Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 935 tentang Bab Waktu yang Ada di Hari Jumat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa di hari Jumat terdapat satu waktu mustajab (satu jam) di mana doa seorang Muslim yang memohon kepada Allah akan dikabulkan. Waktu ini sangat singkat, sebagaimana isyarat tangan Nabi ﷺ yang menunjukkan sedikitnya waktu tersebut. Para ulama berbeda pendapat tentang kapan tepatnya waktu ini, namun pendapat yang paling kuat adalah di akhir waktu Ashar hingga terbenamnya matahari.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 10)

Hadits terkait:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jumat, Bab Waktu yang Ada di Hari Jumat, no. 935. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, no. 852.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (2/416) menjelaskan panjang lebar tentang perbedaan pendapat ulama mengenai waktu mustajab ini. Beliau menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 40 pendapat, namun yang paling masyhur ada dua:

  1. Waktu antara duduknya khatib di mimbar hingga selesai shalat Jumat.
  2. Waktu setelah shalat Ashar hingga terbenam matahari.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan salah satu kabar gembira bagi umat Islam tentang keistimewaan hari Jumat. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di hari yang mulia ini terdapat satu waktu yang sangat istimewa, di mana doa seorang Muslim tidak akan ditolak oleh Allah.

Makna "لا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ" (tidaklah seorang hamba Muslim mendapatinya):

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (6/140) menjelaskan bahwa kata "يُوَافِقُهَا" (mendapatinya) memiliki makna yang dalam. Ini bukan sekadar "bertepatan" secara kebetulan, tetapi mengandung makna kesungguhan dalam berdoa, kekhusyukan hati, dan keyakinan penuh bahwa Allah akan mengabulkan. Seorang Muslim yang benar-benar hadir dengan hati dan jiwanya, merendahkan diri di hadapan Allah, dan memohon dengan penuh harap.

Makna "وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي" (sedang ia berdiri shalat):

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (6/140) menjelaskan bahwa kata "يُصَلِّي" di sini bermakna "sedang berdoa", karena shalat pada hakikatnya adalah doa. Namun, mayoritas ulama memahami bahwa yang dimaksud adalah shalat secara umum, baik shalat fardhu maupun sunnah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa (24/348) menegaskan bahwa waktu ini bisa didapatkan oleh orang yang sedang shalat atau orang yang sedang berdoa di luar shalat.

Isyarat Tangan Nabi ﷺ:

Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengisyaratkan dengan tangannya bahwa waktu itu sangat singkat. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa isyarat ini menunjukkan betapa cepatnya waktu tersebut berlalu, seperti sekejap mata atau lebih singkat lagi. Ini menjadi motivasi bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa dan tidak menyia-nyiakan waktu yang berharga ini.

Pendapat Ulama tentang Waktu Tersebut:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (2/416) menyebutkan bahwa pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa waktu tersebut adalah setelah shalat Ashar hingga terbenam matahari. Pendapat ini didukung oleh hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i dari Jabir bin Abdillah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Hari Jumat itu dua belas jam. Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang Muslim memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan memberikannya. Maka carilah waktu itu di akhir waktu Ashar."

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (4/234) menegaskan bahwa pendapat inilah yang paling kuat, karena didukung oleh banyak dalil dan juga praktik para salaf. Beliau menganjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir di waktu tersebut.

Story Telling

Diriwayatkan dari Sa'id bin al-Musayyib, seorang ulama besar tabi'in, bahwa beliau sangat menjaga waktu ini. Beliau akan duduk di masjid setelah shalat Ashar pada hari Jumat, menghadap kiblat, dan tidak berbicara dengan siapa pun. Beliau hanya berdzikir dan berdoa kepada Allah hingga matahari terbenam. Beliau berkata, "Ini adalah waktu yang paling aku harapkan doaku dikabulkan."

Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat bersemangat dalam mencari waktu mustajab ini. Mereka meninggalkan segala kesibukan dunia dan fokus beribadah kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa di hari Jumat ada waktu mustajab. Jangan pernah meragukan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ ini.
  2. Carilah waktu tersebut, terutama di akhir waktu Ashar. Perbanyaklah duduk di masjid, berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan berdoa.
  3. Bersungguh-sungguhlah dalam berdoa. Hadirkan hati, khusyuk, dan yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan doa kita.
  4. Jangan menyia-nyiakan hari Jumat. Perbanyaklah amal shalih, shalat sunnah, dan sedekah.
  5. Doakanlah kebaikan dunia dan akhirat. Jangan hanya meminta urusan dunia, tetapi mintalah juga hidayah, ampunan, dan surga.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.