Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1423 tentang Keutamaan memperbanyak sujud kepada Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan sujud: setiap sujud yang dilakukan seorang hamba dengan ikhlas akan mengangkat derajatnya dan menghapus kesalahannya. Thawban radhiyallahu 'anhu dan Abu Darda' radhiyallahu 'anhu sama-sama menasihati agar memperbanyak sujud kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa sujud bukan sekadar gerakan dalam shalat, tetapi sarana mendekatkan diri, meninggikan kedudukan, dan menghapus dosa.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-'Alaq [96]: 19

وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب

"Dan sujudlah, serta dekatkanlah dirimu (kepada Allah)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1423), dari jalur Ma'dan bin Abu Talhah Al-Ya'muri dari Thawban radhiyallahu 'anhu, dan dikuatkan oleh riwayat serupa dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga memiliki penguat dalam Shahih Muslim dari jalur Ma'dan dari Thawban, dengan lafaz yang semakna, yaitu:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

"Tidak ada seorang hamba yang sujud kepada Allah satu sujud, melainkan Allah mengangkatnya satu derajat dan menghapus satu kesalahannya."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan memperbanyak sujud, dan bahwa sujud adalah amal yang paling dekat antara hamba dengan Rabb-nya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa yang dimaksud "sujud" di sini mencakup sujud dalam shalat fardhu maupun sunnah, dan keutamaan ini berlaku bagi setiap sujud yang dilakukan dengan ikhlas.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa sujud adalah keadaan paling rendah bagi jasad, namun justru menjadi sebab terangkatnya derajat di sisi Allah — menunjukkan bahwa kerendahan hati di hadapan Allah adalah jalan kemuliaan.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa sujud memiliki dua dampak besar bagi seorang hamba:

  1. Allah mengangkat derajatnya — baik di dunia maupun di akhirat.
  2. Allah menghapus kesalahannya — dosa-dosa kecil yang tidak berkaitan dengan hak orang lain.

Pemahaman para ulama:

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil dianjurkannya memperbanyak sujud, baik dalam shalat wajib, shalat sunnah, maupun sujud-sujud sunnah lainnya seperti sujud tilawah dan sujud syukur. Beliau juga menegaskan bahwa keutamaan ini berlaku umum, tidak terbatas pada sujud dalam shalat tertentu.

Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa yang dimaksud "menghapus kesalahan" adalah dosa-dosa kecil (shagha'ir), sebagaimana hadits-hadits lain yang menyebutkan bahwa amal saleh menghapus dosa kecil. Adapun dosa besar, memerlukan taubat khusus.

Ibnu Rajab al-Hanbali menyoroti hikmah di balik sujud: seorang hamba meletakkan wajahnya — bagian tubuh yang paling mulia — ke tanah, sebagai bentuk ketundukan total kepada Allah. Inilah hakikat ubudiyah yang Allah cintai.

Adapun sikap Thawban dan Abu Darda' yang awalnya diam sebelum menjawab, para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan kehati-hatian mereka dalam menyampaikan hadits. Mereka tidak ingin berbicara tanpa ilmu atau menyampaikan sesuatu yang tidak bermanfaat. Ketika akhirnya menjawab, keduanya memilih hadits yang paling bermanfaat bagi penanya, yaitu tentang keutamaan sujud.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah keutamaan ini berlaku untuk setiap sujud secara umum atau khusus sujud dalam shalat. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa keutamaan ini mencakup semua sujud yang dilakukan untuk Allah dengan ikhlas, baik dalam shalat maupun di luar shalat, selama dilakukan sesuai tuntunan syariat.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ma'dan bin Abu Talhah Al-Ya'muri — seorang tabi'in yang dikenal tekun mencari ilmu — datang kepada Thawban radhiyallahu 'anhu, pelayan Rasulullah ﷺ yang lama menyertai beliau. Ma'dan meminta satu hadits yang bermanfaat. Thawban diam, tidak langsung menjawab. Ma'dan mengulangi permintaannya hingga tiga kali. Baru setelah itu Thawban berkata dengan penuh hikmah:

"Engkau seharusnya memperbanyak sujud kepada Allah."

Kemudian beliau menyebutkan sabda Nabi ﷺ tentang keutamaan sujud. Ma'dan pun pergi menemui Abu Darda' radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat yang terkenal zuhud dan bijak — dan mendapat jawaban yang sama.

Hikmah kisah ini:

  • Para sahabat tidak sembarangan menyampaikan hadits; mereka menjaga keakuratan dan keikhlasan.
  • Nasihat terbaik adalah yang mengarahkan kepada amal yang paling dekat dengan Allah.
  • Dua sahabat besar memberikan jawaban yang sama, menunjukkan kuatnya hadits ini dan kesepakatan mereka dalam mengamalkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak sujud — baik dalam shalat wajib, sunnah, maupun sujud-sujud sunnah lainnya.
  2. Ikhlas dalam sujud — karena keutamaan ini berlaku bagi sujud yang dilakukan dengan niat benar dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.
  3. Sujud adalah jalan mendekat kepada Allah — sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-'Alaq [96]: 19.
  4. Jangan remehkan amal kecil — satu sujud bisa menjadi sebab terangkatnya derajat dan terhapusnya dosa.
  5. Teladani adab para sahabat — hati-hati dalam menyampaikan ilmu, dan pilihlah nasihat yang paling bermanfaat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?