Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1399 tentang Kisah perjalanan Isra Mi'raj dan kewajiban shalat lima waktu

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan perjalanan Isra' Mi'raj Nabi ﷺ, di mana Allah mewajibkan 50 shalat, kemudian atas saran Nabi Musa 'alaihis salam, Nabi ﷺ terus kembali memohon keringanan hingga Allah menetapkan 5 waktu shalat dengan pahala 50 shalat. Ini menunjukkan keutamaan shalat, kasih sayang Allah, dan peran Nabi Musa dalam memberikan nasihat kepada Nabi ﷺ. Pelajaran utamanya adalah shalat lima waktu memiliki kedudukan yang sangat agung di sisi Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah berfirman tentang kewajiban shalat:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali 'Imran [3]: 164)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1399) dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 349) dan Imam Muslim (no. 162) dengan redaksi yang lebih panjang dan lengkap.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar ketika mensyarah Shahih al-Bukhari, termasuk hikmah di balik perjalanan Isra' Mi'raj dan penetapan shalat. Beliau menukil perkataan ulama tentang keutamaan shalat yang langsung difardhukan oleh Allah tanpa perantara malaikat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan bagian dari kisah Isra' Mi'raj yang sangat masyhur. Para ulama menjelaskan beberapa poin penting:

1. Asal muasal kewajiban shalat

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalat adalah ibadah yang paling istimewa karena Allah memanggil Nabi ﷺ langsung ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah ini, berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui Jibril. Ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat di antara ibadah-ibadah lainnya.

2. Peran Nabi Musa sebagai penasihat

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa pertemuan Nabi ﷺ dengan Nabi Musa di langit keenam menunjukkan bahwa para nabi saling mencintai dan saling menasihati. Nabi Musa yang memiliki pengalaman dengan Bani Israil yang keras kepala, mengetahui bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan, sehingga beliau menyarankan untuk meminta keringanan.

3. Hikmah pengurangan dari 50 menjadi 5

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa penetapan 5 waktu dengan pahala 50 menunjukkan kemurahan Allah. Beliau menukil bahwa Allah tidak mengurangi pahala, tetapi meringankan jumlahnya. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

4. Makna "لا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ" (Kata-Ku tidak berubah)

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini berarti keputusan Allah telah final. Setelah melalui proses pengurangan, Allah menetapkan 5 waktu shalat yang pahalanya tetap dicatat sebagai 50 shalat. Ini adalah ketetapan yang tidak akan berubah.

5. Rasa malu Nabi ﷺ

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ berkata: "Aku merasa malu kepada Tuhanku" ketika Nabi Musa menyarankan untuk kembali lagi meminta keringanan. Ini menunjukkan adab Nabi ﷺ yang sangat tinggi kepada Allah. Beliau tidak mau terus-menerus meminta karena sudah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

6. Hikmah di balik perjalanan Isra' Mi'raj

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Adzim menjelaskan bahwa perjalanan Isra' Mi'raj terjadi untuk menguatkan hati Nabi ﷺ setelah beliau mengalami tahun kesedihan (wafatnya Khadijah dan Abu Thalib). Penetapan shalat di malam itu menjadi penghibur dan penguat bagi beliau.

Story Telling

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ketika aku diperjalankan oleh Allah pada malam Isra', aku melewati Musa yang sedang shalat di kuburnya. Kemudian aku diangkat ke langit, dan Jibril berkata: 'Ini adalah nabimu Musa, berilah salam kepadanya.' Maka aku memberi salam kepadanya, dan dia menjawab salam lalu berkata: 'Selamat datang saudaraku yang shalih dan nabi yang shalih.'"

Kemudian ketika Nabi ﷺ menerima perintah 50 shalat dan kembali melewati Musa, beliau berkata: "Apa yang diperintahkan kepadamu?" Nabi ﷺ menjawab: "Lima puluh shalat." Musa berkata: "Umatmu tidak akan mampu melaksanakan itu. Demi Allah, aku telah mencoba kepada Bani Israil sesuatu yang lebih ringan dari ini, namun mereka tetap tidak mampu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan."

Nabi ﷺ terus kembali memohon keringanan hingga Allah menetapkan 5 waktu. Ketika Musa menyarankan untuk meminta lagi, Nabi ﷺ menjawab: "Aku telah meminta kepada Tuhanku hingga aku merasa malu. Aku ridha dan pasrah." (HR. al-Bukhari no. 349, Muslim no. 162)

Hikmah dari kisah ini: Nabi Musa adalah sosok yang sangat penyayang kepada umat, dan beliau memberikan nasihat terbaik kepada Nabi Muhammad ﷺ. Namun Nabi ﷺ mengajarkan kita adab yang indah: merasa cukup dan ridha dengan ketetapan Allah, tidak terus-menerus meminta ketika Allah sudah memberikan kemudahan.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat lima waktu adalah ibadah yang sangat agung — ia difardhukan langsung oleh Allah kepada Nabi ﷺ tanpa perantara, menunjukkan kedudukannya yang istimewa.
  2. Allah Maha Pengasih — Allah meringankan dari 50 menjadi 5, namun pahala tetap dicatat 50. Ini adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.
  3. Jangan meremehkan shalat — karena shalat adalah tiang agama dan amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat.
  4. Meneladani adab Nabi ﷺ — merasa cukup dengan ketetapan Allah dan tidak berlebihan dalam meminta.
  5. Meneladani nasihat Nabi Musa — saling menasihati dalam kebaikan adalah akhlak para nabi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi