Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar beramal saleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Amal di hari-hari itu lebih utama daripada amal di hari lain, bahkan lebih utama daripada jihad sunnah (yang tidak wajib), kecuali seseorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu semuanya habis/terkorban tanpa kembali membawa apa pun. Ini adalah dorongan untuk memperbanyak ibadah di hari-hari tersebut.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
- QS. Al-Fajr [89]: 2
وَاللَّيَالِي الْعَشْرِ
"Dan malam-malam yang sepuluh."
- QS. Al-Hajj [22]: 28
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
"Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan."
Hadits terkait:
- Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dalam Shahih Al-Bukhari no. 969, Kitab al-'Idain, bab keutamaan amal di hari-hari tasyriq. Perawi: Muhammad bin 'Ar'arah, dari Syu'bah, dari Sulaiman, dari Muslim al-Bathin, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ.
- Makna hadits juga dikuatkan oleh hadits lain dari Ibnu Abbas dalam Shahih Al-Bukhari tentang keutamaan hari-hari sepuluh Dzulhijjah, dan oleh riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah tentang keutamaan puasa Arafah dan amal di hari-hari tersebut. At-Tirmidzi menyebut hadits Ibnu Abbas ini hasan shahih.
Kaitan dengan ulama dan kitab:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan hadits ini pada Kitab al-'Idain, dan menyebut bahwa yang dimaksud "hari-hari ini" adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
- Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan keutamaan hari-hari sepuluh Dzulhijjah dan bahwa amal di dalamnya berlipat keutamaannya.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif membahas keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah dan amal-amal yang dianjurkan.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna "al-layali al-'asyr" pada QS. Al-Fajr [89]: 2 sebagai sepuluh malam Dzulhijjah menurut pendapat yang kuat, dan menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan lainnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan bahwa amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki keutamaan yang sangat besar. Nabi ﷺ menyatakan bahwa tidak ada amal di hari lain yang lebih utama daripada amal di hari-hari tersebut. Para sahabat bertanya apakah jihad juga tidak lebih utama, dan Nabi ﷺ menjawab bahwa jihad pun tidak lebih utama, kecuali jihad seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali membawa apa pun, yaitu yang berjihad dengan sepenuh jiwa dan hartanya hingga gugur atau hartanya habis di jalan Allah.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa keutamaan ini mencakup semua amal saleh, termasuk shalat, puasa, sedekah, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Beliau juga menyebut bahwa sebagian ulama memahami keutamaan ini khusus untuk amal yang dilakukan pada siang hari, dan bahwa hari-hari tersebut termasuk hari-hari yang dianjurkan untuk memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil.
Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil keutamaan amal di sepuluh hari Dzulhijjah, dan bahwa amal di dalamnya lebih utama daripada amal di hari-hari lain, termasuk hari-hari Ramadan, kecuali jika ada dalil khusus yang menunjukkan keutamaan hari tertentu. Beliau juga menyebut bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa keutamaan ini berlaku untuk semua amal, sedangkan sebagian lain mengkhususkan pada amal-amal tertentu seperti puasa, sedekah, dan dzikir.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa sepuluh hari Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling utama untuk beramal, dan bahwa amal di dalamnya lebih utama daripada amal di hari-hari lain. Beliau juga menyebutkan bahwa hari Arafah adalah hari yang paling utama di antara hari-hari tersebut, dan bahwa puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "al-layali al-'asyr" adalah sepuluh malam Dzulhijjah, dan beliau menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan lainnya yang menafsirkannya demikian. Beliau juga menyebutkan bahwa amal di hari-hari tersebut memiliki keutamaan yang besar.
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar, sebagian ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa keutamaan ini mencakup semua amal saleh, sedangkan sebagian lain membatasi pada amal-amal tertentu. Namun yang paling kuat adalah pendapat yang mencakup semua amal saleh, karena hadits ini menggunakan kata "al-'amal" yang bersifat umum, dan karena Nabi ﷺ tidak membatasi jenis amal tertentu.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling bersemangat dalam beribadah pada sepuluh hari Dzulhijjah. Beliau dikenal banyak berpuasa, bersedekah, dan memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Dalam sebuah riwayat, beliau mengatakan bahwa sepuluh hari Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling utama untuk beramal, dan beliau sendiri mengamalkan hal itu dengan memperbanyak ibadah. Kisah ini disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang amalan salaf pada hari-hari tersebut, dan menjadi teladan bagi kita untuk bersemangat beribadah pada hari-hari itu.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah: puasa (terutama hari Arafah), sedekah, dzikir (takbir, tahmid, tahlil), membaca Al-Qur'an, dan shalat.
- Ketahui bahwa keutamaan amal di hari-hari ini sangat besar, bahkan melebihi jihad sunnah, kecuali jihad yang menghabiskan jiwa dan harta.
- Ikuti pemahaman para ulama Ahlus Sunnah dalam memahami hadits ini, dan jangan berlebihan (ghuluw) dalam beribadah.
- Manfaatkan waktu sebaik mungkin, karena hari-hari tersebut adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.