Bab Apa yang Diriwayatkan Tentang Shalat Dhuha
Shahih oleh Darussalam
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، قَالَ سَأَلْتُ فِي زَمَنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَالنَّاسُ مُتَوَافِرُونَ - أَوْ مُتَوَافُونَ - عَنْ صَلاَةِ الضُّحَى، فَلَمْ أَجِدْ أَحَدًا يُخْبِرُنِي أَنَّهُ صَلاَّهَا - يَعْنِي النَّبِيَّ ـ ﷺ ـ - غَيْرَ أُمِّ هَانِئٍ فَأَخْبَرَتْنِي أَنَّهُ صَلاَّهَا ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ .
Diriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Harith berkata: “Pada masa kekhalifahan ‘Utsman, ketika orang-orang berkumpul dalam jumlah besar, saya bertanya tentang shalat Dhuha, dan saya tidak menemukan seorang pun yang bisa memberitahu saya bahwa dia, maksudnya Nabi ﷺ, telah melaksanakannya, kecuali Umm Hani’. Dia memberitahukan kepada saya bahwa beliau telah melaksanakannya dengan delapan rakaat.”