Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1426 tentang Shalat pertama dihisab dan disempurnakan dengan shalat sunnah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa amal pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalat wajibnya sempurna, maka sempurnalah amalnya. Jika ada kekurangan, maka shalat sunnah akan menjadi penyempurna kekurangan shalat wajibnya. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat dan betapa pentingnya menjaga shalat sunnah sebagai penambal kekurangan shalat wajib.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pelaksanaan Shalat dan Sunnahnya, Bab "Apa yang Dikatakan Tentang Pertama Kali yang Dihitung untuk Hamba adalah Shalat", nomor 1426. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam An-Nasa'i dari sahabat Tamim Ad-Dari radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang disebutkan dalam pertanyaan:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَوْفَى، عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ أَكْمَلَهَا كُتِبَتْ لَهُ نَافِلَةً، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ أَكْمَلَهَا، قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِمَلَائِكَتِهِ: انْظُرُوا، هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَأَكْمِلُوا بِهَا مَا ضَيَّعَ مِنْ فَرِيضَتِهِ، ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى حَسَبِ ذَلِكَ"

Artinya: "Hal pertama yang akan dihisab bagi seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya sempurna, maka dicatat baginya sebagai amal yang sempurna. Jika tidak sempurna, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada para malaikat-Nya: 'Lihatlah, apakah kalian menemukan shalat sunnah untuk hamba-Ku? Maka sempurnakanlah dengannya apa yang kurang dari shalat wajibnya.' Kemudian seluruh amalnya dihisab dengan cara seperti itu."

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki penguat dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam An-Nasa'i dengan redaksi yang semakna.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dua hal penting: pertama, shalat adalah amal pertama yang dihisab; kedua, shalat sunnah berfungsi menyempurnakan kekurangan shalat wajib. Beliau juga menegaskan bahwa hisab terhadap amalan lain mengikuti cara hisab shalat ini.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perhatian besar Islam terhadap shalat, dan bahwa shalat sunnah (rawatib) memiliki keutamaan besar sebagai penyempurna shalat wajib.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Kedudukan Shalat dalam Hisab

Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir-nya menjelaskan bahwa shalat dijadikan amal pertama yang dihisab karena shalat adalah tiang agama dan penghubung antara hamba dengan Rabbnya. Jika shalatnya baik, maka amalan lainnya akan baik; jika shalatnya rusak, maka amalan lainnya pun akan rusak. Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ: "Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika baik, maka sungguh ia telah beruntung dan sukses. Jika rusak, maka sungguh ia telah merugi." (HR. At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

2. Fungsi Shalat Sunnah sebagai Penyempurna

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa jika seorang hamba memiliki kekurangan dalam shalat wajibnya—baik dalam hal wudhu, ruku', sujud, maupun kekhusyukan—maka shalat sunnahnya akan digunakan untuk menutup kekurangan tersebut. Ini menunjukkan rahmat Allah yang sangat luas kepada hamba-Nya.

3. Hisab Amalan Lain Mengikuti Cara Hisab Shalat

Imam Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa seluruh amalan akan dihisab dengan cara yang sama: amalan wajib dilihat terlebih dahulu, jika kurang maka disempurnakan dengan amalan sunnah. Puasa, zakat, dan amalan-amalan lainnya juga demikian.

4. Peringatan untuk Menjaga Shalat

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan keras bagi orang yang meremehkan shalat. Jika shalat wajibnya saja tidak dijaga, maka bagaimana mungkin ia selamat pada hari hisab? Karena shalat adalah amal pertama yang ditanya.

5. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Makna "Jika Sempurna"

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud "sempurna" adalah sempurna dari segi sahnya syarat dan rukunnya. Sebagian lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sempurna dari segi sah dan juga sempurna dari segi kesempurnaan sunnah-sunnahnya. Pendapat yang lebih kuat—sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Utsaimin—adalah bahwa kekurangan yang dimaksud di sini adalah kekurangan dalam hal kewajiban shalat itu sendiri, baik syarat, rukun, maupun kewajibannya. Adapun kekurangan dalam hal sunnah-sunnah shalat, maka itu tidak mengharuskan adanya penyempurna dari shalat sunnah, karena shalat wajibnya tetap sah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sangat memperhatikan shalatnya. Beliau pernah ditanya tentang seseorang yang shalatnya dilakukan di akhir waktu, maka beliau menjawab bahwa hal itu makruh. Bahkan diceritakan bahwa Imam Ahmad sangat menjaga shalat berjamaah dan shalat sunnah rawatib, karena beliau memahami bahwa shalat sunnah adalah penambal kekurangan shalat wajib.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian dirimu." Beliau juga dikenal sangat memperhatikan shalat dan menangis ketika mendengar ayat tentang hisab, karena beliau memahami betapa beratnya hari perhitungan itu.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat wajib lima waktu dengan memenuhi syarat, rukun, dan kewajibannya dengan benar.
  2. Perbanyak shalat sunnah, terutama rawatib (shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib), karena ia menjadi penyempurna kekurangan shalat wajib di hari kiamat.
  3. Jangan meremehkan shalat, karena ia adalah amal pertama yang dihisab.
  4. Perbaiki kualitas shalat, bukan hanya kuantitasnya—perhatikan kekhusyukan, tuma'ninah, dan gerakan-gerakannya.
  5. Jadikan shalat sebagai tolak ukur amalan lainnya, karena jika shalat baik maka amalan lain akan baik pula.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?