Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ dahulu shalat dan berkhutbah dengan bersandar pada sebatang pohon kurma. Ketika dibuatkan mimbar bertingkat tiga, batang pohon itu menangis/merintih karena rindu kepada Nabi ﷺ, lalu beliau mengusapnya hingga tenang. Hadits ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ, keutamaan tempat dan benda yang dipakai untuk ibadah, serta bolehnya membuat mimbar untuk kemaslahatan khutbah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1414), dari Tufail bin Ubayy bin Ka'b dari ayahnya, Ubayy bin Ka'b رضي الله عنه. Para ulama hadits membahas sanadnya; di dalamnya ada Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil, yang haditsnya dipakai sebagai penguat (syawahid) oleh sebagian ulama, dan maknanya dikuatkan oleh riwayat lain yang lebih kuat tentang ratapan batang kurma (jiz').
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kecintaan makhluk kepada Nabi dan tanda-tanda kekuasaan Allah:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
QS. Ali 'Imran [3]: 144 — "Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rasul yang sebelumnya telah ada beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
Ayat ini menegaskan bahwa kecintaan kepada Nabi ﷺ harus tetap teguh, dan mukjizat-mukjizat beliau adalah bukti kerasulan, bukan alasan berlebihan (ghuluw).
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Kesederhanaan masjid Nabi ﷺ di awal Islam. Masjid beliau dahulu berupa "'arisy" (pondok sederhana beratap pelepah). Nabi ﷺ shalat menghadap batang kurma dan berkhutbah bersandar padanya. Ini menunjukkan zuhud dan kesederhanaan beliau, sebagaimana dijelaskan Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab-kitabnya tentang zuhud Nabi ﷺ.
Kedua: Bolehnya membuat mimbar untuk kemaslahatan dakwah. Seorang sahabat mengusulkan membuat sesuatu untuk berdiri agar orang melihat dan mendengar khutbah. Nabi ﷺ menyetujuinya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini menjadi dalil bolehnya menggunakan mimbar dalam khutbah, dan para ulama sepakat tentang sunnahnya mimbar dalam khutbah Jumat dan hari raya.
Ketiga: Ratapan batang kurma (haninul jiz'). Ketika Nabi ﷺ berpindah ke mimbar, batang itu "kharra" (mengeluh/merintih) hingga retak. Ini adalah mukjizat yang jelas, karena benda mati dapat merasakan dan bersuara dengan izin Allah. Ibn Katsir dalam tafsir dan kitab-kitabnya menyebutkan bahwa ratapan batang kurma ini termasuk tanda-tanda kenabian yang mutawatir maknanya, karena diriwayatkan dari banyak jalan. Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahasnya dalam bab tentang mimbar Nabi ﷺ, dan menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan benda-benda bisa memiliki rasa dan kehidupan tertentu dengan izin Allah.
Keempat: Kasih sayang Nabi ﷺ. Beliau turun dari mimbar dan mengusap batang itu dengan tangannya hingga tenang. Ini menunjukkan lembutnya hati beliau terhadap makhluk, bahkan terhadap benda mati. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah bentuk kasih sayang dan kelembutan Nabi ﷺ.
Kelima: Perhatian sahabat terhadap sisa-sisa peninggalan Nabi ﷺ. Ubayy bin Ka'b رضي الله عنه mengambil batang itu dan menyimpannya di rumahnya hingga lapuk. Ini menunjukkan kecintaan sahabat kepada Nabi ﷺ dan tabarruk (mencari berkah) dengan sisa-sisa beliau. Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa tabarruk dengan sisa Nabi ﷺ khusus untuk beliau dan tidak boleh diqiyaskan kepada selain beliau, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab mereka tentang wasilah dan tabarruk.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama membahas sanad hadits ini. Ibnu Majah meriwayatkannya, dan sebagian ulama menilai sanadnya hasan/lemah karena Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil. Namun maknanya dikuatkan oleh riwayat-riwayat shahih tentang ratapan batang kurma, seperti dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنه. Maka yang paling kuat adalah maknanya shahih dan mutawatir secara makna, meskipun jalur Ibnu Majah ini perlu ditinjau sanadnya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Nabi ﷺ masih berkhutbah di atas batang kurma, kemudian dibuatkan mimbar, batang itu menangis seperti anak kecil yang ditinggal ibunya. Suara ratapannya didengar oleh para sahabat hingga masjid bergema. Nabi ﷺ turun, memeluk dan mengusapnya dengan tangan beliau yang mulia, hingga batang itu tenang. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Nabi ﷺ berkata kepadanya: "Diamlah, sesungguhnya aku akan menempatkanmu di tempat yang baik." (Makna ini disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang jiz' dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Jabir رضي الله عنه). Hikmahnya: betapa besar kecintaan makhluk kepada Nabi ﷺ, dan betapa lembutnya hati beliau. Ini juga mengingatkan kita agar mencintai Nabi ﷺ dengan mengikuti sunnahnya, bukan dengan berlebihan.
Kesimpulan Praktis
- Boleh membuat mimbar untuk khutbah agar jamaah melihat dan mendengar — ini sunnah yang dipraktikkan Nabi ﷺ.
- Meyakini mukjizat Nabi ﷺ, termasuk ratapan batang kurma, sebagai tanda kenabian.
- Meneladani kasih sayang dan kelembutan Nabi ﷺ dalam berinteraksi dengan makhluk.
- Mencintai Nabi ﷺ dengan mengikuti sunnahnya, bukan dengan ghuluw (berlebihan) atau mengkultuskan benda-benda.
- Menjaga kesederhanaan dalam beribadah dan berdakwah, sebagaimana masjid Nabi ﷺ di awal Islam.
- Memuliakan sisa-sisa peninggalan Nabi ﷺ sesuai tuntunan, tanpa menyelewengkan maknanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.