Penjelasan Hadits Bukhari No. 93 tentang Adab bertanya kepada ulama dengan sopan dan tawadhu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita adab yang sangat agung dalam menuntut ilmu dan bermajelis dengan Nabi ﷺ. Ketika Nabi ﷺ mempersilakan para sahabat bertanya apa saja, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu justru memilih untuk berlutut dan menyatakan keridhaannya kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi. Sikap Umar ini adalah bentuk adab yang sempurna, yaitu tidak memanfaatkan kesempatan untuk bertanya hal-hal yang tidak bermanfaat, tetapi justru menenangkan suasana dan mengembalikan fokus kepada perkara pokok keimanan. Sikap ini juga menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu haruslah memiliki adab yang tinggi kepada gurunya, tidak memaksakan pertanyaan yang bisa menyulitkan, dan lebih mengutamakan sikap ridha dan pasrah kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Ilm, Bab "Siapa yang Berlutut di Hadapan Imam atau Perawi Hadits", no. 93. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fada'il, no. 2359.

Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang sikap ridha dan tidak memaksakan diri dalam bertanya:

QS. Al-Ma'idah [5]: 101

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkanmu."

Ayat ini menjadi dasar bagi para ulama tentang larangan bertanya hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang bisa memberatkan. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai bimbingan kepada para sahabat agar tidak bertanya hal-hal yang tidak perlu, karena bisa jadi jawabannya akan memberatkan mereka.

Hadits lain yang relevan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

"Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." (HR. At-Tirmidzi no. 2317, dan Imam An-Nawawi mencantumkannya dalam Al-Arba'in no. 12)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Tentang Pertanyaan Abdullah bin Hudhafa

Abdullah bin Hudhafa radhiyallahu 'anhu bertanya, "Siapa ayahku?" Ini adalah pertanyaan yang aneh, karena setiap orang pasti tahu siapa ayahnya. Namun, sebagian ulama menjelaskan bahwa mungkin saja saat itu ada orang yang meragukan nasabnya, atau ini adalah bentuk pengakuan bahwa ia adalah anak sah dari Hudhafa. Yang jelas, Nabi ﷺ menjawab dengan tegas, "Ayahmu adalah Hudhafa."

2. Tentang Sikap Nabi ﷺ yang Meminta Mereka Bertanya

Setelah itu, Nabi ﷺ dalam keadaan marah atau tegas berkata, "Bertanyalah kepadaku!" Beliau mengulanginya beberapa kali. Ini adalah ujian bagi para sahabat. Apakah mereka akan memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya hal-hal yang aneh dan tidak bermanfaat, ataukah mereka akan bersikap bijak?

3. Sikap Umar yang Berlutut

Di sinilah letak keindahan adab Umar. Beliau tidak bertanya hal-hal yang aneh. Beliau justru berlutut di hadapan Nabi ﷺ dan berkata, "Kami ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi." Beliau mengulanginya tiga kali.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa sikap Umar ini adalah bentuk adab yang paling sempurna. Umar tidak ingin membebani Nabi ﷺ dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu. Beliau justru menenangkan suasana dan mengembalikan fokus kepada perkara pokok, yaitu keridhaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

4. Mengapa Umar Berlutut?

Berlutut di hadapan guru adalah bentuk penghormatan dan ketawadhu'an. Ini bukanlah sujud atau perbuatan syirik, melainkan sekadar posisi duduk untuk menunjukkan keseriusan dan adab. Imam Al-Bukhari sendiri menjadikan hadits ini sebagai bab "Siapa yang Berlutut di Hadapan Imam atau Perawi Hadits", menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari adab menuntut ilmu yang diajarkan oleh para sahabat.

5. Pelajaran tentang Adab Bertanya

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan agar seorang penuntut ilmu tidak bertanya hal-hal yang tidak bermanfaat. Bertanyalah tentang hal-hal yang dibutuhkan dalam agama dan kehidupan, bukan pertanyaan yang aneh-aneh atau yang bisa memberatkan.

6. Tentang Sikap Ridha

Umar mengulang kalimat ridhanya tiga kali. Ini menunjukkan pentingnya meneguhkan hati dengan keridhaan kepada Allah, Islam, dan Nabi Muhammad ﷺ. Imam As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa keridhaan ini adalah inti dari keimanan. Siapa yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, maka ia akan menerima segala ketentuan-Nya. Siapa yang ridha kepada Islam sebagai agama, maka ia akan berpegang teguh dengannya. Dan siapa yang ridha kepada Muhammad ﷺ sebagai Nabi, maka ia akan mengikuti sunnahnya.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang adab Umar bin Khattab dalam menuntut ilmu. Suatu hari, Umar pernah berkata, "Kami adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Jika kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kami."

Ini menunjukkan bahwa Umar sangat memahami hakikat kemuliaan. Kemuliaan bukan terletak pada banyaknya pertanyaan atau kepintaran berdebat, tetapi pada ketundukan dan keridhaan kepada Allah.

Dalam hadits ini, Umar tidak bertanya apa pun. Beliau justru memilih untuk menyatakan keridhaannya. Ini adalah pelajaran bahwa terkadang diam dan ridha lebih baik daripada banyak bertanya. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, "Ilmu itu adalah ketenangan dan kelembutan, bukan kegaduhan dan kebisingan."

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga adab dalam bertanya — Jangan bertanya hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang bisa memberatkan guru atau ulama.
  2. Utamakan keridhaan — Sebelum bertanya, tanamkan dalam hati keridhaan kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Nabi ﷺ sebagai teladan.
  3. Bersikap tenang dan tawadhu' — Dalam majelis ilmu, bersikaplah tenang dan hormat kepada guru, sebagaimana Umar berlutut dengan penuh adab.
  4. Fokus pada perkara pokok — Jangan sibuk dengan hal-hal yang remeh dan tidak penting, tetapi fokuslah pada perkara yang memperbaiki iman dan amal.
  5. Jadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah — Bukan untuk pamer atau berdebat, tetapi untuk meningkatkan ketakwaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?