Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1022 tentang Larangan meludah ke arah kiblat saat shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab yang sangat penting ketika shalat: kita sedang berdiri menghadap Allah, maka jangan sekali-kali meludah ke arah kiblat (depan). Jika perlu meludah, hendaklah ke arah kiri atau ke dalam kain. Ini menunjukkan betapa Islam menjaga kehormatan ibadah dan kehormatan arah kiblat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah berfirman:

فَقَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ

QS. Al-Baqarah [2]: 144

Terjemahan: "Sungguh Kami melihat wajahmu menengadah ke langit, maka Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai. Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya."

Ayat ini menunjukkan bahwa kiblat adalah arah yang Allah sendiri perintahkan untuk dihadapkan — maka wajib dijaga kehormatannya.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Hadits semakna juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik, dengan lafaz yang beragam namun maknanya sama.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan meludah ke arah kiblat dalam shalat adalah karena kita sedang munajat (berbisik) kepada Allah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa meludah ke arah kiblat termasuk perbuatan buruk adab terhadap Allah.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menekankan pentingnya menjaga adab lahir dan batin dalam ibadah.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ melihat ludah (nukhamah — lendir yang keluar dari hidung atau mulut) di dinding arah kiblat masjid. Beliau pun menghadap para sahabat dan menegur dengan pertanyaan yang mengandung pelajaran: "Apa yang terjadi dengan salah seorang di antara kalian yang berdiri menghadap Tuhannya, lalu meludah di depan-Nya?"

Kemudian Nabi ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat mudah dipahami: "Apakah ada di antara kalian yang suka jika seseorang menghadap wajahnya lalu meludah di wajahnya?" Ini adalah cara Nabi ﷺ mengajarkan adab dengan gambaran yang menyentuh hati.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ketika seseorang shalat, ia sedang bermunajat kepada Allah. Karena itu, ia harus menjaga adab — tidak meludah ke depan (arah kiblat), tidak menoleh, dan tidak melakukan hal-hal yang mengurangi kekhusyukan. Beliau juga menyebutkan bahwa larangan ini berlaku baik di dalam shalat maupun di masjid secara umum.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hikmah larangan ini ada dua:

  1. Kehormatan kiblat — karena kiblat adalah arah yang Allah perintahkan untuk dihadapkan.
  2. Kehormatan masjid — karena masjid adalah rumah Allah yang harus dijaga kebersihannya.

Ibnu Rajab al-Hanbali menambahkan bahwa hadits ini mengajarkan prinsip ihsan (berbuat baik) dalam ibadah — yaitu merasa diawasi dan dihadapan Allah, sehingga segala gerak-gerik harus mencerminkan rasa hormat.

Solusi yang Nabi ﷺ berikan:

  1. Meludah ke arah kiri — karena arah kiri bukan arah yang dihormati, dan ini juga menghindari gangguan kepada orang di sebelah kanan.
  2. Meludah ke dalam kain — sebagaimana Nabi ﷺ menunjukkan caranya, yaitu meludah ke kain kemudian menggosoknya. Ini adalah solusi praktis jika seseorang berada di tempat yang tidak memungkinkan meludah ke kiri.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama sepakat tentang larangan meludah ke arah kiblat. Namun mereka berbeda pendapat tentang apakah larangan ini berlaku hanya di dalam shalat atau juga di luar shalat di dalam masjid. Jumhur ulama (mayoritas) — termasuk Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar — berpendapat bahwa larangan ini berlaku umum di dalam masjid, baik sedang shalat maupun tidak, karena kehormatan kiblat dan masjid tetap harus dijaga. Pendapat ini yang paling kuat berdasarkan keumuman hadits.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Abu Hurairah رضي الله عنه — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — menyampaikan hadits ini kepada para tabi'in. Di antara yang mendengarkan adalah Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, dua ulama besar tabi'in yang dikenal sangat menjaga adab dalam ibadah.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa salah satu tanda seseorang memahami hakikat shalat adalah ia menjaga adabnya di hadapan Allah, baik dalam gerakan, pandangan, maupun ucapan. Beliau sangat menekankan bahwa shalat bukan sekadar gerakan fisik, tetapi munajat kepada Rabb semesta alam.

Muhammad bin Sirin juga dikenal sangat berhati-hati dalam masalah adab masjid. Beliau pernah menegur seseorang yang meludah di dalam masjid dengan lembut, mengingatkan bahwa masjid adalah tempat yang harus dijaga kesuciannya.

Hikmahnya: para salaf tidak hanya menghafal hadits, tetapi mereka mengamalkannya dengan penuh kesadaran dan adab.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meludah ke arah kiblat — baik saat shalat maupun di dalam masjid, karena kita sedang menghadap Allah dan kiblat adalah arah yang dimuliakan.
  2. Jika perlu meludah saat shalat, meludahlah ke arah kiri atau ke dalam kain/saputangan.
  3. Jaga kebersihan masjid — masjid adalah rumah Allah, jangan kotori dengan ludah atau kotoran lainnya.
  4. Renungkan makna shalat — kita sedang berdiri di hadapan Allah, maka jagalah adab lahir dan batin.
  5. Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak dengan cara yang lembut, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan dengan pertanyaan dan perumpamaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?