Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dan dicatat Imam Ibnu Majah, menceritakan ada seorang wanita cantik yang shalat di belakang Nabi ﷺ. Sebagian sahabat sengaja memilih shaf depan agar tidak melihatnya, sebagian sengaja mundur ke shaf belakang, lalu saat rukuk mereka menunduk untuk mengintip dari bawah ketiak. Ibnu Abbas menyebutkan turunnya QS. Al-Hijr [15]: 24 berkaitan dengan peristiwa ini. Inti pelajarannya: menjaga pandangan dan khusyu' dalam shalat adalah kewajiban, dan Allah mengetahui siapa yang maju atau mundur dalam shaf.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat yang disebutkan dalam hadits:
وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ
QS. Al-Hijr [15]: 24 — "Dan sungguh, Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu di antara kamu, dan sungguh, Kami telah mengetahui orang-orang yang datang kemudian."
Hadits: diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dicatat Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab ash-Shalah, Bab Khusyu' dalam Shalat (no. 1046). Perawi lain dalam sanad: Humaid bin Mas'adah, Abu Bakr bin Khallad, Nuh bin Qais, Amr bin Malik, Abu al-Jauza'.
Catatan ilmiah penting: Para ulama hadits dari daftar yang diizinkan — seperti Abu Hatim ar-Razi, Abu Zur'ah ar-Razi, dan Ibnu Hajar al-Asqalani — membahas sanad hadits ini. Amr bin Malik an-Nukri (perawi dalam sanad) dinilai bermasalah oleh sebagian ahli hadits. Karena itu, sebagian ulama menilai hadits ini lemah dari sisi sanad, meskipun maknanya didukung oleh ayat dan prinsip umum syariat tentang menjaga pandangan. Saya tidak menemukan penilaian tegas dari ulama dalam daftar yang menyatakan hadits ini shahih tanpa catatan, sehingga lebih aman menyebutkan bahwa sanadnya diperbincangkan dan maknanya tetap sejalan dengan dalil lain.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits. Ibnu Abbas menceritakan sebuah peristiwa di masa Nabi ﷺ: ada wanita yang shalat di belakang beliau, dan ia termasuk yang paling cantik. Sebagian sahabat memilih shaf depan supaya tidak melihatnya, sebagian memilih shaf belakang, lalu ketika rukuk mereka menunduk untuk mengintip dari bawah ketiak. Ibnu Abbas menyebut ayat Al-Hijr 24 turun berkenaan dengan peristiwa ini.
Bagaimana ulama memahami ayat. Qatadah dan Mujahid — keduanya dari tabi'in — menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan ilmu Allah yang sempurna atas semua manusia: yang terdahulu dan yang kemudian, yang maju dan yang mundur, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini menegaskan ilmu Allah atas seluruh makhluk, termasuk siapa yang maju ke shaf depan dan siapa yang mundur. As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah mengetahui keadaan hamba, niat, dan perbuatan mereka, sehingga hendaknya seorang hamba merasa diawasi.
Kaitan dengan khusyu' dan menjaga pandangan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Al-Adzkar menegaskan kewajiban menjaga pandangan dari yang haram, termasuk di dalam shalat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits-hadits tentang shaf dan larangan mengangkat pandangan ke langit dalam shalat, serta menegaskan bahwa khusyu' mencakup menundukkan pandangan dan hati. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang khusyu' menjelaskan bahwa khusyu' adalah ruh shalat, dan berpalingnya pandangan serta hati merusak kekhusyuan.
Perbedaan pendapat. Sebagian ulama menilai sanad hadits ini lemah karena keadaan Amr bin Malik an-Nukri. Namun maknanya — larangan mengintip dan kewajiban menjaga pandangan dalam shalat — didukung oleh dalil-dalil lain yang kuat, seperti perintah menundukkan pandangan (QS. An-Nur [24]: 30) dan hadits-hadits tentang adab dalam shalat. Yang paling kuat: maknanya benar dan sejalan dengan syariat, tetapi penisbatan sebab turunnya ayat secara pasti kepada peristiwa ini perlu kehati-hatian karena sanadnya diperbincangkan.
Story Telling
Dikisahkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — sebagaimana dalam riwayat ini — bahwa di masa Nabi ﷺ ada seorang wanita shalat di belakang beliau, dan ia termasuk yang paling cantik. Sebagian sahabat sengaja maju ke shaf depan agar tidak melihatnya, sebagian mundur ke shaf belakang, lalu saat rukuk mereka menunduk untuk mengintip dari bawah ketiak. Ibnu Abbas menyebutkan ayat Al-Hijr 24 turun berkenaan dengan peristiwa ini. Hikmahnya: syariat datang untuk mendidik hati dan pandangan, bukan sekadar gerakan lahir. Sumber: riwayat Ibnu Majah no. 1046; makna umum sejalan dengan penjelasan Ibnu Katsir dan As-Sa'di tentang ilmu Allah yang meliputi semua.
Kesimpulan Praktis
- Jagalah pandangan di dalam maupun di luar shalat; khusyu' mencakup hati dan mata.
- Pilihlah shaf dengan niat taat, bukan untuk mengintip atau mencari perhatian.
- Sadarilah Allah mengetahui yang maju dan yang mundur, yang tampak dan yang tersembunyi.
- Jika menemukan hadits yang sanadnya diperbincangkan, rujuklah kepada ulama terpercaya untuk memastikan derajatnya sebelum menyebarkannya.
- Perbanyak doa agar Allah menganugerahkan khusyu' dalam shalat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.