Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1364 tentang Waktu paling utama shalat malam adalah pertengahan malam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa di antara waktu-waktu malam, yang paling utama dan paling dekat kepada Allah adalah pertengahan malam yang terakhir (جَوْفُ اللَّيْلِ الأَوْسَطُ), yaitu sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu yang sangat dianjurkan untuk shalat malam, berdoa, dan beribadah kepada Allah. Hadits ini juga memuat keterangan bahwa yang pertama masuk Islam bersama Nabi ﷺ adalah seorang merdeka (Abu Bakar) dan seorang hamba sahaya (Zaid bin Haritsah).

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Muzzammil [73]: 6

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

Catatan: Ayat yang lebih tepat terkait keutamaan malam adalah:

QS. Al-Isra' [17]: 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

QS. Al-Muzzammil [73]: 6

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Terjemahan: "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dan juga terdapat dalam Shahih Muslim dari jalur yang sama (Amru bin Abasah). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sepertiga malam terakhir untuk beribadah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa waktu paling utama untuk shalat malam adalah sepertiga malam terakhir.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ biasa bangun di sepertiga malam terakhir dan beliau menganjurkan umatnya untuk melakukan hal yang sama.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini berisi dua pertanyaan Amru bin Abasah kepada Nabi ﷺ:

  1. Pertanyaan pertama: "Siapa yang masuk Islam bersamamu?" Nabi ﷺ menjawab: "Seorang hamba dan seorang merdeka." Yang dimaksud adalah Abu Bakar ash-Shiddiq (seorang merdeka) dan Zaid bin Haritsah (seorang hamba sahaya yang kemudian dimerdekakan). Ini menunjukkan bahwa Islam sejak awal telah menghapus perbedaan status sosial — yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
  2. Pertanyaan kedua: "Apakah ada waktu di malam hari yang lebih dekat kepada Allah daripada waktu lainnya?" Nabi ﷺ menjawab: "Ya, pada pertengahan malam." Yang dimaksud adalah sepertiga malam terakhir atau pertengahan malam yang terakhir (جَوْفُ اللَّيْلِ الأَوْسَطُ).

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa "jauf al-lail al-ausath" berarti pertengahan malam yang terakhir, yaitu sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu ketika Allah turun ke langit dunia dan berfirman: "Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku ijabah; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni." (Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa waktu ini adalah waktu yang paling utama untuk shalat malam, berdoa, dan beristighfar. Beliau juga menyebutkan bahwa para salafus shalih sangat menjaga waktu ini.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ biasa bangun di sepertiga malam terakhir, bersiwak, berwudhu, lalu shalat malam. Beliau juga menyebutkan bahwa waktu ini adalah waktu yang paling dekat kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa bangun di malam hari untuk beribadah adalah salah satu ciri orang-orang saleh, dan waktu yang paling utama adalah sepertiga malam terakhir.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama memahami "jauf al-lail al-ausath" sebagai pertengahan malam secara umum (yaitu antara maghrib dan subuh dibagi dua, lalu diambil pertengahannya). Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibn Qayyim — adalah bahwa yang dimaksud adalah sepertiga malam terakhir, karena pada waktu itu Allah turun ke langit dunia dan mengijabah doa hamba-Nya.

Story Telling

Kisah Amru bin Abasah dan Keislamannya:

Amru bin Abasah adalah seorang sahabat yang masuk Islam pada masa awal dakwah Nabi ﷺ. Beliau menceritakan bahwa sebelum masuk Islam, beliau adalah seorang yang mencari kebenaran. Beliau pernah menyembah berhala, lalu bertanya kepada orang-orang tentang agama yang benar. Akhirnya beliau mendengar tentang seorang Nabi di Mekkah, lalu beliau datang menemui Nabi ﷺ dan bertanya tentang Islam.

Dalam hadits ini, Amru bin Abasah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang siapa yang masuk Islam bersama beliau. Nabi ﷺ menjawab: "Seorang hamba dan seorang merdeka." Ini menunjukkan bahwa Islam tidak membedakan status sosial. Abu Bakar adalah seorang bangsawan Quraisy yang merdeka, sedangkan Zaid bin Haritsah adalah seorang hamba sahaya. Keduanya sama-sama mulia di sisi Allah karena keimanan mereka.

Kemudian Amru bin Abasah bertanya tentang waktu yang paling dekat kepada Allah. Nabi ﷺ menjawab: "Pertengahan malam." Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kepada umatnya untuk memanfaatkan waktu malam untuk beribadah, karena pada waktu itu Allah lebih dekat kepada hamba-Nya yang berdoa.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang egaliter — tidak membedakan status sosial. Dan bahwa waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Manfaatkan sepertiga malam terakhir untuk shalat tahajud, berdoa, dan beristighfar, karena itu adalah waktu yang paling dekat kepada Allah.
  2. Jangan membedakan manusia berdasarkan status sosial — yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
  3. Teladani Nabi ﷺ yang biasa bangun di sepertiga malam terakhir untuk beribadah.
  4. Ajarkan kepada keluarga tentang keutamaan shalat malam, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya kepada para sahabat.
  5. Jaga konsistensi dalam beribadah di malam hari, meskipun hanya sedikit, karena yang penting adalah istiqamah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?