Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1401 tentang Kewajiban shalat lima waktu dan janji surga bagi yang menjaganya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa shalat lima waktu adalah kewajiban besar dari Allah. Siapa yang menjaganya dengan sempurna, tanpa meremehkan, maka Allah menjanjikan surga baginya. Namun siapa yang meremehkan dan mengurangi hak-haknya, maka urusannya diserahkan kepada kehendak Allah: bisa diampuni, bisa diazab terlebih dahulu. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga shalat, bukan sekadar mengerjakannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1401), dari sahabat Ubadah bin ash-Shamit رضي الله عنه. Sanadnya melalui Muhammad bin Yahya bin Habban, dari Ibn Muhairiz, dari al-Mukhdiji, dari Ubadah bin ash-Shamit.

Hadits ini juga memiliki penguat dari jalur lain, di antaranya riwayat Ahmad bin Hanbal dan Abu Dawud dengan makna yang serupa tentang shalat lima waktu sebagai kewajiban yang menjanjikan surga bagi yang menjaganya.

Dalil Al-Qur'an yang sangat terkait:

QS. Al-Baqarah [2]: 238

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah semua shalat(mu) dan shalat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk."

QS. Maryam [19]: 59

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

"Maka datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka akan menemui kesesatan."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "menyia-nyiakan shalat" mencakup meninggalkan, menunda hingga keluar waktu, dan tidak menunaikan hak-haknya. Ibnul Qayyim dalam ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha menegaskan bahwa meremehkan shalat adalah tanda kerusakan hati yang paling jelas.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama, shalat lima waktu adalah fardhu 'ain yang ditetapkan langsung oleh Allah, bukan hasil ijtihad manusia. Karena itu, kedudukannya sangat agung. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kewajiban shalat lima waktu adalah salah satu rukun Islam yang paling ditekankan setelah dua kalimat syahadat.

Kedua, kata "lam yantaqish minhunna syai'an istikhfafan bi haqqihinna" (tidak mengurangi sedikit pun karena meremehkan) menunjukkan bahwa yang menjadi ukuran bukan hanya jumlah rakaat, tetapi juga kesungguhan dan penghormatan terhadap hak shalat. Hak shalat meliputi: menunaikan pada waktunya, menjaga rukun dan wajibnya, khusyuk, serta tidak menganggapnya beban ringan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "mengurangi hak shalat" mencakup meninggalkan sunnah-sunnah muakkadah, tidak menyempurnakan rukun, atau mengerjakan dengan tergesa-gesa tanpa tuma'ninah. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menegaskan bahwa shalat yang dijaga dengan baik akan menjadi cahaya, bukti, dan penyelamat di hari kiamat.

Ketiga, hadits ini menyebutkan dua golongan:

  • Golongan pertama: menjaga shalat dengan sempurna → mendapat janji pasti (عهد) dari Allah untuk masuk surga.
  • Golongan kedua: mengerjakan tetapi meremehkan sebagian haknya → tidak ada janji pasti; urusannya diserahkan kepada kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, Dia mengazabnya, dan jika berkehendak, Dia mengampuninya.

Syaikh as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat-ayat dan hadits semacam ini menunjukkan bahwa shalat adalah ukuran iman seseorang. Siapa yang menjaga shalatnya, ia menjaga agamanya; siapa yang menyia-nyiakannya, ia akan lebih mudah menyia-nyiakan yang lain.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam fatwa-fatwanya menegaskan bahwa hadits ini berlaku bagi orang yang mengerjakan shalat tetapi kurang sempurna, bukan bagi orang yang meninggalkannya sama sekali. Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja memiliki hukum yang lebih berat lagi menurut kesepakatan ulama.

Syaikh al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa kata "istikhfaf" (meremehkan) adalah kunci. Bila seseorang mengerjakan shalat tetapi hatinya menganggapnya ringan, tidak peduli waktu, tidak khusyuk, maka ia termasuk dalam ancaman hadits ini. Namun bila kekurangannya karena kelalaian yang tidak disengaja dan ia menyesal, maka ia berada di bawah kehendak Allah yang Maha Pengampun.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ubadah bin ash-Shamit رضي الله عنه, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu tokoh Anshar yang dikenal sangat menjaga shalat dan ilmunya. Ia pernah berkata kepada kaumnya untuk tidak menyembunyikan hadits ini dari generasi setelah mereka, karena hadits ini menyangkut keselamatan akhirat seluruh umat.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, salah satu tabi'in yang paling dalam ilmunya, pernah berkata: "Wahai anak Adam, shalat adalah timbangan amalmu. Siapa yang menegakkannya dengan benar, maka amal-amalnya akan ditimbang dengan benar pula." Beliau juga mengingatkan bahwa shalat adalah wasiat terakhir yang diucapkan Nabi ﷺ ketika menjelang wafat, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang mengerjakan shalat tetapi tidak khusyuk. Beliau menjawab dengan lembut: "Perbaikilah shalatmu, karena shalat adalah pintu pertama yang akan ditanya pada hari kiamat."

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat lima waktu pada waktunya, jangan menunda tanpa udzur syar'i.
  2. Sempurnakan rukun, wajib, dan sunnah-sunnahnya, termasuk tuma'ninah dan khusyuk.
  3. Jangan meremehkan shalat dengan menganggapnya rutinitas kosong atau beban.
  4. Bertaubatlah jika pernah lalai, karena pintu ampunan Allah selalu terbuka.
  5. Ingatlah janji Allah: siapa yang menjaga shalatnya, ia mendapat jaminan surga.
  6. Ajarkan dan ingatkan keluarga tentang pentingnya shalat, dengan lembut dan penuh kasih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?