Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1417 tentang Batang pohon menangis karena ditinggalkan Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa sebelum Rasulullah ﷺ menggunakan mimbar, beliau biasa berdiri dan berkhutbah di dekat sebatang pohon (batang kurma). Ketika beliau mulai memakai mimbar, batang pohon itu menangis/merintih karena rindu kepada beliau, sampai didengar oleh orang-orang di masjid. Rasulullah ﷺ lalu datang, mengusapnya, dan ia pun tenang. Ini menunjukkan kelembutan hati Nabi ﷺ dan tanda kekuasaan Allah pada benda mati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1417), dari sahabat Jabir bin 'Abdullah رضي الله عنه. Hadits semakna juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari beberapa sahabat seperti Ibnu Umar, Abu Sa'id al-Khudri, dan Anas bin Malik رضي الله عنهم.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kekuasaan Allah atas segala sesuatu, termasuk benda mati yang bisa merasakan dan bertasbih:

QS. Al-Isra' [17]: 44

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun."

Kaitan dengan ulama: Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk—termasuk benda mati—memiliki bentuk tasbih dan kesadaran yang Allah berikan, meskipun manusia tidak memahaminya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadits haninul jidz'i (ratapan batang kurma) menyebutkan bahwa ini adalah mukjizat Nabi ﷺ dan bukti bahwa benda mati pun bisa merasakan serta bersuara dengan izin Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

1. Mukjizat Nabi ﷺ yang nyata.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ratapan batang kurma ini termasuk mukjizat yang sangat jelas, karena disaksikan langsung oleh banyak sahabat di masjid. Ini bukan sihir atau tipuan, melainkan tanda kenabian yang Allah tampakkan melalui benda mati.

2. Kelembutan dan kasih sayang Nabi ﷺ.

Ketika batang pohon itu menangis, Rasulullah ﷺ tidak mengabaikannya. Beliau datang, mengusapnya, dan menenangkannya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang sangat lembut, bahkan kepada benda mati. Ini menjadi teladan bagi kita untuk berlemah lembut kepada semua makhluk.

3. Batang pohon itu rindu kepada Rasulullah ﷺ.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa batang itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Nabi ﷺ adalah fitrah yang Allah tanamkan bahkan pada benda mati. Maka bagaimana dengan manusia yang berakal?

4. Perkataan sebagian sahabat: "Jika ia tidak datang kepadanya, ia akan terus bersedih hingga Hari Kebangkitan."

Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa ucapan ini menunjukkan keyakinan sahabat bahwa ratapan itu adalah ratapan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar suara biasa. Ini juga menunjukkan bahwa benda mati bisa merasakan kesedihan dengan izin Allah.

5. Perbedaan pendapat tentang apakah batang itu tetap ada atau hilang.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa batang itu kemudian dipendam atau hilang setelah Nabi ﷺ wafat. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa yang jelas, setelah diusap oleh Nabi ﷺ, batang itu tenang dan tidak lagi menangis. Adapun keberadaannya setelah itu, ada beberapa riwayat yang berbeda, namun yang penting adalah pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Story Telling

Diceritakan bahwa sebelum mimbar dibuat, Rasulullah ﷺ biasa berkhutbah dengan berdiri di dekat sebatang pohon kurma di dalam masjid. Ketika jumlah jamaah semakin banyak, para sahabat mengusulkan agar dibuatkan mimbar agar beliau lebih terlihat dan terdengar. Setelah mimbar dibuat dan beliau mulai berkhutbah di atasnya, tiba-tiba terdengar suara tangisan dari arah batang pohon yang selama ini beliau gunakan.

Suara itu seperti suara anak kecil yang menangis merindukan ibunya. Orang-orang di masjid mendengarnya dengan jelas. Rasulullah ﷺ pun turun dari mimbar, mendekati batang pohon itu, dan mengusapnya dengan tangan beliau yang mulia. Perlahan-lahan, tangisan itu berhenti. Batang pohon itu tenang.

Seorang sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, jika engkau tidak datang kepadanya, ia akan terus menangis hingga Hari Kebangkitan."

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan kisah ini dari beberapa sahabat. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi di Masjid Nabawi dan disaksikan oleh banyak sahabat, sehingga menjadi bukti yang sangat kuat akan kenabian Muhammad ﷺ.

Hikmahnya: Benda mati saja bisa merindukan Rasulullah ﷺ, maka sudah seharusnya hati kita—yang berakal dan beriman—lebih merindukan beliau, mengikuti sunnahnya, dan mencintainya di atas segala cinta.

Kesimpulan Praktis

  1. Percaya kepada mukjizat Nabi ﷺ sebagai bagian dari iman, karena mukjizat adalah bukti kenabian yang Allah tampakkan.
  2. Meneladani kelembutan Nabi ﷺ dalam berinteraksi dengan semua makhluk, bahkan benda mati.
  3. Menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ dengan mengikuti sunnahnya, karena benda mati saja merindukannya.
  4. Meyakini kekuasaan Allah bahwa segala sesuatu—termasuk benda mati—bisa bertasbih dan merasakan dengan izin-Nya.
  5. Tidak meremehkan riwayat-riwayat mukjizat yang shahih, karena semuanya menunjukkan kebesaran Allah dan kebenaran risalah Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?