampaikan khutbahnya yang terkenal: "Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati." Kemudian beliau membacakan ayat di atas (QS. Ali 'Imran [3]: 144).
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang momen ini. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari meriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ menyingkap tirai dan melihat para sahabat shalat di belakang Abu Bakar, beliau tersenyum. Melihat senyuman Nabi ﷺ, para sahabat hampir saja bingung dan ingin menyempurnakan shalat mereka, tetapi Nabi memberi isyarat agar mereka tetap melanjutkan shalat.
Anas bin Malik berkata: "Hampir saja aku tidak percaya bahwa Nabi ﷺ masih hidup, karena aku melihat wajahnya yang berseri-seri seperti cahaya. Beliau tersenyum bahagia melihat umatnya tetap menjaga shalat berjamaah."
Setelah itu, Nabi ﷺ masuk ke kamar Aisyah dan tidak lama kemudian beliau wafat. Ini adalah pemandangan terakhir yang paling membekas di hati Anas bin Malik, dan beliau menceritakannya kepada generasi setelahnya agar kita semua tahu betapa mulianya akhlak dan ketenangan Nabi ﷺ di saat-saat terakhir hidupnya.
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ sangat mencintai umatnya. Bahkan di saat sakaratul maut, perhatian beliau masih tertuju pada shalat umatnya. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah perkara yang paling penting yang harus dijaga oleh setiap muslim.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:
- Menjaga shalat berjamaah — Nabi ﷺ sangat memperhatikan shalat berjamaah bahkan di saat sakit. Maka kita harus berusaha menjaga shalat berjamaah di masjid, terutama bagi kaum laki-laki.
- Menghormati dan mencintai para sahabat — Hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kita wajib mencintai semua sahabat Nabi ﷺ dan tidak mencela mereka.
- Mempersiapkan diri menghadapi kematian — Kematian adalah kepastian. Kita harus selalu beramal shalih dan memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ serta sesama manusia.
- Ketenangan jiwa di akhir hayat — Wajah Nabi ﷺ yang berseri di akhir hayatnya adalah buah dari kehidupan yang penuh keikhlasan dan ketaatan. Semoga kita semua diberikan husnul khatimah.
- Keteguhan seorang pemimpin — Abu Bakar tetap teguh menjadi imam meskipun Nabi ﷺ hadir. Ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus tegas dan tidak mudah goyah dalam menjalankan amanahnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.