Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi seorang muslim yang meninggal di perantauan, jauh dari kampung halamannya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang meninggal di luar tempat kelahirannya akan diberikan ukuran (jarak) di surga dari tempat lahirnya hingga tempat ia wafat sebagai tambahan kemuliaan dan ganjaran. Ini adalah kabar gembira bagi para perantau yang menuntut ilmu, berdagang, atau berjuang di jalan Allah, selama ia meninggal dalam keadaan beriman.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Ibnu Majah:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:
حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي حُيَىُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمَعَافِرِيُّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ تُوُفِّيَ رَجُلٌ بِالْمَدِينَةِ مِمَّنْ وُلِدَ بِالْمَدِينَةِ فَصَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيُّ ـ ﷺ ـ فَقَالَ: " يَا لَيْتَهُ مَاتَ فِي غَيْرِ مَوْلِدِهِ " . فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ النَّاسِ وَلِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: " إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا مَاتَ فِي غَيْرِ مَوْلِدِهِ قِيسَ لَهُ مِنْ مَوْلِدِهِ إِلَى مُنْقَطَعِ أَثَرِهِ فِي الْجَنَّةِ " .
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1956) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6605) dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) ketika membahas bab tentang keutamaan meninggal di tempat yang berbeda (ghuraba'). Beliau menukil hadits ini sebagai dalil keutamaan tersebut. Juga disebutkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kabar gembira yang sangat besar. Mari kita pahami maknanya:
- Makna "Yaa laitahu maata fii ghairi maulidihi" (Seandainya dia meninggal di luar tempat kelahirannya): Ini adalah ungkapan harapan dari Nabi ﷺ. Beliau tidak sedang mencela orang yang meninggal tersebut, tetapi beliau mengungkapkan keinginan agar orang ini mendapatkan keutamaan yang lebih besar lagi. Ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya.
- Makna "Qisa lahu min maulidihi ila munqatha'i atsarihi fil jannah" (Diukur baginya dari tempat lahirnya sampai tempat ia meninggal di surga): Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah tambahan derajat dan keluasan tempat bagi orang yang meninggal di perantauan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam menjelaskan keutamaan ini menegaskan bahwa Allah akan memberikan balasan yang berlipat ganda atas kesedihan dan kerinduan yang ia rasakan saat jauh dari kampung halaman. Jarak yang diukur itu adalah simbol dari luasnya kenikmatan dan tempat tinggal yang Allah siapkan untuknya di surga.
- Hikmah di Balik Keutamaan Ini: Mengapa orang yang meninggal di perantauan mendapatkan keutamaan ini? Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa orang yang merantau meninggalkan kampung halamannya karena ketaatan kepada Allah (seperti mencari ilmu, berdagang yang halal, atau berhijrah) akan merasakan beratnya perpisahan dan asingnya tempat tinggal. Kesabaran dan keikhlasannya dalam menghadapi rasa asing ini menjadi sebab Allah meluaskan tempatnya di surga sebagai ganti dari rasa sempit dan asing yang ia rasakan di dunia.
- Pandangan Ulama Tentang Hadits Ini: Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini memiliki makna yang shahih meskipun dalam sanadnya ada perbincangan. Beliau menguatkan bahwa maknanya sesuai dengan kaidah syariat, yaitu Allah memberikan balasan sesuai dengan amal dan kesabaran seseorang. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani juga menilai hadits ini hasan (baik) dalam Shahih Ibnu Majah.
- Perbedaan dengan Hadits Lain: Perlu dipahami, keutamaan ini tidak bertentangan dengan keutamaan meninggal di tanah suci (Makkah dan Madinah). Meninggal di Madinah juga memiliki keutamaan tersendiri, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain. Namun, hadits ini secara khusus menjelaskan keutamaan bagi orang yang merantau. Ini adalah dua keutamaan yang berbeda dan tidak saling meniadakan.
Story Telling
Dahulu, ada seorang pemuda dari kalangan tabi'in yang merantau untuk menuntut ilmu kepada para ulama besar di kota Bashrah dan Kufah. Ia tinggal bertahun-tahun jauh dari ibunya di kampung halamannya. Suatu ketika, ia jatuh sakit dan merasa rindu sekali kepada ibunya. Namun, ia menahan kerinduannya karena masih ingin menyempurnakan ilmunya.
Saat sakitnya semakin parah, ia berwasiat kepada temannya, "Jika aku meninggal, kuburkanlah aku di tempatku ini, jangan bawa jenazahku ke kampung halamanku. Aku berharap mendapatkan keutamaan yang disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ tentang orang yang meninggal di luar tempat kelahirannya."
Temannya heran dan berkata, "Bukankah engkau sangat merindukan ibumu? Mengapa engkau tidak ingin dikuburkan di dekatnya?"
Pemuda itu menjawab dengan lemah, "Kerinduanku kepada ibuku sangat besar. Tetapi kerinduanku kepada surga dan pahala dari Allah jauh lebih besar. Aku ingin meraih keutamaan yang dijanjikan Rasulullah ﷺ bagi orang yang meninggal di perantauan."
Kisah ini menggambarkan bagaimana para salaf sangat antusias untuk meraih keutamaan yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi ﷺ, meskipun harus berpisah dengan orang-orang yang mereka cintai di dunia.
Kesimpulan Praktis
- Jangan takut merantau untuk kebaikan. Jika kita merantau untuk menuntut ilmu, mencari nafkah yang halal, atau berjuang di jalan Allah, maka itu adalah amal yang mulia.
- Niatkan perantauan kita karena Allah. Keutamaan ini berkaitan erat dengan niat. Jika kita merantau karena ketaatan, maka kita berhak mengharap keutamaan ini.
- Bersabar atas rasa asing dan rindu. Kesabaran atas ujian perantauan akan diganti oleh Allah dengan kenikmatan yang tiada tara di surga.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Kabar gembira ini berlaku bagi siapa saja yang meninggal dalam keadaan beriman, di mana pun ia berada.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.